Pengusaha Kepri Didorong Mampu Akses Alternatif Pembiayaan Pasar Modal
BATAM - Sekitar 100 pebisnis dan anggota Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kepulauan Riau memenuhi lantai dua Swiss-Belhotel Harbour Bay, Batam, Kamis (23/7).
Para peserta mengikuti seminar Go Public bertajuk Road to Go Public yang diselenggarakan Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Kadin Provinsi Kepri dan Kadin Kota Batam.
Ajang tersebut menjadi wadah bagi pelaku usaha untuk memahami opsi pembiayaan melalui pasar modal.
Selama ini, mayoritas pebisnis masih mengandalkan pinjaman bank dan dana pribadi guna mengembangkan lini usaha.
Kepala Divisi Pengembangan Perusahaan Tercatat BEI, Listyorini Dian Pratiwi, menyampaikan forum tersebut ditujukan untuk mengenalkan tahapan entitas bisnis menuju penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO).
Menurut beliau, peluang korporasi di Kepri untuk masuk ke bursa saham amat besar.
Wilayah ini mempunyai bermacam sektor usaha, mulai dari galangan kapal, manufaktur, jasa hingga properti.
“Jadi di kegiatan ini, ini merupakan suatu kegiatan yang sangat baik. Kami support karena memang kami mendorong perusahaan-perusahaan lokal untuk memperkenalkan bagaimana tahapan-tahapan IPO untuk bisa melantai di bursa,” kata Listyorini.
Beliau menyampaikan saat ini baru sekitar empat korporasi asal Kepri yang telah terdaftar di bursa.
BEI memacu lebih banyak entitas lokal untuk mulai membenahi diri guna mengakses dana segar melalui bursa saham.
Listyorini mengungkapkan kebutuhan dana dunia usaha di Kepri kian meningkat seiring laju pertumbuhan ekonomi serta investasi.
Mengacu pada data yang beliau paparkan, lonjakan kredit di Kepri secara tahunan menembus sekitar 39 persen.
Menurut beliau, kondisi itu memperlihatkan tingginya kebutuhan pembiayaan dari para pelaku usaha.
Oleh sebab itu, korporasi tidak sepatutnya cuma bertumpu pada pinjaman perbankan atau modal pribadi.
“Ini peluang yang sangat besar untuk pengusaha di Kepri untuk melanjutkan perjalanan pendanaannya, bukan hanya berhenti kepada pendanaan dari perbankan dan juga dari kantong pribadi, tapi juga dari pasar modal,” ujarnya.
Kendati demikian, bertransformasi menjadi perusahaan publik bukanlah hal yang mudah.
Pelaku usaha wajib merapikan tata kelola, penyusunan laporan keuangan, standar operasional prosedur, serta menyiapkan organ entitas sesuai aturan yang berlaku.
Listyorini menyebut tantangan terbesar justru bersumber dari internal entitas itu sendiri.
“Yang terpenting adalah bagaimana perusahaan mulai menata aspek-aspek GCG dari perusahaan. Penyusunan laporan keuangan, kemudian laporan keuangan yang diaudit oleh auditor eksternal, penyusunan SOP perusahaan, kemudian juga ada organ-organ GCG untuk perusahaan,” katanya.
Beliau menegaskan persiapan tersebut selayaknya dilakukan jauh-jauh hari sebelum korporasi memutuskan masuk ke bursa modal.
Langkah itu dilakukan agar ketika momentum melakukan IPO tiba, entitas telah mengantongi kesiapan yang matang.
Ketua Kadin Provinsi Kepri Mustava menyampaikan laju ekonomi Kepri pada 2025 menembus 7,48 persen atau menjadi yang tertinggi ketiga di tingkat nasional.
Pertumbuhan itu, menurut beliau, harus dibarengi dengan peningkatan kapasitas serta daya saing dunia bisnis lokal.
Beliau memandang akses permodalan menjadi salah satu faktor krusial bagi korporasi dalam melangsungkan ekspansi.
“Go public bukan hanya sekadar mencari sumber pendanaan, tetapi juga merupakan transformasi menuju tata kelola perusahaan yang lebih baik, transparan, dan profesional,” kata Mustava.
Kadin Kepri, ujar beliau, memayungi lebih dari 1.500 korporasi yang telah mengantongi Kartu Tanda Anggota Kadin.
Beliau berharap sebagian entitas tersebut mulai memperhitungkan pasar modal sebagai salah satu opsi pembiayaan jangka panjang.
“Kami mengajak seluruh anggota Kadin, khususnya para pelaku usaha di Kepulauan Riau, untuk mulai membuka wawasan dan mempertimbangkan pasar modal sebagai salah satu pembiayaan yang strategis dan berkelanjutan,” ujarnya.
Pada kesempatan terpisah, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kepulauan Riau Sinar Danandjaya menuturkan penguatan integritas menjadi salah satu fokus dalam pengembangan pasar modal.
Menurut beliau, para pemodal saat ini tidak cuma memperhitungkan potensi keuntungan finansial, melainkan juga menilai keterbukaan serta tata kelola entitas bisnis.
Beliau memaparkan pasar modal Indonesia hingga 17 Juli 2026 mencatatkan nilai kapitalisasi sebesar Rp10.749 triliun dengan basis pemodal menembus 29.547.625 berpatokan pada single investor identification (SID).
Pemodal domestik menyumbang sekitar 64 persen dari total pemodal bursa saham.
Kondisi tersebut, menurut Sinar, memperlihatkan kian dominannya peran pemodal lokal dalam menopang pasar modal Indonesia.
“Paradigma investor telah berubah. Dulu hanya mencari keuntungan ekonomi semata. Sekarang investor mulai menilai kualitas transparansi, tata kelola, dan market integrity,” kata Sinar.
OJK, ujar beliau, kini tengah mendorong dua agenda mendasar, yakni penguatan integritas pasar dan pendalaman pasar.
Keduanya dinilai wajib berjalan beriringan agar bursa modal sanggup menjadi tempat pembiayaan yang sehat bagi perekonomian.
Sinar menegaskan bursa modal tidak seharusnya dipandang sekadar tempat transaksi saham.
Pasar modal dapat menjadi salah satu pemacu pembiayaan pembangunan daerah, termasuk lewat IPO korporasi lokal serta penerbitan obligasi perusahaan.
“Pasar modal adalah wadah yang nyata sebagai sumber utama pembiayaan pembangunan daerah, termasuk akselerasi IPO perusahaan lokal dan optimalisasi obligasi korporasi,” ujarnya.
Dalam agenda seminar tersebut, tiga pemateri utama turut hadir menyampaikan paparan mengenai alur menuju perusahaan publik.
Ketiga pemateri yaitu Kepala Unit Pengembangan Calon Perusahaan Tercatat I BEI Yan Hendrick Simorangkir, Manager Investment Banking Panca Global Sekuritas Melina Dewi, dan Corporate Secretary PT Puri Global Sukses Tbk Jessica.
Gelaran ini turut mendapat dukungan dari Sumbernya, BEI, Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Kadin Provinsi Kepri, dan Kadin Kota Batam.