Analisis Goldman Sachs Mengungkap Pembelian Emas China Sangat Tinggi

Analisis Goldman Sachs (FOTO: NET)
Penulis: Moch Febrianto
Rabu, 22 Juli 2026 | 11:23:27 WIB

LONDON - Goldman Sachs menaksir akumulasi logam mulia Tiongkok berpeluang amat melampaui angka resmi yang dipublikasikan otoritas.

Bank investasi tersebut menganggap penambahan emas oleh bank sentral bakal terus menjadi pendorong harga emas di tengah harapan kebijakan ketat moneter dari Federal Reserve (The Fed).

Seperti diwartakan InvestingLive, Goldman Sachs mengestimasi bahwa Tiongkok mengamankan lebih dari 48 ton emas lewat pasar over-the-counter (OTC) London pada Mei 2026.

Jumlah itu mendekati lima kali lebih tinggi dibandingkan laporan resmi sebesar 10 ton yang diumumkan dari Sumbernya.

Menurut Goldman Sachs, transaksi emas oleh bank sentral di seluruh dunia sejatinya jauh lebih besar dibanding yang terlihat pada laporan cadangan resmi.

Bank tersebut memperkirakan bagian terbesar kenaikan permintaan ini bersumber dari Tiongkok.

Arus perkembangan ini diperkirakan akan menjadi penahan penurunan harga emas meskipun pada periode pendek logam mulia masih mengalami tekanan akibat meningkatnya dugaan kebijakan suku bunga tinggi The Fed.

Goldman Sachs juga tetap melihat pengumpulan emas oleh bank sentral sebagai pergeseran struktural jangka panjang yang didasari oleh diversifikasi simpanan devisa menjauhi aset berdenominasi dolar AS.

Lantaran hal tersebut, bank ini memegang teguh proyeksi harga emas dapat menyentuh US$4.900 per troy ons di akhir 2026.

Selain itu, Goldman Sachs menilai porsi emas dalam simpanan investor swasta masih cukup rendah sehingga potensi permintaan dapat meluas bilamana ancaman geopolitik terus membumbung.

Mengacu pada perhitungan Goldman Sachs, Tiongkok menumpuk lebih dari 48 ton emas melalui pasar OTC London pada Mei, yang tercatat sebagai transaksi bulanan terbesar dalam kurun waktu lebih dari satu tahun.

Angka tersebut sekitar 4,8 kali lebih banyak dibanding data resmi yang dikeluarkan dari Sumbernya untuk durasi yang sama.

Secara tercatat, dari Sumbernya telah meningkatkan cadangan emas sebesar 40 ton sepanjang 2026, termasuk transaksi 15 ton pada Juni yang menjadi akumulasi bulanan terbesar dalam kurun sedikitnya dua setengah tahun sekaligus melanjutkan tren kenaikan cadangan emas hingga 20 bulan berturut-turut.

Dengan menerapkan perkalian yang lebih moderat, yaitu dua kali lipat dari data resmi, Goldman Sachs memprediksi total akumulasi emas Tiongkok sepanjang 2026 mampu menyamai 80 ton.

Lewat kalkulasi terkini (nowcast), Goldman Sachs menaksir jumlah akumulasi emas oleh bank sentral dunia menyentuh 81 ton pada Mei atau sekitar 67 ton per bulan berdasar rerata tiga bulan yang telah diselaraskan secara musiman.

Bila dibandingkan, rerata pembelian sebelum 2022 hanya berkisar 17 ton per bulan.

Bank investasi ini menganggap percepatan penambahan emas belakangan ini terutama didorong oleh Tiongkok dan menjadi elemen yang menahan harga emas tetap kokoh walaupun pasar diterpa tekanan dari arah kebijakan ketat moneter The Fed.

Goldman Sachs kembali menggarisbawahi bahwa perburuan emas oleh bank sentral adalah arah jangka panjang yang dipicu oleh tindakan diversifikasi cadangan devisa untuk perisai terhadap risiko geopolitik maupun ekonomi.

Berdasarkan penilaian bank itu, pembekuan simpanan devisa Rusia pada 2022 menjadi salah satu pendorong utama negara-negara berkembang untuk mengakselerasi diversifikasi cadangan ke bentuk emas.

Goldman Sachs konsisten memakai perkiraan rata-rata perolehan emas bank sentral sebesar 50 ton tiap bulan pada 2026 serta 40 ton tiap bulan pada 2027.

Meski pada jangka pendek nilai emas masih berisiko tertekan apabila pasar kembali mengkalkulasi potensi lonjakan suku bunga The Fed, para ekonom Goldman Sachs menaksir bank sentral AS tidak akan mengerek suku bunga pada tahun ini.

Sebab porsi pemodal swasta terhadap emas yang masih minim, Goldman Sachs menilai kecenderungan harga emas pada jangka menengah masih berprospek menguat.

Reporter: Moch Febrianto