Kinerja LPKR Melonjak Tajam Dan Membukukan Laba Bersih Rp 385 Miliar

PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Senin, 03 Agustus 2026 | 11:00:08 WIB

JAKARTA - PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) mencatatkan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 385,44 miliar pada semester I-2026.

Angka tersebut melonjak 179,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu Rp 137,90 miliar.

Peningkatan keuntungan yang menjadi hak pemegang saham induk tersebut didorong oleh membaiknya kinerja operasional perseroan.

LPKR mencatatkan laba usaha sebesar Rp 417,65 miliar, naik dari Rp 258,78 miliar pada semester I-2025.

Berdasarkan laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain konsolidasian interim Lippo Karawaci yang berakhir pada 30 Juni 2026, perseroan mencatat pendapatan Rp 3,61 triliun, turun 12,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, Rp 4,12 triliun.

Setelah dikurangi beban pajak final sebesar Rp 75,43 miliar, pendapatan bersih menyentuh Rp 3,53 triliun, turun dari Rp 4,03 triliun pada semester I-2025.

Di tengah penurunan perolehan pendapatan, perseroan turut menekan beban pokok pendapatan menjadi Rp 2,00 triliun dari Rp 2,63 triliun.

Kondisi ini mendorong laba kotor meningkat menjadi Rp 1,53 triliun, dibandingkan Rp 1,40 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Dari sisi operasional, beban usaha turun menjadi Rp 1,10 triliun dari Rp 1,09 triliun, sementara perolehan penghasilan lainnya tercatat Rp 59,68 miliar dan beban lainnya menyusut menjadi Rp 75,58 miliar dari Rp 117,13 miliar.

Dengan demikian, laba usaha meningkat secara signifikan ke tingkat Rp 417,65 miliar, dibandingkan Rp 258,78 miliar pada semester I-2025.

Pada pos non-operasional, penghasilan keuangan tercatat sebesar Rp 96,90 miliar, turun dari Rp 126,13 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, beban keuangan relatif stabil pada posisi Rp 403,35 miliar, dibandingkan Rp 409,20 miliar pada semester I-2025.

Perseroan juga mencatat bagian laba dari entitas asosiasi sebesar Rp 372,16 miliar, meningkat dari Rp 274,17 miliar pada semester I-2025.

Penyertaan tersebut turut mendorong laba sebelum pajak naik menjadi Rp 483,37 miliar, hampir dua kali lipat dibandingkan Rp 249,88 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Setelah dikurangi beban pajak penghasilan sebesar Rp 40,25 miliar, Lippo Karawaci mencatatkan laba periode berjalan senilai Rp 443,12 miliar, melompat sekitar 118,9 persen dibandingkan semester I-2025 yang sebesar Rp 202,46 miliar.

Dari keseluruhan laba tersebut, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp 385,44 miliar.

Sementara itu, laba yang diatribusikan kepada kepentingan nonpengendali sebesar Rp 57,68 miliar, turun dari Rp 64,56 miliar.

Peningkatan perolehan laba juga tercermin pada laba per saham dasar yang naik menjadi Rp 5,44 per saham, dibandingkan Rp 1,95 per saham pada semester I-2025.

Dari sisi penghasilan komprehensif, perseroan mencatatkan rugi penghasilan komprehensif lain sebesar Rp 126,10 miliar, berbalik dari penghasilan komprehensif lain sebesar Rp 178,52 miliar pada semester I-2025.

Perubahan ini dipengaruhi antara lain oleh kerugian dari perubahan nilai wajar aset keuangan melalui penghasilan komprehensif lain (FVTOCI), kerugian penjabaran laporan keuangan, serta penurunan bagian penghasilan komprehensif dari entitas asosiasi.

Dengan demikian, jumlah penghasilan komprehensif periode berjalan sebesar Rp 317,02 miliar, turun dibandingkan Rp 380,98 miliar pada semester I-2025.

Dari total tersebut, Rp 299,92 miliar diatribusikan kepada pemilik entitas induk dan Rp 17,09 miliar kepada kepentingan nonpengendali.

Total aset Lippo Karawaci mencapai Rp 49,22 triliun, relatif stabil dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp 49,25 triliun.

Aset lancar perseroan mencapai Rp 29,11 triliun, turun tipis dari Rp 29,48 triliun pada 31 Desember 2025.

Penurunan terutama dipengaruhi oleh berkurangnya kas dan setara kas menjadi Rp 1,41 triliun dari Rp 1,96 triliun pada akhir tahun lalu.

Di sisi lain, persediaan meningkat menjadi Rp 25,98 triliun dari Rp 25,76 triliun, sementara piutang usaha pihak ketiga naik tipis menjadi Rp 559,76 miliar dari Rp 554,47 miliar.

Perseroan juga mencatatkan investasi pada entitas asosiasi sebesar Rp 11,72 triliun, meningkat dibandingkan Rp 11,03 triliun pada akhir 2025.

Pada sisi kewajiban, jumlah liabilitas turun menjadi Rp 17,86 triliun per 30 Juni 2026, dibandingkan Rp 18,20 triliun pada 31 Desember 2025.

