Harga Minyak Terperosok, Nilai Tukar Rupiah Naik Ke Posisi Rp17.997 Per US$

Nilai Tukar Rupiah Naik Ke Posisi Rp17.997 (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Selasa, 04 Agustus 2026 | 11:22:50 WIB

JAKARTA - Posisi kurs rupiah berakhir menguat di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan transaksi Senin (3/8), didorong oleh melandainya tensi geopolitik Timur Tengah yang memicu penurunan harga minyak global.

Meskipun demikian, para pemain pasar tetap bertindak stood-still menjelang rilis beragam data ketenagakerjaan AS yang bakal menjadi indikator arah kebijakan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed).

"Presiden Trump sebelumnya menyatakan telah membatalkan rencana serangan militer besar-besaran AS terhadap Iran setelah Teheran dan beberapa negara Timur Tengah meminta waktu untuk melakukan negosiasi. Pembicaraan akan dimulai pada hari Senin untuk membuka kembali Selat Hormuz serta memastikan Iran meninggalkan ambisi nuklirnya," kata Pakar Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, Senin (3/8/2026).

Sesuai dengan data akhir penutupan pasar, rupiah terkerek 25 poin atau kisaran 0,14% menuju level Rp17.997 per dolar AS.

Menurut dari Sumbernya, pernyataan itu memicu jatuhnya harga minyak hingga melampaui USD5 per barel di sesi awal perdagangan Asia sehingga mengikis kecemasan pasar atas tersumbatnya suplai energi dunia dan ancaman inflasi yang dapat memicu pengetatan moneter lanjutan.

Pada sudut lain, atensi para pelaku investasi terus terarah pada proyeksi kebijakan moneter The Fed.

Pasar tetap memantau pernyataan para pejabat bank sentral AS yang menegaskan kembali bahwasanya inflasi masih berada di tingkatan tinggi sehingga penaikan suku bunga dianggap masih relevan demi menjaga efektivitas penanganan inflasi.

Di samping itu, investor menanti gelombang rilis data pasar tenaga kerja AS sepanjang pekan ini, berawal dari data lowongan kerja JOLTS, rilis tenaga kerja swasta ADP, klaim tunjangan pengangguran mingguan, hingga indikator nonfarm payrolls pada Jumat nanti.

Kumpulan data itu diprediksi akan menjadi patokan vital dalam menentukan proyeksi suku bunga The Fed ke depan.

Dari ranah domestik, dorongan positif bersumber dari industri manufaktur yang kembali masuk ke fase ekspansi.

Berdasarkan laporan S&P Global, PMI Manufaktur Indonesia naik menuju level 50,2 pada Juli 2026 dari posisi 46,9 pada Juni, mengindikasikan aktivitas manufaktur kembali bertumbuh setelah sempat mengalami penurunan aktivitas selama empat bulan.

Namun begitu, pemulihan sektor riil dinilai masih berjalan secara bertahap.

S&P Global menggarisbawahi kenaikan harga bahan baku, melesunya pasar ekspor, serta kecenderungan ragu para pengusaha dalam belanja bahan baku masih menjadi tantangan utama bagi laju ekspansi manufaktur.

Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,14% secara bulanan pada Juli 2026 dengan tingkat inflasi tahunan berada pada angka 2,88% serta inflasi tahun kalender 1,65%.

Dari Sumbernya memperkirakan pergerakan rupiah pada sesi berikutnya bakal melaju bervariasi dan berpotensi berada di rentang Rp17.990 hingga Rp18.040 per dolar AS.

Reporter: Moch Febrianto