Kurs Rupiah Loyo Terhadap Dolar AS Tertekan Isu Internal dan Global

Kurs Rupiah Loyo Terhadap Dolar AS (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Selasa, 28 Juli 2026 | 10:12:32 WIB

JAKARTA - Kurs mata uang garuda kembali menembus angka Rp18.000 untuk tiap dolar AS.

Pada pengujung transaksi Senin (27/7/2026), mata uang Indonesia terkoreksi sebanyak 46 angka menuju level Rp18.009 tiap dolar AS.

Petinggi PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi menyampaikan bahwasanya pelaku pasar saat ini memberikan tanggapan buruk atas pengunduran diri Pimpinan Bank Indonesia, Perry Warjiyo.

Kondisi negatif ini menurut pandangannya bakal kembali memberikan dorongan penurunan bagi mata uang domestik pada sesi transaksi Selasa (28/7/2026).

Ibrahim memproyeksikan kurs nasional pada hari ini bakal kembali berakhir melemah pada kisaran Rp18.010 sampai Rp18.060 tiap dolar AS.

"Pengunduran diri tersebut bersamaan dengan gonjang-ganjing rupiah yang terus melemah akibat tensi geopolitik yang terus memanas di Timur Tengah antara AS dan Iran," kata Ibrahim, Senin (27/7/2026).

Di samping elemen aksi stabilisasi otoritas moneter, sentimen buruk turut bersumber dari kondisi keuangan negara.

Ibrahim menerangkan bahwasanya perbandingan utang tanah air sewaktu ini berada pada rentang 40% dari PDB.

Sementara itu, dari Sumbernya mengabarkan bahwasanya para pengamat sektor keuangan telah memberikan peringatan bahwasanya mundurnya Pimpinan BI secara mendadak mampu memicu kecemasan para pemodal yang sebelumnya telah merisaukan potensi keuangan serta ketidakberpihakan bank sentral.

"Warjiyo, yang memulai masa jabatan lima tahun keduanya pada 2023, menghadapi tekanan yang kian besar untuk menyelaraskan kebijakan dengan agenda pertumbuhan pemerintah saat nilai tukar rupiah menyentuh rekor terendah pada bulan Juni," tulis laporan tersebut.

Pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode Juli 2026, otoritas moneter menetapkan untuk menetapkan patokan bunga acuan pada besaran 5,75%.

Ketetapan ini bertolak belakang dibanding perkiraan umum pasar yang menduga adanya peningkatan susulan seusai lonjakan kumulatif sejumlah 100 basis poin dari bulan Mei.

"Di tingkat global, nilai tukar dolar AS melemah seiring turunnya harga minyak setelah meredanya ketegangan antara AS dan Iran, yang turut meredakan kekhawatiran terkait pasokan dan inflasi," tulisnya.

Reporter: Moch Febrianto