Gubernur BI Mengundurkan Diri, Kurs Rupiah Terpukul ke Rp 18.083 per Dolar

Kurs Rupiah Terpukul ke Rp 18.083 per Dolar (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Rabu, 29 Juli 2026 | 12:10:17 WIB

JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus mengalami penurunan hingga menembus angka di atas Rp 18.000 per dolar AS. Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, para pelaku pasar memberikan tanggapan negatif terhadap ketidakpastian ekonomi seusai Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo meletakkan jabatannya.

Berdasarkan data Bloomberg, mata uang garuda melemah sebesar 74 poin atau 0,41 persen ke posisi Rp 18.083 per dolar AS saat penutupan transaksi Selasa (28/7/2026). Pada sesi transaksi sebelumnya, rupiah berada pada posisi Rp 18.009 per dolar AS.

"Ketidakpastian ekonomi dalam negeri setelah pengunduran diri Perry Warjiyo secara mendadak sempat direspons negatif oleh pasar karena dalam jangka pendek meningkatkan ketidakpastian akibat transisi kepemimpinan baru di tengah depresiasi nilai tukar rupiah, derasnya outflow dana asing, serta potensi tren kenaikan suku bunga global," ujar Ibrahim dalam keterangannya kepada wartawan, Selasa (28/7/2026).

Akan tetapi, menurut Ibrahim, penunjukan Destry Damayanti yang mengemban tugas sebagai Deputi Gubernur Senior (DGS) BI sekaligus Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur BI memberikan harapan positif bagi pasar atas komitmen bank sentral dalam memelihara stabilitas kurs rupiah, mengendalikan tingkat inflasi, serta menopang stabilitas sistem keuangan secara berkelanjutan.

"Selanjutnya, perhatian pasar akan tertuju pada penunjukan Gubernur BI definitif. Penunjukan Gubernur BI yang baru sesuai dengan harapan pasar serta transisi kepemimpinan yang berjalan lancar diharapkan dapat menjaga kredibilitas dan independensi bank sentral dalam menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," terangnya.

Ibrahim mengungkapkan, pergantian pucuk pimpinan di BI mesti diserahkan sepenuhnya pada mekanisme konstitusi dan aturan hukum yang berlaku. Pihaknya percaya pemerintah beserta otoritas terkait bakal memilih sosok terbaik yang bermartabat tinggi serta memegang komitmen kuat terhadap stabilitas ekonomi nasional.

"Kemudian, lembaga pemeringkat S&P Global Ratings ikut merespons pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur BI. Sovereign analyst di S&P Global Ratings, Rain Yin, mengatakan kepada Bloomberg bahwa pengunduran diri Perry Warjiyo tidak berdampak langsung terhadap sovereign rating Indonesia, meskipun hal tersebut dapat berkontribusi pada peningkatan risiko terhadap prospek kebijakan negara," lanjutnya.

Di samping faktor dalam negeri, terdapat beberapa sentimen luar negeri yang turut memengaruhi pergerakan rupiah. Terutamanya pergolakan konflik di kawasan Timur Tengah dan proyeksi arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.

Mengenai dinamika konflik di Timur Tengah, aksi saling gempur antara AS dan Iran telah terhenti. The New York Times mengabarkan pada Jumat bahwa Presiden Donald Trump menghentikan rencana untuk mengeskalasi operasi militer AS secara drastis di Iran seusai berdiskusi dengan para penasihat utama dan pejabat tinggi pemerintahannya. Langkah tersebut diambil lantaran kian menipisnya persediaan sistem pertahanan udara milik Pentagon.

"AS telah melancarkan serangan terhadap Iran selama 13 hari berturut-turut, sementara Teheran membalas dengan menargetkan pangkalan militer Amerika di negara-negara tetangga. Konflik bermula setelah Iran menyerang kapal-kapal komersial di dalam dan sekitar Selat Hormuz yang menyebabkan runtuhnya kesepakatan damai sementara yang telah ditandatangani kedua belah pihak pada bulan Juni," tutur Ibrahim.

Kecemasan mengenai gangguan pasokan semakin memuncak seusai kelompok Houthi yang disokong Iran mengincar kapal tanker milik Arab Saudi di jalur pelayaran vital lainnya, yakni Selat Bab el-Mandeb.

Di sisi lain, mengenai ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed, arah instrumennya diperkirakan bakal mempertahan suku bunga pada pengumuman hari Rabu besok.

Peranti CME FedWatch memperlihatkan tingkat probabilitas berkisar 62 persen untuk skenario tersebut. Kendati demikian, prospek kebijakan moneter cenderung bergejolak pada bulan ini di tengah situasi yang sangat dinamis di Timur Tengah. Harga komoditas minyak sempat melonjak sekitar 20 persen dalam kurun dua minggu sewaktu AS dan Iran saling melepaskan gempuran terkait perebutan kendali atas Selat Hormuz.

"Investor juga menantikan pernyataan Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, setelah sebelumnya menyampaikan komentar yang cenderung hawkish sejak keputusan suku bunga bank sentral terakhir pada bulan Juni," kata Ibrahim.

Warsh menegaskan komitmen Federal Open Market Committee (FOMC) untuk menjaga stabilitas harga. Pihaknya juga meluncurkan evaluasi menyeluruh terhadap operasional The Fed dengan menunjuk lima gugus tugas untuk menangani pelbagai ranah, seperti komunikasi dan kerangka kerja inflasi.

"Kalender ekonomi pekan ini juga akan memberikan petunjuk mengenai kebijakan moneter karena pelaku pasar akan mencermati data PDB AS kuartal kedua serta indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (personal consumption expenditures/PCE) bulan Juni yang merupakan indikator inflasi acuan bagi The Fed," lanjut Ibrahim.

Didasarkan pada beraneka sentimen, baik domestik maupun mancanegara, Ibrahim mengestimasi rupiah bakal melanjutkan tren pelemahan di atas kisaran Rp 18.000 per dolar AS pada perdagangan Rabu (29/7/2026).

Reporter: Moch Febrianto