Tekanan Ekonomi dan Geopolitik Ancam Posisi Rupiah Pekan Mendatang

Tekanan Ekonomi dan Geopolitik (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Senin, 03 Agustus 2026 | 11:00:30 WIB

JAKARTA - Kurs rupiah ditaksir masih menemui tekanan pada perdagangan pekan mendatang, disebabkan oleh memanasnya tensi geopolitik dunia sampai peluang perubahan arah kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed).

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menganggap, para pelaku pasar akan mencermati beberapa indikator ekonomi Indonesia, mulai dari neraca perdagangan, inflasi, PMI manufaktur, cadangan devisa, sampai Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), yang dinilai berpeluang memberikan tekanan ekstra terhadap rupiah.

“Nah, kemudian untuk rupiah sendiri kami melihat bahwa minggu depan pasar akan melihat tentang banyaknya data yang akan dirilis di Amerika, di Indonesia terutama adalah neraca perdagangan yang kemungkinan besar neraca perdagangan di bulan Juni ini akan terjadi defisit. Ya ini pun juga akan mempengaruhi terhadap apa? Rupiah, ya, pekan depan,” kata Ibrahim Assuaibi saat dihubungi dari Sumbernya, Minggu 2 Agustus 2026.

Selain neraca perdagangan, Ibrahim memperkirakan tingkat inflasi domestik bakal mereda lantaran dampak intervensi pasar terhadap harga bahan pangan.

“Kemudian yang kedua tentang masalah inflasi. Inflasi pun juga kemungkinan besar ini akan melandai, ya karena harga-harga relatif lebih turun karena adanya intervensi pasar bisa saja di bawah 3,34 persen,” ujarnya.

Pada bidang industri, Ibrahim memperkirakan operasional manufaktur Tanah Air masih belum mampu terlepas dari zona kontraksi.

“Kemudian kami melihat juga tentang data PMI Manufaktur, ya, Indonesia yang kemungkinan besar masih akan terkontraksi di bawah 50 walaupun kemungkinan besar di bulan Juli di atas 46,9 tapi masih terkontraksi. Dan ini mengindikasikan bahwa tenaga kerja, ya ini menurun drastis, PHK di mana-mana,” katanya.

Ia juga memproyeksikan simpanan cadangan devisa Indonesia bakal mencatatkan penurunan jika dibandingkan bulan lalu.

“Kemudian untuk cadangan devisa pun juga kemungkinan besar cadangan devisa ini akan mengalami penurunan, ya dibandingkan di bulan Juni. Ya, di bulan Juni kami lihat di US$145,6 miliar. Kemungkinan besar akan mengalami penurunan dan cadangan devisa ini hanya bisa digunakan untuk 4,9 bulan,” ucap Ibrahim.

Menurut analisisnya, posisi cadangan devisa tersebut belum menyamai tolok ukur yang umumnya menjadi rujukan bagi negara bertitel peringkat utang kelas investment grade.

“Ya, artinya apa? Bahwa 4,9 bulan itu tidak sesuai dengan pemeriksaan internasional yang dikatakan bahwa negara yang mempunyai rating utang di Triple B harus di 5 bulan untuk cadangan devisanya,” ujarnya.

Tidak hanya itu, kekuatan belanja masyarakat juga dianggap masih menanggung tekanan yang tercermin dari arah penurunan Indeks Keyakinan Konsumen.

“Kemudian yang terakhir adalah tentang IKK, Indeks Keyakinan Konsumen. Ya, kemungkinan besar di bulan Juli ini pun juga akan menurun. Kami tahu bahwa dari mulai bulan Januari, ya Mei, Juni, Juli, ya ini terus mengalami penurunan IKK dari bulan Januari di 129, ya sampai di Juni itu di 117,8 ada kemungkinan besar di bulan Juli itu di 116,6,” jelasnya.

Ibrahim menggarisbawahi perpaduan bermacam data tersebut diprediksi bakal menjadi pendorong utama yang menggerakkan pasar uang domestik dalam beberapa hari ke depan.

“Nah, ini mengindikasikan bahwa data yang akan dirilis oleh BPS maupun Bank Indonesia yang minggu depan ini akan berpengaruh terhadap pergerakan mata uang rupiah. Rupiah kemungkinan besar akan melemah, bisa saja mendekati level di Rp18.250 sampai di Rp18.300-an,” tegasnya.

Reporter: Moch Febrianto