Nilai Tukar Rupiah Menguat Berkat Tekanan Dolar AS Dan Aksi Intervensi

Nilai Tukar Rupiah Menguat (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Selasa, 04 Agustus 2026 | 11:22:49 WIB

JAKARTA - Dinamika nilai tukar rupiah mengakhiri sesi transaksi awal pekan dengan hasil yang melegakan.

Mata uang Garuda sukses memperpanjang penguatannya selama dua hari berturut-turut di kawasan hijau, memanfaatkan tekanan yang sedang melanda dolar Amerika Serikat (AS) setelah tindakan intervensi bersama Washington dan Tokyo di pasar valuta asing.

Berdasarkan informasi dari Sumbernya pada penutupan Senin (3/8/2026), mata uang rupiah ditutup menguat 0,06 persen ke level Rp17.980 per US$.

Walaupun penguatannya terkesan menipis bila dibandingkan posisi pembukaan pagi yang sempat melonjak 0,22 persen ke level Rp17.950, rupiah terbukti sanggup menjaga diri dari tekanan dolar AS.

Selama jam transaksi hari ini, pergerakan rupiah berada pada rentang Rp17.950 hingga Rp17.995 per US$.

Meski sempat bergerak mendekati ambang psikologis krusial Rp18.000, daya tahan rupiah cukup tangguh untuk mengamankan posisi di zone hijau.

Performa ini melanjutkan tren positif pada Jumat (31/7/2026) lalu, saat rupiah menguat 0,47 persen pada posisi Rp17.990 per US$.

Faktor penopang utama keperkasaan mata uang kawasan hari ini berasal dari luar negeri.

Indeks dolar AS (DXY) --yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia-- tercatat turun 0,12 persen ke angka 99,793 pada pukul 15.00 WIB.

Terkoreksinya indeks dolar AS ke bawah level psikologis 100 bukan tanpa pemicu.

Sentimen pasar mendadak berubah setelah otoritas moneter Jepang dan AS mengambil langkah tegas dengan melakukan intervensi bersama di pasar valas demi memperkuat nilai tukar yen.

Langkah intervensi bersama tersebut memicu penguatan yen sekaligus merontokkan indeks dolar AS hingga terkoreksi lebih dari 1,5 persen sepanjang minggu lalu.

Peluang inilah yang dimanfaatkan kurs rupiah untuk terus bertahan melaju di zona positif.

Dari dalam negeri, fokus para pelaku pasar saat ini tertuju pada rilis data makroekonomi terbaru dari Sumbernya.

dari Sumbernya mencatatkan Indeks Harga Konsumen (IHK) periode Juli 2026 mengalami deflasi sebesar 0,14 persen secara bulanan (month-to-month).

Angka ini berbalik arah dari kondisi Juni yang sempat mengalami inflasi 0,44 persen.

Secara tahunan (year-on-year), laju inflasi domestik juga kian melandai ke angka 2,88 persen di bulan Juli, membaik dari 3,34 persen pada bulan sebelumnya.

Realisasi ini tercatat lebih dingin dibanding estimasi konsensus pasar yang memproyeksikan inflasi bulanan sebesar 0,11 persen dan inflasi tahunan 3,2 persen.

Sayangnya, laju apresiasi mata uang rupiah tidak dapat melaju lebih kencang.

Sebab, beban datang dari faktor luar negeri di mana posisi neraca perdagangan Indonesia dilaporkan masih berada di zona defisit.

Padahal, kinerja ekspor bulan Juni lalu sempat tumbuh meyakinkan 8,8 persen secara tahunan, membalikkan penurunan 5,73 persen pada Mei.

Kenaikan nilai ekspor yang belum sanggup mengikis defisit neraca dagang menjadi faktor penahan yang membatasi ruang penguatan rupiah pada perdagangan hari ini.

Kombinasi penurunan inflasi dan masih lebarnya defisit perdagangan saat ini menjadi bahan pertimbangan rumit bagi Bank Indonesia (BI).

Arah kebijakan moneter BI ke depan dipastikan sangat bergantung pada sejauh mana stabilitas rupiah dapat dipelihara di tengah gejolak global.

Para pengambil kebijakan di bank sentral diprediksi tidak akan tergesa-gesa.

Bank Indonesia bakal tetap memperhatikan secara cermat dinamika pasokan devisa, pergerakan arus modal asing (capital flow), serta arah suku bunga global sebelum menetapkan besaran suku bunga acuan (BI-Rate) mendatang.

Bagi para pelaku pasar, bertahannya rupiah di bawah level Rp18.000 per US$ menjadi sinyal positif jangka pendek, walaupun kewaspadaan terhadap tantangan neraca dagang tetap perlu dijaga tinggi.

Reporter: Moch Febrianto