Rupiah dan Surat Utang Tertekan Kenaikan Ketidakjelasan Kebijakan RI

Rupiah dan Surat Utang Tertekan (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Rabu, 29 Juli 2026 | 12:10:29 WIB

JAKARTA - Tekanan pada nilai tukar mata uang garuda kian berat di tengah melonjaknya ketidakjelasan arah kebijakan di dalam negeri.

Mirae Asset Sekuritas Indonesia menganggap depresiasi mata uang garuda akhir-akhir ini bukan cuma dipengaruhi oleh sentimen luar negeri, namun juga disulut kecemasan pasar atas keberlanjutan kebijakan moneter nasional.

Pada Selasa (28/7) lalu, rupiah masih bertahan di atas ambang psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), dengan penurunan mencapai sekitar 1% secara month to date (MtD) dan 8,5% sejak awal tahun atau year to date (YtD).

Kondisi ini membuat nilai tukar mata uang garuda menjadi mata uang dengan penurunan terhebat di kawasan.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Jessica Tasijawa menerangkan, walau ketegangan geopolitik di Timur Tengah sempat menyurut usai terdapat jeda sementara bentrokan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, ketidakpastian tetap tinggi.

Pihak Iran menampik adanya gencatan senjata resmi dan menegaskan perundingan dengan AS belum kembali berjalan.

Di pihak lain, sorotan pasar tetap tertuju ke Selat Hormuz yang masih diblokir, sementara aksi militer di area tersebut masih berjalan.

Walau harga minyak merosot lebih dari 2% lantaran ekspektasi berkurangnya ancaman gangguan pasokan, proyeksi geopolitik dianggap masih amat tidak pasti.

Dari dalam negeri, regulator juga melonggarkan aturan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) untuk ekspor menuju AS, China, Australia, dan Kanada.

Pelaku ekspor pertambangan yang memenuhi syarat sekarang cuma diwajibkan menyetor minimal 30% dana hasil ekspor pada rekening khusus dalam negeri selama tiga bulan, berbanding regulasi terdahulu yang mewajibkan penempatan 100% selama 12 bulan.

"Meski kebijakan ini diperkirakan akan meningkatkan likuiditas eksportir dan menjaga daya saing perdagangan, relaksasi tersebut berpotensi mengurangi likuiditas valas domestik dan melemahkan dukungan struktural terhadap stabilitas Rupiah," kata Jessica dalam riset Rabu (29/7).

Jessica juga menganggap kejatuhan tajam rupiah utamanya dipicu oleh kecemasan pasar mengenai rumor pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo.

"Depresiasi rupiah yang tajam terutama didorong oleh kekhawatiran atas isu pengunduran diri Gubernur BI Perry Warjiyo yang meningkatkan ketidakpastian terhadap keberlanjutan kebijakan, kredibilitas institusi, dan tata kelola," tuturnya.

Tekanan pun terlihat di pasar utang.

Imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun merangkak ke 7,39%, sedangkan yield tenor dua tahun terbilang stabil di 7,11%.

Dinamika ini menandakan penanam modal masih memilih obligasi berjangka pendek di tengah tingginya keraguan.

Di samping itu, premi risiko nasional juga melonjak.

Credit Default Swap (CDS) tenor lima tahun naik menuju 93 basis poin, tingkat tertinggi dalam sebulan belakangan, yang memperlihatkan kenaikan persepsi risiko terhadap aset nasional.

Ke depannya, Mirae Asset Sekuritas memprediksi investor bakal tetap mengambil sikap wait and see sampai terdapat kejelasan terkait penunjukan Gubernur BI yang baru serta langkah pemerintah dalam mengawal kebijakan.

Permintaan obligasi diperkirakan tetap berpusat pada tenor pendek, sedangkan arah sentimen pasar bakal amat bergantung pada kemampuan pemerintah menjamin transisi kepemimpinan berjalan lancar dan menjaga kepercayaan pada kerangka kebijakan moneter nasional.

Reporter: Moch Febrianto