Rupiah Menguat Ke Rp 17.997 Per Dolar AS Pada Perdagangan Agustus 2026
JAKARTA - Posisi mata uang terangkat pada permulaan bulan Agustus. Pada Senin (3/8), pergerakan rupiah di pasar spot menanjak Rp 25 alias 0,14% ke posisi Rp 17.997 per dolar Amerika Serikat (AS).
Angka kurs rupiah Jisdor terangkat sebanyak Rp 67 atau 0,37% menjadi Rp 17.991 per dolar AS.
Laporan kondisi ekonomi rilisan dari Sumbernya menandakan bahwa pergerakan inflasi Juli 2026 tampak kian mereda.
Kondisi ini berdampak pada perlunya tingkat suku bunga tinggi yang kian melunak.
Banderol bahan pokok yang makin murah mendasari terjadinya deflasi secara bulanan.
Sedangkan perolehan neraca perdagangan kembali mencatatkan posisi defisit.
Nilai defisit neraca perdagangan untuk Juni berkurang menjadi US$ 450 juta dibandingkan bulan lalu yang menyentuh angka US$ 1,61 miliar.
Berita menggembirakan lainnya, Pelaksana Tugas Gubernur dari Sumbernya Destry Damayanti menyampaikan jika pihak perbankan sentral masih menargetkan laju inflasi tahun ini berkisar pada rentang 1,5%-3,5%.
Laju rupiah bergerak positif searah dengan deretan mata uang di wilayah Asia.
Nilai Won Korea mengalami kenaikan 0,84%.
Nilai Peso Filipina terangkat sebesar 0,54%.
Nilai Yen Jepang mengalami apresiasi sebesar 0,36%.
Nilai Baht Thailand mengalami peningkatan 0,27%.
Nilai Rupee India merambat naik sebesar 0,06%.
Nilai Dolar Singapura merangkak naik sebesar 0,05%.
Sebagian mata uang kawasan Asia malah mengalami penurunan terhadap dolar AS.
Nilai Dolar Taiwan mengalami penurunan 0,49%.
Nilai Ringgit Malaysia melemah sebesar 0,24%.
Nilai Yuan China berkurang tipis sebesar 0,03%.
Nilai Dolar Hong Kong tergelincir sebesar 0,004%.
Tolok ukur indeks dolar yang menggambarkan posisi dolar AS atas mata uang utama dunia melorot 0,11% ke level 99,80.
Angka indeks dolar konsisten tertahan di bawah kisaran 100 selama tiga hari masa perdagangan terakhir.
Nilai jual obligasi pemerintah AS terkikis di bulan Juli yang kemudian memicu yield ke angka tertinggi dibanding rentang awal 2025.
Koreksi harga beserta kenaikan yield tersebut berlangsung lantaran dorongan prediksi peninggian suku bunga oleh The Fed.