Upaya Bank Indonesia Menguatkan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS

Upaya Bank Indonesia Menguatkan Nilai Tukar Rupiah (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Rabu, 29 Juli 2026 | 12:10:17 WIB

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menegaskan tekadnya untuk mempertahankan stabilitas mata uang rupiah di tengah depresiasi nilai tukar garuda atas dolar Amerika Serikat (AS).

Kestabilan nilai tukar rupiah diperkokoh demi mengendalikan inflasi sekaligus menstimulus roda perekonomian.

Mata uang rupiah memang mendapatkan tekanan atas dolar AS selama kurun beberapa hari terakhir.

Menyadur data Bloomberg, mata uang Negeri Paman Sam tersebut saat ini berada pada tingkatan Rp 18.083 atau mengalami kenaikan 74 basis poin (0,41%).

Berdasarkan penuturan dari Sumbernya, Erwin Gunawan Hutapea, lembaga otoritas moneter tersebut terus memaksimalkan strategi kebijakan moneter demi mempertahankan kestabilan kurs rupiah.

"Optimalisasi bauran kebijakan moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah ditingkatkan. Tidak hanya mengandalkan suku bunga kebijakan, instrumen moneter lain juga dipertajam," kata Erwin dalam keterangan tertulis, Rabu (29/7/2026).

Ragam instrumen tersebut diantaranya mencakup triple intervention pada pasar valuta asing (Spot, NDF, serta DNDF) dan optimalisasi instrumen moneter seperti SRBI yang ditopang fasilitas insentif swap maupun DNDF hedging.

Langkah ini terus ditingkatkan demi memelihara stabilitas nilai tukar seraya mendorong masuknya arus modal dari luar negeri.

Erwin juga menerangkan bahwasanya strategi untuk memelihara kecukupan likuiditas pada pasar uang serta sektor perbankan terus diperkokoh.

Menurut pendapatnya, posisi SRBI sedang berada dalam tren yang kian terukur.

"Ke depan, penerbitan SRBI terus diarahkan agar selaras dengan kebutuhan pengelolaan likuiditas dan mendukung masuknya aliran modal asing guna memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah," tuturnya.

Di samping itu, BI turut memfokuskan berbagai alat kebijakan guna menunjang akselerasi ekonomi.

Penerapan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) bakal terus dimaksimalkan untuk menstimulasi penyaluran pembiayaan menuju sektor-sektor prioritas.

"Termasuk penguatan mekanisme redistribusi likuiditas di sektor keuangan agar transmisi pembiayaan menjadi semakin efektif. Selain itu, kebijakan digitalisasi sistem pembayaran juga terus diakselerasi sehingga makin mendorong pertumbuhan ekonomi," tutup Erwin.

Reporter: Moch Febrianto