Rupiah Kembali Tertekan Ditengah Tren Penguatan Mata Uang Asia Lainnya
JAKARTA - Nilai tukar mata uang rupiah mencatatkan penurunan selama empat hari beruntun.
Senin (27/7), nilai kurs mata uang rupiah pada pasar spot tergerus Rp 46 atau 0,26% ke angka Rp 18.009 per dolar Amerika Serikat (AS).
Sejalan dengan hal tersebut, nilai kurs rupiah Jisdor ikut melorot Rp 22 atau 0,12% ke posisi Rp 17.995 per dolar AS.
Sektor keuangan dalam negeri dikagetkan oleh kabar mendadak mengenai Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo yang memutuskan mundur dari jabatannya.
Lembaga Fitch Ratings memperkirakan bahaya potensi tekanan eksternal lanjutan untuk Indonesia yang berkaitan dengan kecemasan terhadap bank sentral.
"Dalam pernyataan setelah pengunduran diri Perry, Fitch Ratings melihat risiko yang timbul dari sentimen investor yang rapuh di tengah ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter pada masa depan dan persepsi independensi bank sentral, terutama mengingat mandat kebijakan Bank Indonesia yang lebih kompleks," bunyi pernyataan dari Sumbernya.
Rupiah merosot pada saat tren penguatan melanda valuta-valuta di Asia.
Selain mata uang rupiah, hanya won Korea yang tercatat melemah sebanyak 0,68%.
Hampir seluruh mata uang di wilayah Asia bergerak melesat dibanding dolar AS.
Mata uang Rupee India melonjak 0,74%.
Mata uang Baht Thailand bertambah 0,37%.
Mata uang Dolar Taiwan melesat 0,27%.
Mata uang Peso Filipina menanjak 0,26%.
Mata uang Yen Jepang bertambah 0,17%.
Mata uang Ringgit Malaysia naik 0,11%.
Mata uang Yuan China terangkat 0,08%.
Mata uang Dolar Singapura terangkat 0,04%.
Mata uang Dolar Hong Kong menanjak sedikit 0,008%.
Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan kekuatan kurs dolar AS atas valuta utama global terdepresiasi 0,19% menjadi 101,28.
Sektor finansial mancanegara sedang menunggu keputusan agenda rapat Federal Open Market Committee yang digelar tanggal 28-29 Juli 2026.
Traders obligasi memperkirakan probabilitas kenaikan tingkat suku bunga Federal Reserve sekitar 1:3 dipicu ketegangan regional di kawasan Timur Tengah dan kecemasan seputar inflasi.
Seluruh investor mengalkulasi prospek penyesuaian naik suku bunga untuk kali pertama semenjak tahun 2023.