Prediksi Harga Emas Minggu Ini Waspada Penurunan Hingga Bawah $4000!!

Prediksi Harga Emas Minggu (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Senin, 03 Agustus 2026 | 11:00:30 WIB

JAKARTA - Mendekati awal bulan Agustus, laju harga emas dunia kembali berada dalam tekanan dan kian mendekati level psikologis US$4.000 per troy ons.

Penguatan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) bersamaan meningkatnya ekspektasi suku bunga tinggi The Fed menjadi pemicu utama yang memberatkan pergerakan logam mulia.

Berdasarkan data Refinitiv, harga emas pada sesi perdagangan Senin (3/8/2026) pukul 07.01 WIB berada pada angka US$ 4075,17 per troy ons.

Nilaikannya melambung 0,85%.

Melonjaknya harga ini menjadi angin segar setelah nilai emas terperosok 1,5% pada sesi perdagangan penutup pekan lalu, Jumat (31/7/2026).

Nilai emas menanjak 0,69% pada pekan lalu.

Selama Juli 2026, nilai emas menanjak 0,84% sekaligus menghentikan tren penurunan selama empat bulan berturut-turut sebelumnya.

Secara teknikal, pergerakan harga emas dalam tren jangka pendek masih cenderung bearish pasca gagal mempertahankan posisinya di atas kisaran US$4.100.

Hambatan terhadap emas muncul seiring menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) beserta imbal hasil US Treasury.

Kondisi pasar juga terpengaruh oleh memanasnya ketegangan AS-Iran usai Washington melakukan serangan balasan ke Iran sebagai respons atas serangan terhadap pasukan AS di Yordania.

Eskalasi ketegangan geopolitik yang meningkat biasanya menyokong instrumen safe haven.

Namun kali ini, para pemodal justru lebih gencar memburu dolar AS daripada emas sehingga logam mulia kehilangan pendorong penguatannya.

Mengenai arah kebijakan moneter, para pelaku pasar masih memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Fed yang belum sepenuhnya tertutup.

Meskipun Ketua The Fed Kevin Warsh belum memberikan petunjuk tegas mengenai pengetatan lanjutan, kokohnya perekonomian AS membuat pemodal tetap waspada.

Pengamat dari Sumbernya menilai dolar AS masih mempunyai ruang penguatan berkat landasan ekonomi Negeri Paman Sam yang tergolong solid serta selisih suku bunga yang tetap memikat dibanding negara lainnya.

"HSBC menyatakan masih mempertahankan pandangan netral terhadap durasi investasi dan lebih memilih obligasi berkualitas tinggi berperingkat investment grade guna memperoleh imbal hasil (yield) dan pendapatan kupon yang menarik," tulis dari Sumbernya dikutip dari FXStreet.com.

Secara teknikal, batas US$4.000 menjadi support psikologis yang amat vital.

Apabila angka tersebut terlampaui, gelombang aksi jual berpotensi kian deras.

Sementara itu, titik resistance terdekat berada pada kisaran US$4.185.

Masa mendatang, arah dinamika emas akan sangat ditentukan oleh perkembangan konflik Timur Tengah dan ekspektasi pemodal atas kebijakan The Fed.

Jikalau bank sentral mulai membuka peluang pelonggaran moneter atau mata uang dolar kembali melorot, harga emas berpeluang memperoleh dorongan untuk bangkit kembali.

Melorotnya indeks dolar AS (DXY) dari puncak tertinggi sebelumnya semestinya menjadi sentimen positif bagi emas.

Akan tetapi, variabel lain seperti tingginya imbal hasil riil (real yield), ekspektasi suku bunga The Fed, hingga posisi para pemodal di pasar berjangka masih menahan laju kenaikan emas.

Keluaran data terkini Commodity Futures Trading Commission (CFTC) memperlihatkan posisi beli bersih (net long) spekulan pada emas menyusut.

Artinya, banyak hedge fund serta manajer investasi memilih memangkas porsi kepemilikan sembari menanti petunjuk pasar yang lebih pasti.

Pengamat dari Sumbernya, Geraldo Kofit, memaparkan kegagalan emas bertahan di atas batas US$4.120 menjadi petunjuk bahwa daya beli mulai surut.

Terbentuknya pola swing high pada grafik jangka pendek turut menandakan dominasi para pelaku pasar yang melakukan tindakan jual.

Walau demikian, pandangan jangka menengah emas tetap dinilai positif.

Permintaan instrumen safe haven tetap kokoh di tengah ketidakpastian geopolitik, mulai dari perselisihan Timur Tengah hingga pertempuran Rusia-Ukraina.

Secara keseluruhan, dari Sumbernya memprediksikan emas masih rawan terkoreksi menuju US$4.026 selama belum sanggup melampaui kembali resistance US$4.120, walau tren jangka menengah tetap ditopang sentimen safe haven dan prospek pelonggaran moneter mendatang.

"Dalam proyeksi teknikal Dupoin Futures, target pelemahan terdekat berada di area support 4.026. Level tersebut dipandang sebagai zona penting yang akan menentukan arah pergerakan emas (XAU/USD) selanjutnya," tulis dari Sumbernya dalam email.

Apabila tekanan jual sanggup mendorong harga melampaui support tersebut, bukan tidak mungkin koreksi berlanjut ke rentang yang lebih rendah.

Sebaliknya, jikalau batas 4.026 mampu bertahan serta menghadirkan respons beli yang kuat, kans rebound teknikal dapat kembali terbuka.

Berdasarkan data Refinitiv, harga perak pada sesi perdagangan Senin (3/8/2026) pukul 07.01 WIB berada pada angka US$ 58,28 per troy ons.

Nilaikannya melambung 1,12%.

Melonjaknya harga ini menjadi angin segar setelah nilai perak terperosok 2,3% pada sesi perdagangan penutup pekan lalu, Jumat (31/7/2026).

Reporter: Moch Febrianto