Praktisi Menilai Kepercayaan Investor Kunci Utama Penguatan Rupiah RI!
JAKARTA - Keyakinan pemodal dinilai menjadi elemen primer guna memicu penguatan mata uang rupiah di tengah himpitan perekonomian dunia.
Pemerintah turut didorong mempertahankan konsistensi regulasi serta memperkokoh kredibilitas fiskal supaya aliran modal kembali mengalir masuk dan menopang stabilitas pasar keuangan.
Pernyataan tersebut diutarakan praktisi perpajakan sekaligus Head of Tax Researcher and Advisory Inatax Consulting Adhitya Gema Pratama saat diskusi TAXCUSSION 2026 bertajuk “Indonesia’s Fiscal Resilience: Testing Policy Response Under Global Economic Pressure” yang diadakan Divisi Research and Literature Kelompok Studi Ilmu Administrasi Fiskal Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (KOSTAF FIA UI) di Jakarta, Sabtu (11/7/2026).
Adhitya menyebutkan isu utama yang dihadapi struktur ekonomi nasional saat ini bukan sekadar penurunan nilai tukar rupiah, melainkan merosotnya keyakinan pemodal (investor trust).
Menurut pertimbangannya, keadaan itu terlihat dari tetap terdepresiasinya laju rupiah pada kisaran Rp18.000 per dolar Amerika Serikat beserta tingginya gejolak pasar keuangan.
Nilai tukar acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) dari Sumbernya pada 29 Juli 2026 terekam berada di angka Rp18.087 per dolar AS.
Dirinya memaparkan bahwasanya dinamika pasar saham merupakan indikator mendahului (leading indicator), sedangkan pertumbuhan ekonomi ataupun Produk Domestik Bruto (PDB) adalah indikator menyusul (lagging indicator).
Oleh sebab itu, kelesuan yang tertuang pada data PDB mencerminkan kondisi finansial beberapa waktu lampau, sedangkan pasar keuangan menggambarkan ekspektasi para pelaku bisnis maupun penanam modal terhadap situasi mendatang.
Adhitya turut mencermati pergerakan Credit Default Swap (CDS) Indonesia sebagai salah satu tolok ukur yang dimanfaatkan pemodal untuk mengkalkulasi tingkat risiko suatu negara.
Menurut pandangannya, tren CDS mengindikasikan bahwasanya pelaku pasar masih memantau prospek fiskal Indonesia beserta arah garis kebijakan ekonomi pemerintah.
Ia menganggap faktor dalam negeri saat ini lebih mendominasi dibandingkan faktor luar negeri dalam memengaruhi sentimen pasar.
Di tengah ketidakpastian global, para penanam modal memerlukan kepastian arah regulasi agar mempunyai keyakinan dalam menempatkan modalnya di Indonesia.
“Yang paling penting adalah bagaimana pemerintah bisa mengembalikan kepercayaan investor. Kalau trust itu kembali, aliran modal akan masuk lagi dan rupiah akan lebih kuat,” ujarnya.
Adhitya menambahkan, konsistensi regulasi menjadi aspek yang paling dicermati penanam modal.
Menurut penjelasannya, pergeseran aturan yang terlampau kerap terjadi maupun pola komunikasi pemerintah yang kabur dapat memicu timbulnya ketidakpastian serta mendorong pemodal memilih menaruh dananya di negara lain.
Ia pula menilai tingginya kerentanan pasar terhadap beragam peryataan pejabat publik menandakan krusialnya merawat kredibilitas komunikasi pemerintah.
Setiap sinyal kebijakan yang diutarakan pemerintah sanggup memengaruhi persepsi pemodal terhadap prospek perekonomian Indonesia.
Di ranah dunia usaha, Adhitya menyampaikan dampak penurunan rupiah paling dirasakan oleh korporasi yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor bahan baku maupun kewajiban pembayaran mata uang asing.
Kondisi demikian menjadikan pelaku bisnis lebih cermat dalam menentukan keputusan investasi dan perluasan ekspansi usaha.
Di samping itu, perlambatan ekonomi turut berpotensi memengaruhi tingkat kepatuhan perpajakan.
Menurutnya, saat daya bayar (ability to pay) pelaku usaha menyusut, kewajiban pajak cenderung dianggap sebagai beban sehingga perusahaan bakal lebih selektif dalam mengatur arus kas internalnya.
Oleh karena itu, Adhitya menilai langkah menjaga keyakinan pemodal bukan hanya penting bagi stabilitas kurs rupiah, melainkan juga untuk menopang aktivitas ekonomi, investasi, serta pada akhirnya menjaga penerimaan negara pada sektor perpajakan. (bl)