Harga Emas Global Bertahan Di USD 4.080 Akibat Konflik Timur Tengah
JAKARTA - Harga Logam mulia internasional sukses mempertahankan lonjakannya pada level USD 4.080 per ons di sesi perdagangan hari Rabu.
Kenaikan yang baik ini diteruskan setelah logam mulia tersebut terangkat mendekati 2 persen pada perdagangan sebelumnya.
Seluruh investor saat ini terus mengawasi perkembangan ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah serta lonjakan nilai minyak dunia.
Gejolak ini dipandang berpotensi memicu laju inflasi dan mempengaruhi ketetapan suku bunga acuan.
Memanasnya situasi geopolitik menjadi faktor utama pergerakan pasar.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump meremehkan peluang pembicaraan jangka pendek dengan Iran dan memperingatkan potensi serangan tambahan.
Dalam waktu yang sama, pemberontak Houthi di Yaman terus mengganggu jalur pengiriman strategis di Laut Merah.
Kekhawatiran suplai energi dunia kian melonjak akibat serangkaian serangan terhadap terminal Caspian Pipeline Consortium di sepanjang pantai Laut Hitam, Rusia.
Bukan hanya faktor geopolitik, lesunya pasar tenaga kerja Amerika Serikat ikut menopang pergerakan harga emas.
Data Automatic Data Processing (ADP) yang dikeluarkan dari Sumbernya mencatat pemberi kerja swasta di Amerika Serikat menambah rata-rata 16.500 pekerjaan per minggu selama empat minggu yang berakhir pada 4 Juli.
Angka ini turun dari rata-rata 19.250 pekerjaan per minggu pada periode sebelumnya, sekaligus menandai perlambatan perekrutan selama empat minggu berturut-turut.
Kondisi finansial tersebut memengaruhi proyeksi atas arah moneter Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed).
Pasar memprediksi The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan minggu depan.
Namun, para pelaku pasar melihat ada peluang lebih dari 55 persen untuk kenaikan suku bunga pada bulan September mendatang.
Dinamika nilai emas dunia ini memberikan pengaruh langsung terhadap pasar keuangan Indonesia.
Peningkatan harga emas dunia dan lonjakan harga minyak berpotensi menekan nilai tukar rupiah serta memperbesar biaya energi impor nasional.
Di sisi lain, tren ini umumnya ikut mengerek harga emas batangan domestik seperti Antam, yang menjadi pilihan instrumen lindung nilai bagi investor Indonesia di tengah bayang-bayang inflasi global.