Pergerakan Mata Uang Asia Melemah: Rupiah Merosot Tajam Dekati 18.000
JAKARTA - Dominasi mata uang Asia terdevaluasi atas dolar Amerika Serikat (AS). Gejolak berlangsung di tengah fluktuasi dolar AS di bursa internasional mendekati akhir pekan.
Mengacu data Refinitiv pada transaksi Jumat (24/7/2026) per pukul 09.15 WIB, dari 10 valuta Asia, sebanyak enam valuta merosot terhadap dolar AS, tiga valuta terangkat, dan satu valuta bertahan stabil.
Rupiah menjadi nilai tukar dengan hantaman paling berat pada pagi ini. Rupiah Garuda terkikis 0,48% ke tingkat Rp17.975/US$. Angka ini membuat rupiah kembali berada sangat dekat dengan batas psikologis Rp18.000/US$.
Tekanan turut terlihat pada nilai tukar tetangga, ringgit Malaysia yang menyusut 0,12% ke angka MYR 4,092/US$. Peso Filipina melemah 0,10% ke PHP 61,792/US$, sedangkan yuan China tertekan 0,08% ke CNY 6,775/US$.
Dolar Taiwan juga masuk zona merah setelah terkoreksi 0,04% ke posisi TWD 32,312/US$, diikuti dong Vietnam yang tergerus tipis 0,03% ke VND 26.322/US$.
Di sisi lain, won Korea Selatan malah mampu mencatatkan tren positif hingga menjadi mata uang dengan penguatan paling tinggi di Asia. Won menguat 0,77% ke tingkat KRW 1.463,5/US$.
Dolar Singapura turut melesat 0,06% ke SGD 1,292/US$, sementara yen Jepang merambat 0,05% ke posisi JPY 163,76/US$. Adapun baht Thailand bergerak mendatar di posisi THB 33,80/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) terlihat tergerus 0,06% ke tingkat 101,383 pada pagi ini. Walau bergerak turun tipis, DXY pada transaksi sebelumnya sukses melesat tajam 0,32% sekaligus membawa DXY ke posisi puncaknya dalam rentang tiga pekan terakhir.
Kenaikan tersebut didukung oleh eskalasi hasil obligasi pemerintah AS. Lonjakan yield terjadi usai harga minyak kembali melambung dan perang dagang global kembali memicu keprihatinan inflasi.
Lonjakan pada tarif energi dunia ikut menjadi pengaruh utama. Pada penutupan transaksi Kamis (23/7/2026) harga minyak acuan Brent kembali menanjak di atas US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei.
Lonjakan harga minyak dipicu insiden kelompok Houthi Yaman terhadap dua kapal tanker minyak Saudi di Perairan Merah. Serangan ini memperlebar bahaya perang Timur Tengah ke perlintasan energi penting lainnya, setelah sebelumnya bursa juga mencermati kendala di Selat Hormuz.
Di sisi lain, tekanan inflasi juga membengkak akibat kebijakan tarif AS. Rezim Presiden Donald Trump menyatakan bakal menerapkan tarif baru sebesar 10% dan 12,5% terhadap komoditas dari 60 mitra dagang. Kebijakan ini hadir sewaktu tarif global sementara sebesar 10% hendak usai.
Vishnu Varathan, head of macro strategy for Asia-Pacific Mizuho, menganggap dunia kini menghadapi dua tekanan sekaligus dari minyak dan tarif.
"Dunia harus bersiap menghadapi pukulan ganda dari tarif, karena pada dasarnya minyak adalah tarif," ujar Varathan, dikutip dari Sumbernya.
Situasi ini menjadikan imbal hasil Treasury AS terangkat. Yield tenor 10 tahun sempat melonjak ke atas 4,7%, level tertinggi dalam lebih dari 18 bulan. Sementara itu, yield tenor 30 tahun masih bertahan di atas 5%.
Eskalasi yield menjadikan instrumen berbasis dolar kembali lebih menarik bagi pemodal. Dolar AS pun tetap memperoleh sokongan, walau pagi ini DXY bergerak sedikit menyusut.
Investor kini menantikan agenda bank sentral utama pada minggu depan, termasuk bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed). Eskalasi inflasi yang membengkak membuat arah kebijakan suku bunga AS kembali menjadi fokus utama pasar.
Leonard Kwan, fixed-income portfolio manager T. Rowe Price, menilai langkah The Fed yang memangkas forward guidance juga sanggup memperketat kondisi keuangan tanpa mesti langsung menaikkan suku bunga.
"Menghapus forward guidance atau mengurangi forward guidance, menurut kami, adalah bentuk pengetatan kondisi keuangan tanpa benar-benar harus menaikkan suku bunga," ujar Kwan, dikutip dari Sumbernya.