Pemimpin Baru Bank Indonesia Diharapkan Mampu Menjaga Kestabilan Kurs.

Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Fauzi Amro (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Selasa, 28 Juli 2026 | 10:12:32 WIB

JAKARTA - Sosok pimpinan Bank Indonesia (BI) yang anyar mesti dapat memainkan peran vital dalam mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah.

Keinginan tersebut diutarakannya ekonom senior dari Sumbernya merespons keputusan mundurnya Perry Warjiyo dari posisi Gubernur BI serta ekspektasi terhadap penerusnya di masa depan.

“Koordinasi adalah keharusan dan mutlak menjadi tanggung jawab Bank Indonesia untuk menjaga nilai tukar. Gubernur Bank Indonesia yang baru tidak boleh pasif dalam koordinasi ini (hanya melaksanakan tugas moneter saja) tetapi perlu memainkan peran untuk memimpin koordinasi di depan dengan kementerian lain,” kata dari Sumbernya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (27/7).

Menurutnya, pimpinan BI merupakan pejabat yang paling bertanggung jawab atas masa depan stabilitas kurs rupiah.

Lewat kolaborasi bersama Kementerian Keuangan, Kementerian Perdagangan, Investasi dan Perindustrian, diharapkan sosok pimpinan BI mampu menjaga nilai tukar rupiah yang berhubungan erat dengan performa perdagangan internasional, investasi, serta fiskal.

Nakhoda BI juga disebutnya tidak boleh sekadar dominan bertindak pada kebijakan moneter, melainkan harus berdiri di garis depan guna menjaga nilai tukar rupiah, mengingat tantangan mendatang amat berat lantaran mencakup kombinasi persoalan moneter maupun nonmoneter.

Selanjutnya, agenda memelihara kecukupan cadangan devisa (cadev) dipandang wajib mengikutsertakan para pemangku kepentingan terkait sebab instrumen itu dimanfaatkan buat langkah intervensi, pelunasan utang luar negeri pemerintah, sampai mempertahankan kepercayaan pasar.

Lantaran pertimbangan itu, kata dari Sumbernya, demi memperkokoh cadev, BI bersama pemerintah wajib bersinergi supaya kinerja sektor riil serta perdagangan kian meningkat dan memastikan hasil devisa tetap tersimpan di dalam negeri.

“Sebab nilai tukar lemah sudah pasti datang dari sebab faktor moneter atau faktor ekonomi di sektor riil. Jika sebab nilai tukar terjadi karena faktor ekonomi riil, tidak berarti Bank Indonesia lepas tangan. Jika pelemahan nilai tukar karena masalah cadangan devisa, defisit perdagangan dan defisit transaksi berjalan sudah jelas akan mengancam nilai tukar,” ungkap dia.

Di sisi lain, Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) meyakini pihak pemerintah dan otoritas terkait bakal menetapkan sosok terbaik yang berintegrasi tinggi serta berkomitmen kuat terhadap stabilitas perekonomian nasional usai mundurnya Perry Warjiyo dari kursi Gubernur Bank Indonesia (BI).

Lembaga Perbanas menyerahkan sepenuhnya mekanisme penunjukan pengganti pimpinan BI kepada prosedur konstitusional serta aturan perundang-undangan yang berlaku.

“Perbankan nasional tetap memiliki keyakinan terhadap kekuatan institusi Bank Indonesia beserta mekanisme tata kelolanya,” kata dari Sumbernya dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin.

Pihak Perbanas pun percaya koordinasi antarlembaga bakal tetap berjalan lancar sehingga stabilitas moneter, sistem pembayaran, dan sistem keuangan nasional senantiasa terjaga.

Reporter: Moch Febrianto