Mata Uang Rupiah Terangkat Menutup Hari Saat IHSG Merosot Lemah Lagi

Mata Uang Rupiah Terangkat Menutup (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Jumat, 07 Agustus 2026 | 14:30:31 WIB

JAKARTA - Nilai tukar rupiah merangkak naik terhadap dolar AS di akhir sesi perdagangan Kamis (6/8), sewaktu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup tertekan.

Rupiah menanjak 10 poin atau 0,06% ke angka Rp17.923 per dolar AS, sedangkan IHSG terkikis 7,43 poin atau 0,12% ke posisi 6.343.

"Namun, para pedagang tetap berhati-hati karena kesepakatan tersebut belum berarti pembukaan kembali selat secara penuh; negosiasi mengenai biaya kargo, inspeksi, dan pengaturan keamanan yang lebih luas masih belum terselesaikan," kata Analis Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam risetnya.

Ibrahim menyampaikan salah satu sentimen mancanegara yang berdampak pada pasar datang dari laporan Iran dan Oman yang diklaim telah menyepakati koordinat usul rute pelayaran lewat Selat Hormuz.

Jalur kunci itu menangani kurang lebih seperlima perdagangan minyak serta gas alam cair (LNG) internasional.

Peluang naiknya lalu lintas kapal tanker melewati Selat Hormuz meredakan sebagian kecemasan terhadap gangguan pasokan energi berkepanjangan yang mulanya memicu lonjakan harga minyak.

Penurunan harga energi kelak mendorong investor memangkas ekspektasi terhadap pengetatan kebijakan moneter lanjutan dari Federal Reserve Amerika Serikat.

Pemain pasar turut mengamati data pasar kerja AS demi memperoleh petunjuk terkait arah kebijakan Federal Reserve.

Data ADP National Employment memperlihatkan perlambatan perekrutan sektor swasta pada Juli, sementara laporan nonfarm payrolls menjadi perhatian selanjutnya.

Dari internal negara, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 tercatat 5,29% secara tahunan, agak melambat dibanding 5,61% pada triwulan I, tetapi tetap melewati perkiraan pasar.

Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi pada semester I 2026 menyentuh 5,45%.

Ibrahim meramalkan rupiah akan bergerak bervariasi pada sesi perdagangan berikutnya dan berpeluang melemah di rentang Rp17.920-Rp17.970 per dolar AS.

Di pasar saham, sejumlah 278 saham menguat, 354 saham tergelincir, dan 331 saham stagnan.

Nilai transaksi mencapai Rp18,1 triliun dengan volume 53,4 miliar saham, sewaktu jajaran indeks utama ikut terkoreksi, yakni LQ45 sebesar 0,49%, JII 0,49%, IDX30 0,46%, serta MNC36 0,39%.

Sektor yang berada di zona merah meliputi konsumer non-siklikal, keuangan, infrastruktur, properti, teknologi, dan kesehatan.

Sebaliknya, sektor energi, konsumer siklikal, transportasi, serta industri menguat.

Adapun saham dengan kenaikan paling tinggi antara lain TMPO, PDES, dan FAST, sedangkan TALF, BACH, dan ROCK menjadi saham dengan penurunan terparah.

Reporter: Moch Febrianto