Liabilitas jangka pendek meningkat menjadi Rp 7,67 triliun dari Rp 7,24 triliun.

Kenaikan terutama disebabkan oleh meningkatnya beban akrual menjadi Rp 1,56 triliun dari Rp 1,27 triliun, serta pinjaman bank jangka pendek yang naik menjadi Rp 2,34 triliun dari Rp 1,73 triliun.

Sementara itu, liabilitas jangka panjang turun menjadi Rp 10,19 triliun, dibandingkan Rp 10,96 triliun pada akhir tahun lalu.

Penurunan terutama dipengaruhi oleh berkurangnya utang bank jangka panjang menjadi Rp 3,65 triliun dari Rp 3,84 triliun, serta turunnya liabilitas kontrak menjadi Rp 2,51 triliun dari Rp 2,98 triliun.

Dengan total aset sebesar Rp 49,22 triliun dan total liabilitas Rp 17,86 triliun, total ekuitas perseroan tercatat sekitar Rp 31,36 triliun per 30 Juni 2026, meningkat dibandingkan posisi akhir 2025 yang sekitar Rp 31,05 triliun.

Kenaikan ekuitas tersebut sejalan dengan pertumbuhan laba bersih yang dibukukan perseroan pada semester I-2026.

CEO LPKR, John Riady menyampaikan, untuk segmen real estat, pra penjualan mencapai Rp 3,70 triliun atau setara 62 persen dari target sepanjang tahun, yang ditopang oleh permintaan terhadap hunian tapak di segmen rumah terjangkau maupun menengah di berbagai wilayah.

Hunian tapak menyumbang 79 persen dari total pra penjualan, mencerminkan tingginya minat pembeli rumah pertama maupun pengguna akhir (end-user).

Pencapaian pra penjualan turut didukung peluncuran Park Serpong Phase 7 dan Phase 8 pada semester I-2026.

Proyek baru tersebut dinilai berhasil memenuhi permintaan pasar, baik dari segmen masyarakat umum maupun kelas menengah, sekaligus memperkuat posisi LPKR sebagai salah satu pengembang utama di pasar hunian tapak.

Di dalam Lippo Karawaci (Holdco), penjualan rumah tinggal menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp 2,22 triliun.

Selanjutnya, penjualan unit komersial mencapai Rp 464 miliar, penjualan kavling tanah sebesar Rp 30 miliar, serta penjualan lahan pemakaman di San Diego Hills sebesar Rp 65 miliar.

Momentum penjualan semakin diperkuat melalui peluncuran berbagai produk baru di Park Serpong Phase 7 dan Phase 8 selama semester I 2026, yakni Goldtops, Gold, Silver, Bronze, Urban, dan Treetops.

Produk-produk tersebut ditawarkan dengan harga yang terjangkau dan mendapat respons positif, terutama dari segmen pembeli rumah terjangkau.

Pada paruh pertama tahun ini, sebanyak 72 persen transaksi penjualan rumah dibiayai melalui fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Kondisi tersebut mencerminkan kuatnya permintaan dari pengguna akhir sekaligus menegaskan keberhasilan strategi LPKR dalam memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap hunian yang terjangkau.

Sedangkan, segmen gaya hidup mencatatkan pendapatan sebesar Rp 605 miliar pada semester I-2026.

Laba kotor tercatat sebesar Rp 490 miliar, sedangkan EBITDA meningkat 11 persen menjadi Rp 236 miliar.

Laba bersih segmen ini mencapai Rp 131 miliar, meningkat dibandingkan semester I 2025 yang sebesar Rp 111 miliar.

Dari sisi operasional, rata-rata tarif kamar hotel relatif stabil di kisaran Rp 635.000 dengan tingkat okupansi sebesar 54 persen.

Di sisi lain, jumlah kunjungan ke pusat perbelanjaan meningkat 1 persen secara tahunan menjadi rata-rata 11,2 juta pengunjung per bulan, mencerminkan berlanjutnya pemulihan aktivitas ritel.

John Riady menyebut, momentum positif pada bisnis real estat perseroan terus berlanjut, tercermin dari capaian pra penjualan sebesar Rp 3,70 triliun atau setara 62 persen dari target tahunan.

“Kami senang melihat momentum positif yang terus berlanjut pada bisnis real estate kami, dengan pra penjualan mencapai Rp 3,70 triliun atau setara 62 persen dari target sepanjang tahun. Permintaan tetap didominasi oleh hunian tapak, khususnya pada segmen rumah terjangkau dan menengah yang menjadi fokus utama strategi kami,” ujar John dari Sumbernya, Senin (3/8/2026).

John Riady menambahkan, perseroan akan terus memprioritaskan eksekusi di seluruh proyek township dengan tetap menerapkan pengelolaan modal dan operasional yang disiplin serta prudent.

“Ke depan, kami akan terus memprioritaskan eksekusi di seluruh proyek township, sembari tetap menerapkan pengelolaan modal dan operasional yang disiplin serta prudent,” kata John.

Reporter: Moch Febrianto