The Fed Naikkan Bunga ke 3,75-4%, Dolar AS Tekan Rupiah ke Rp 17.753

RE
Jumat, 18 September 2026
The Fed Naikkan Bunga ke 3,75-4%, Dolar AS Tekan Rupiah ke Rp 17.753

WARTAFINANSIAL.COM — Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi kisaran 3,75-4% dalam rapat FOMC, kenaikan pertama sejak Juli 2023. Keputusan bulat 12-0 itu langsung menguatkan dolar AS dan menekan sejumlah mata uang Asia, termasuk rupiah yang melemah ke Rp 17.753 per dolar AS.

Keputusan itu diambil dengan suara bulat 12-0. The Fed juga memberi sinyal masih terbuka peluang menaikkan suku bunga lagi hingga akhir tahun demi meredam inflasi.

Rupiah dan Mata Uang Asia di Bawah Tekanan

Dolar AS menguat terhadap rupiah ke level Rp 17.753, naik 0,32% berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (17/9) pukul 13.18 WIB. Ringgit Malaysia juga tertekan ke MYR 4,0967 per dolar AS, melemah 0,50%.

Tekanan serupa dialami won Korea yang melemah 0,49% ke KRW 1.383,1 per dolar AS. Dolar Taiwan turun 0,27% ke TWD 31,86, sementara peso Filipina melemah tipis 0,02% ke PHP 62,7450.

Di sisi lain, sejumlah mata uang Asia justru menguat. Yen Jepang naik 0,44% ke JPY 155,58 per dolar AS, disusul dolar Singapura yang menguat 0,18% ke SGD 1,275.

Yuan China dan baht Thailand masing-masing menguat tipis 0,02% dan 0,13%, berada di CNY 6,7074 dan THB 33,33 per dolar AS.

Bitcoin Ikut Terangkat ke US$ 76.400

Kebijakan The Fed turut menopang harga Bitcoin. Berdasarkan pantauan CoinMarketCap pada Kamis (17/9) sekitar pukul 12.06 WIB, BTC diperdagangkan di kisaran US$ 76.442, naik 1,05% dalam 24 jam terakhir.

Kapitalisasi pasar Bitcoin tercatat sekitar US$ 1,53 triliun, naik 0,8%. Namun volume perdagangan dalam 24 jam terakhir turun 21,79% menjadi US$ 30,34 miliar.

Jumlah Bitcoin yang beredar saat ini sekitar 20,08 juta BTC dari batas maksimum 21 juta BTC. Kelangkaan pasokan itu menjadi salah satu faktor yang membuat aset kripto ini tetap diminati di tengah ketidakpastian global.

Alasan The Fed Tetap Hawkish

FOMC menyatakan kenaikan bunga ini bertujuan mempercepat kembalinya inflasi ke target 2%. "Kebijakan hari ini akan mendukung kembalinya inflasi ke target Komite sebesar 2% secara lebih cepat. Komite akan mewujudkan stabilitas harga," kata FOMC dikutip dari CNBC.

Sinyal kenaikan lanjutan hingga akhir tahun menjadi perhatian pelaku pasar. Pasalnya, setiap kenaikan bunga acuan AS berpotensi menarik modal asing keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

Apa Artinya bagi Investor Indonesia

Pelemahan rupiah ke Rp 17.753 memperbesar risiko capital outflow dari pasar obligasi dan saham domestik. Investor asing biasanya menyesuaikan portofolio ketika imbal hasil aset dolar AS naik.

Bagi emiten dengan utang berdenominasi dolar AS, penguatan greenback meningkatkan beban bunga dan biaya impor bahan baku. Sektor yang paling rentan adalah penerbangan, otomotif, dan manufaktur berbasis impor.

Di sisi lain, eksportir berbasis komoditas seperti batu bara, CPO, dan nikel berpotensi menikmati windfall dari pelemahan rupiah. Harga jual dalam dolar AS yang diterima menjadi lebih tinggi saat dikonversi ke rupiah.

Pelaku pasar kini menanti respons Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas kurs. Intervensi di pasar valas dan pasar obligasi menjadi instrumen utama yang biasanya dipakai BI menghadapi tekanan eksternal seperti ini.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua