BI Menambah Instrumen Yuan Offshore Demi Memperkuat Transaksi Mata Uang
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memperbanyak instrumen operasi moneter valas lewat pengenalan transaksi spot maupun swap dalam valuta offshore Chinese Renminbi (CNH) terhadap mata uang rupiah.
Langkah ini ditempuh seiring kian maraknya penggunaan mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT) pada penyelesaian transaksi perdagangan maupun investasi.
Sebagaimana dikutip dari Sumbernya, Rabu (22/7/2026), langkah tersebut merupakan bagian dari upaya memperdalam pasar valas domestik, memperkokoh efektivitas kebijakan moneter, serta mendorong penggunaan mata uang lokal pada transaksi antarnegara.
Ke depannya, BI hendak terus memperluas beragam insentif guna memelihara daya tarik aset keuangan domestik untuk pemodal asing sekaligus memperkokoh stabilitas nilai tukar rupiah.
Bank Indonesia optimistis nilai tukar rupiah bakal tetap stabil dan cenderung menguat, ditopang oleh komitmen bank sentral pada penjagaan stabilitas lewat beragam instrumen kebijakan, imbal hasil aset domestik yang tetap menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dinilai masih bagus.
Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 21–22 Juli 2026, BI menetapkan BI-Rate tetap pada level 5,75%. Selain itu, bank sentral mendongkrak insentif bagi pemodal yang menjalankan Swap Jual Lindung Nilai dari 10% menjadi 12,5%, serta menaikkan insentif Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) Jual Lindung Nilai menjadi 15%.
BI pun mengucurkan insentif tambahan bagi transaksi yang memanfaatkan mata uang lokal dibandingkan dolar AS. Sampai saat ini, kerja sama LCT telah terjalin bersama enam negara, yakni Malaysia, Thailand, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.
Menurut seorang pengamat, masuknya instrumen operasi moneter dalam yuan offshore (CNH) mencerminkan penyesuaian bauran kebijakan BI terhadap semakin maraknya penggunaan mata uang lokal pada perdagangan dan investasi, utamanya dengan Tiongkok sebagai mitra dagang terbesar Indonesia.
"Langkah ini menunjukkan BI memperluas pilihan instrumen operasi moneter untuk mengakomodasi meningkatnya transaksi lintas negara yang menggunakan mata uang lokal. Ini bukan sekadar pengembangan instrumen teknis, tetapi juga bagian dari pendalaman pasar keuangan domestik," katanya.
Selama ini operasi moneter valas BI bertumpu pada instrumen berbasis dolar AS. Tindakan intervensi dijalankan lewat kombinasi transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) pada pasar luar negeri serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) pada pasar domestik.
Cadangan devisa Indonesia yang menjadi salah satu penyokong stabilitas nilai tukar berada pada angka US$145,6 miliar pada akhir Juni 2026 atau setara pembiayaan sekitar 5,5 bulan impor.
Mata uang rupiah menguat menuju Rp17.885 per dolar AS pada 21 Juli setelah sebelumnya tertekan lantaran meningkatnya ketidakpastian global, termasuk eskalasi konflik di Timur Tengah dan ekspektasi kenaikan Fed Funds Rate (FFR) pada kuartal IV 2026. Pada saat bersamaan, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun merangkak ke 4,56%, sehingga memicu sebagian arus modal global berpindah ke aset-aset dolar yang dinilai lebih aman.
Menurut pengamat tersebut, kehadiran instrumen CNH-Rupiah lebih tepat dipandang sebagai diversifikasi instrumen operasi moneter ketimbang pergeseran arah kebijakan dari dolar AS ke yuan.
"Tiongkok merupakan mitra dagang terbesar Indonesia sehingga kebutuhan pelaku usaha untuk melakukan lindung nilai (hedging) dalam yuan juga terus meningkat. Penambahan instrumen ini memberi alternatif yang lebih efisien bagi transaksi perdagangan dan investasi yang memang menggunakan mata uang tersebut," ujarnya.
Dia menganggap langkah BI juga selaras dengan kian berkembangnya implementasi LCT di kawasan Asia. Penggunaan mata uang lokal dinilai sanggup menekan biaya konversi valas, meningkatkan efisiensi transaksi lintas negara, serta memperdalam pasar keuangan domestik.
Kendati demikian, pengamat menilai langkah tersebut belum mencerminkan pergeseran operasi moneter BI dari dolar AS ke yuan. Kehadiran instrumen CNH-Rupiah lebih berupa pelengkap dalam bauran kebijakan moneter untuk mendukung transaksi berbasis mata uang lokal, sedangkan dolar AS diperkirakan masih bakal tetap menjadi mata uang utama pada operasi moneter BI.
Danamon: Hawkish Hold
Berkaitan dengan kebijakan tersebut, Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk., Irman Faiz, menganggap keputusan BI mempertahankan BI-Rate pada level 5,75% disertai penguatan beragam instrumen non-suku bunga menunjukkan bank sentral memperluas bauran kebijakan moneternya (policy toolkit).
Menurut Irman, ketimbang melakoni front-loading kenaikan suku bunga, BI memilih memperkuat stabilitas rupiah lewat beragam instrumen non-suku bunga.
Dalam laporan Indonesia Macro Glint, Danamon menerangkan peningkatan insentif Swap Jual Lindung Nilai menjadi 12,5%, insentif DNDF Jual Lindung Nilai sebesar 15%, insentif tambahan bagi transaksi Local Currency Transaction (LCT), serta intervensi berkelanjutan pada pasar spot, DNDF, dan offshore NDF merupakan bagian dari strategi BI untuk memelihara arus masuk investasi portofolio, memperdalam pasar valas domestik, serta mempertahankan daya tarik aset keuangan Indonesia di tengah meningkatnya tekanan eksternal.
"Kami menafsirkan keputusan BI sebagai hawkish hold, bukan dovish pivot," tulis Irman, dalam laporannya.
Menurut Irman, keputusan tersebut menunjukkan BI masih mengedepankan stabilitas nilai tukar dan pengelolaan risiko eksternal, walaupun memilih mempertahankan suku bunga acuan.
Dengan kata lain, bank sentral tetap mempertahankan sikap kebijakan yang cenderung ketat (hawkish), tetapi ditempuh lewat penguatan beragam instrumen non-suku bunga, bukan lewat kenaikan BI-Rate.
Menurut Danamon, pendekatan tersebut memungkinkan BI memelihara stabilitas rupiah tanpa menambah dampak pengetatan moneter terhadap pertumbuhan ekonomi, sembari tetap merespons risiko dari kenaikan imbal hasil US Treasury, menguatnya dolar AS, dan meningkatnya ketidakpastian global.