Harga Emas Dan Perak Melambung Usai Konflik AS Dan Iran Mulai Mereda

Harga Emas Dan Perak (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Selasa, 28 Juli 2026 | 10:12:14 WIB

JAKARTA - Nilai jual emas mengalami kenaikan usai jeda pertikaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran membuat harga minyak mentah merosot ke tingkat terendah dalam kurun satu pekan.

Kemerosotan nilai jual minyak menekan rasa khawatir terhadap inflasi jelang penetapan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada pekan ini.

Berdasarkan data Refinitiv, nilai jual emas pada penutupan transaksi Senin (27/7/2026) berada di angka US$4075,16 per troy ons.

Nilainya mengalami penguatan sebesar 0,58%.

Pertambahan ini melanjutkan tren positif emas yang melaju 0,7% pada dua hari belakangan.

Nilai jual emas mengalami sedikit penurunan pada hari ini.

Pada Selasa (28/7/2026) pukul 06.42 WIB, nilai jual emas terdepresiasi 0,07% menuju US$ 4072 per troy ons.

Pelemahan emas didorong oleh melandainya harga minyak serta mata uang dolar AS.

Pada Senin, kontrak minyak mentah Brent untuk pengiriman September melorot 8,7% menjadi US$88,36 per barel.

Di sisi lain, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS mengalami penurunan 7,5% dan mengakhiri sesi di level US$82,61 per barel.

"Yang terutama kami lihat adalah harga minyak turun dari di atas US$100 pekan lalu menjadi sekitar US$90, dan itu mendorong ekspektasi suku bunga menjadi lebih rendah," kata Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, dikutip dari Sumbernya.

Nilai jual minyak Brent merosot usai Presiden AS Donald Trump menyampaikan kepada para wartawan bahwa AS tengah melangsungkan dialog yang positif bersama Iran.

Kedua negara menghentikan sementara tindakan saling serang pada akhir pekan setelah dua minggu terlibat konflik.

Tindakan tersebut menghadirkan asa akan hadirnya jalan keluar diplomatik yang mampu meredakan ketegangan sekaligus membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Penurunan harga energi turut membantu meredakan tekanan inflasi serta mengurangi perkiraan bahwa suku bunga tinggi akan berlangsung lebih lama.

Kendati emas dikenal sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi, lonjakan suku bunga biasanya menekan daya tarik logam mulia akibat tidak menghasilkan imbal hasil.

Para pelaku pasar saat ini tengah menantikan keputusan suku bunga Federal Reserve pada hari Rabu.

Berdasarkan data CME FedWatch, pasar memproyeksikan probabilitas sebesar 62% bahwa The Fed akan mempertahankan tingkat suku bunga pada pertemuan saat ini.

Kendati demikian, para pelaku pasar juga memprediksi peluang sekitar 82% bahwa bank sentral AS tersebut bakal kembali menaikkan suku bunga pada September.

Di samping itu, para investor juga menunggu rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat periode Juni pada hari Kamis.

Informasi inflasi yang menjadi patokan utama The Fed tersebut bakal menyajikan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter.

Sementara itu, data dari Departemen Sensus dan Statistik Hong Kong memperlihatkan impor bersih emas China lewat Hong Kong pada Juni melonjak lebih dari dua kali lipat dibanding kurun waktu yang sama tahun lalu.

Meskipun begitu, volumenya masih mengalami penurunan lebih dari 5% jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Nilai jual perak pun semakin berkilau.

Berdasarkan data Refinitiv, harga perak pada penutupan perdagangan Senin (27/7/2026) berada di level US$58,41 per troy ons.

Nilainya mengalami kenaikan 0,85%.

Kenaikan ini melajukan tren positif emas yang menguat 1,3% dalam dua hari belakangan.

Pada Selasa (28/7/2026) pukul 06.44 WIB, harga perak mengalami penurunan tipis 0,02% menuju level US$ 58,39 per troy ons.

Reporter: Moch Febrianto