Lonjakan Aksi Borong Emas Bank Sentral Global Capai Ratusan Ton

Emas Bank Sentral (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Jumat, 31 Juli 2026 | 14:14:45 WIB

JAKARTA - Lembaga World Gold Council (WGC) mendokumentasikan, otoritas moneter serta lembaga lainnya menghimpun cadangan emas murni mencapai 289 ton pada triwulan II – 2026.

Jumlah tersebut melesat 62% per tahun atau year on year (yoy) sejalan dengan melonjaknya aksi borong di beragam kawasan.

Walau pengadaan menguat pada triwulan II – 2026, Shaokai Fan, Head of Asia-Pacific (ex-China) dan Global Head of Central Banks di World Gold Council mengungkapkan bahwa penyerapan selama paruh pertama I – 2026 masih berada di bawah masifnya penyerapan beberapa tahun belakangan disebabkan lesunya aksi beli pada triwulan awal.

“Survei Cadangan Emas Bank Sentral dari WGC menunjukkan bahwa 45% responden berencana meningkatkan cadangan emas mereka dalam 12 bulan ke depan, menegaskan bahwa emas tetap memegang peran penting dalam cadangan institusi resmi,” ujar Shaokai dalam keterangan resmi, Jumat (31/7/2026).

WGC mendata aksi beli emas oleh otoritas moneter pada triwulan II – 2026.

Di antaranya Bank Nasional Polandia (The National Bank of Poland) merupakan pengumpul terbesar, menyerap 51 ton sepanjang triwulan tersebut sekaligus mendongkrak simpanan emasnya menjadi 632 ton pada penutupan Juni.

Kondisi tersebut mendongkrak pengadaan Polandia pada paruh pertama menjadi 82 ton, mengukuhkan posisinya sebagai pengumpul utama sepanjang tahun ini dan mendekatkannya pada sasaran 700 ton.

Selanjutnya, The People’s Bank of China mengumpulkan 33 ton lagi pada triwulan kedua, lonjakan triwulanan tertinggi sejak triwulan keempat tahun 2023 (44 ton).

Pertumbuhan 40 ton pada paruh pertama membuat kepemilikan PBoC yang tercatat mencapai 2.346 ton.

Kendati akumulasi bulanan Tiongkok tergolong sedang bila dibandingkan dengan periode pengumpulan sebelumnya, transaksi yang konsisten menegaskan karakter strategis dari agenda emasnya.

WGC turut mendokumentasikan bahwa Bank Sentral Uzbekistan mengumpulkan 16 ton, Bank Nasional Kazakhstan (menyerap 15 ton), Bank Sentral Yordania (6 ton) serta Bank Nasional Ceko (6 ton) pun tergolong pembeli signifikan sepanjang triwulan kedua.

Adapun penambahan simpanan emas dalam skala lebih kecil juga direalisasikan Bank Ghana, Otoritas Moneter Singapura, Bank Sentral UEA, maupun Bank Nasional Kirgistan.

Di samping itu, WGC mencatat pelepasan aset emas oleh otoritas moneter surut amat tajam pada triwulan kedua.

Bank Sentral Turki mengabarkan penjualan triwulan kedua secara terbatas sebesar 4 ton serta pemangkasan swap berjalan dari batas tertinggi di atas 80 ton menjadi kisaran 60 ton pada penutupan Juni.

Bank Sentral Rusia menjadi pihak pelepas terbesar pada triwulan kedua, memangkas simpanan sebesar 22 ton.

Kemudian, penyusutan yang dilaporkan Jerman yaitu sebesar 1 ton.

WGC menilai otoritas moneter tetap konsisten berada di rentang yang tepat menuju periode positif berikutnya pada penyerapan emas.

Alasan struktural menjadikan emas sebagai bentuk diversifikasi, performa saat krisis, serta benteng terhadap ancaman geopolitik maupun finansial telah teruji.

Gairah kembali aksi beli emas pada triwulan kedua lebih selaras dengan iktikad positif yang terangkum dalam riset Cadangan Emas Bank Sentral WGC.

Lantaran kebangkitan triwulan kedua belum sepenuhnya memulihkan kemerosotan penyerapan triwulan pertama yang telah disesuaikan, WGC memproyeksikan penyerapan emas tahunan pada 2026 bakal ditutup di bawah akumulasi tahun 2025.

Pelepasan taktis yang terhubung pada pemenuhan likuiditas atau tata kelola kurs tetap berpeluang terjadi.

Namun demikian kondisi tersebut mesti dipandang dalam bingkai kecenderungan strategis yang berkelanjutan.

Para pengelola cadangan secara konsisten menempatkan emas sebagai langkah diversifikasi jangka panjang alih-alih transaksi jangka pendek.

Reporter: Moch Febrianto