Rupiah Tertekan ke Rp18.055/US$, Bank Indonesia Maksimalkan Instrumen SRBI
JAKARTA - Kurs rupiah mencatatkan pelemahan berhadapan dengan dolar Amerika Serikat (AS).
Mata uang nasional kembali ditutup terkoreksi dari greenback pada transaksi Selasa (28/7/2026).
Menyadur data Refinitiv, rupiah ditutup merosot 0,31% menuju level Rp18.055/US$.
Tekanan tersebut membuat rupiah berlabuh di zona merah selama empat hari transaksi secara beruntun.
Direktur Eksekutif Senior, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI) Erwin Gunawan Hutapea, menegaskan bank sentral terus berupaya menjaga stabilitas sebagai prasyarat utama menyokong pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan.
"Di tengah ketidakpastian global yang tinggi, stabilisasi nilai tukar Rupiah terus diperkuat sehingga konsisten mendukung pencapaian sasaran inflasi dan mendorong kegiatan ekonomi," papar Erwin.
Selain itu, ia menjamin optimalisasi bauran kebijakan moneter dalam memelihara stabilitas nilai tukar Rupiah ditingkatkan.
Tidak sekadar bergantung pada suku bunga kebijakan, instrumen moneter lain turut dipertajam.
"Berbagai instrumen, termasuk triple intervention di pasar valas (Spot, NDF dan DNDF) serta optimalisasi instrumen moneter seperti SRBI yang didukung fasilitas insentif swap dan DNDF hedging, terus dioptimalkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung masuknya aliran modal asing," ujarnya.
Selanjutnya, kata Erwin, otoritas moneter juga terus memelihara kecukupan likuiditas pasar uang serta perbankan diperkuat.
Sedangkan, ia menggarisbawahi posisi SRBI berada pada tren yang semakin terkendali.
Ke depannya, Erwin memastikan penerbitan SRBI terus diarahkan agar seirama dengan kebutuhan pengelolaan likuiditas dan menopang masuknya aliran modal asing demi memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah.
Di samping itu, otoritas moneter juga terus mengoptimalkan beragam instrumen kebijakan untuk menyokong pertumbuhan ekonomi.
"Implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) akan terus diperkuat guna mendorong pembiayaan kepada sektor-sektor prioritas, termasuk penguatan mekanisme redistribusi likuiditas di sektor keuangan agar transmisi pembiayaan menjadi semakin efektif," ujar Erwin.
Di luar itu, ia mengutarakan kebijakan digitalisasi sistem pembayaran juga terus diakselerasi sehingga kian memacu pertumbuhan ekonomi.