Nilai Yen Melesat Tinggi, Pelaku Pasar Siapkan Langkah Intervensi Baru
JAKARTA - Kurs yen merangkak naik pesat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin, (3/8/2026). Keadaan ini memicu para pemain pasar dalam kondisi siaga guna mengantisipasi opsi tindakan intervensi berlanjut oleh otoritas Jepang demi menopang kurs yen.
Hal tersebut mengemuka seusai pihak Tokyo membenarkan adanya aksi intervensi pembelian yen yang diselenggarakan bersama Amerika Serikat pada pekan lalu.
Melansir informasi dari Sumbernya, Senin minggu ini, Yen melonjak melampaui 1% terhadap dolar AS hingga mencatatkan rekor tertinggi harian pada level 155,20, peringkat terkuat sejak awal bulan Mei. Pergerakan ini terjadi setelah yen sempat tertahan di posisi terbawah dalam kurun 40 tahun akibat himpitan suku bunga rendah Jepang serta dampak kenaikan tarif energi terhadap terms of trade atau perbandingan harga ekspor terhadap impor Jepang.
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayam belum memberikan keterangan mengenai apakah ada langkah intervensi yang dieksekusi pada Senin minggu ini.
Di lain pihak, EM Asia FX and Rates Strategist BNP Paribas Singapore, Chandreesh Jain memaparkan amat berat memastikan apakah pihak berwenang telah mengeksekusi intervensi hari ini atau tidak. “Saya rasa pasar juga mencermati komentar yang muncul dari pihak Amerika Serikat (AS). Jadi menurut saya, para pelaku pasar yang memegang posisi long beli dolar/yen mulai menutup posisi pagi ini,” kata dia.
Ia mengimbuhkan, tindakan intervensi semacam ini selalu datang dan pergi sepanjang waktu. Walau demikian, laju dolar/yen tetap satu jurusan, yakni melaju kian kuat.
“Hal ini jelas menunjukkan bahwa pasar tidak terlalu terpengaruh oleh intervensi tersebut; situasi baru bisa berubah jika dan hanya jika Bank of Japan (BOJ) mulai menaikkan suku bunga secara agresif,” kata dia.
Tanggapan Pakar Ekonomi
Di sisi lain, Executive Adviser SBI FX Trade Japan, Yuji Santo memaparkan kemerosotan tajam pada pasangan mata uang dolar/yen besar kemungkinan disebabkan oleh berjalannya intervensi susulan.
Ia menerangkan, dalam penyataan yang dikeluarkan pagi ini, baik Jepang maupun AS menekankan akan terus mengeksekusi intervensi ke depannya.
"Upaya mengarahkan nilai tukar menuju yen yang lebih kuat telah menjadi kepentingan bersama bagi Jepang dan AS, sehingga kerja sama di antara keduanya berjalan lancar,” kata dia.
"Soal apakah mereka benar-benar menggunakan Fasilitas Repo Otoritas Moneter Asing dan Internasional (FIMA Repo Facility) adalah hal lain, namun jika fasilitas itu digunakan, tidak akan ada masalah meskipun mereka melanjutkan intervensi berskala besar melampaui perkiraan saat ini,” ia menambahkan.
Pakar Ekonomi Senior NLI Research Institute, Japan, Tsuyoshi Ueno menerangkan, faktor dasar yang mendorong tekanan penjualan mata uang yen tidak mengalami perubahan. Ia tidak mengantisipasi apresiasi yen secara sepihak akan berlanjut usai intervensi.
"Selama sumber pendanaan untuk langkah-langkah seperti pemotongan pajak konsumsi tetap tidak jelas, tekanan terhadap yen yang lebih lemah dan suku bunga yang lebih tinggi akan terus membara hingga akhir tahun. Ke depan, jika muncul situasi di mana pelemahan yen berlanjut bahkan ketika risiko suku bunga AS berkurang, AS mungkin akan mulai menjauhkan diri dari hubungan kerja sama ini,” kata dia.