Goldman Sachs Proyeksikan Cadangan Emas Tiongkok Melampaui Data Resmi
LONDON - Goldman Sachs memproyeksikan penumpukan emas Tiongkok kemungkinan amat lebih tinggi ketimbang data resmi yang dirilis pemerintah.
Lembaga keuangan tersebut menilai aksi borong emas oleh bank sentral bakal tetap menjadi penyangga harga logam mulia di tengah perkiraan kebijakan moneter ketat dari Federal Reserve (The Fed).
Sebagaimana dilansir InvestingLive, Goldman Sachs menaksir bahwa Tiongkok memboyong lebih dari 48 ton emas melalui pasar over-the-counter (OTC) London pada Mei 2026.
Angka itu nyaris lima kali lipat lebih besar dibanding transaksi resmi sebesar 10 ton yang disampaikan dari Sumbernya.
Sesuai analisa Goldman Sachs, aksi beli emas oleh bank sentral di tingkat global tetap jauh lebih tinggi ketimbang yang tercatat dalam data simpanan resmi.
Lembaga tersebut menaksir mayoritas lonjakan kebutuhan berasal dari Tiongkok.
Kecenderungan ini diprediksi bakal menjadi penahan harga emas walaupun dalam jangka pendek logam mulia masih mendapat tekanan dari meningkatnya ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi The Fed.
Goldman Sachs pun tetap menganggap penumpukan emas oleh bank sentral sebagai kecenderungan struktural jangka panjang yang dipicu oleh diversifikasi cadangan devisa keluar dari aset berbasis dolar AS.
Atas dasar itu, lembaga tersebut mempertahankan perkiraan harga emas menyentuh US$4.900 per troy ons pada penghujung 2026.
Di samping itu, Goldman Sachs menganggap kepemilikan emas di portofolio pemodal swasta masih relatif terbatas sehingga kebutuhan berpeluang meluas jika risiko geopolitik terus menanjak.
Berdasarkan taksiran Goldman Sachs, Tiongkok mengumpulkan lebih dari 48 ton emas lewat pasar OTC London pada Mei, yang menjadi transaksi bulanan terbesar dalam kurun waktu lebih dari satu tahun.
Total tersebut kira-kira 4,8 kali lebih masif dibanding data resmi yang disampaikan dari Sumbernya untuk jangka waktu yang sama.
Secara formal, dari Sumbernya telah menambah simpanan emas sebesar 40 ton selama 2026, termasuk transaksi 15 ton pada Juni yang menjadi penambahan bulanan paling besar dalam kurun sekurangnya dua setengah tahun sekaligus memperpanjang kenaikan simpanan emas menjadi 20 bulan berturut-turut.
Dengan memakai perbandingan yang lebih hati-hati, yaitu dua kali lipat dari angka resmi, Goldman Sachs menaksir total penumpukan emas Tiongkok selama 2026 dapat mendekati 80 ton.
Dalam proyeksi terkini (nowcast), Goldman Sachs memprediksi total aksi borong emas oleh bank sentral dunia menyentuh 81 ton pada Mei atau berkisar 67 ton per bulan mengacu pada rata-rata tiga bulan yang sudah disesuaikan secara musiman.
Sebagai pembanding, rata-rata transaksi sebelum 2022 cuma sekitar 17 ton per bulan.
Lembaga tersebut menilai lonjakan aksi borong emas dalam beberapa waktu belakangan utamanya dipicu oleh Tiongkok dan bakal menjadi pendorong yang menjaga harga emas tetap kokoh meski pasar mengalami tekanan dari prospek kebijakan moneter ketat The Fed.
Goldman Sachs kembali menegaskan bahwasanya aksi borong emas oleh bank sentral merupakan kecenderungan jangka panjang yang dipicu oleh langkah diversifikasi cadangan devisa sebagai perlindungan atas risiko geopolitik serta finansial.
Sesuai pandangan lembaga tersebut, pembekuan cadangan devisa Rusia pada 2022 menjadi salah satu pemicu utama negara-negara berkembang guna mempercepat diversifikasi simpanan ke emas.
Goldman Sachs mempertahankan patokan rata-rata aksi beli emas bank sentral sebesar 50 ton per bulan pada 2026 dan 40 ton per bulan pada 2027.
Walau dalam kurun pendek harga emas masih bisa tertekan jika pasar kembali memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Fed, para pakar ekonomi Goldman Sachs memprediksi bank sentral AS tidak bakal menaikkan suku bunga tahun ini.
Dengan keterpaparan pemodal swasta pada emas yang masih minim, Goldman Sachs menilai prospek harga emas dalam jangka menengah tetap berpotensi menguat.