Reshuffle Kabinet Picu Pergerakan Fluktuatif IHSG dan Tekan Rupiah

MO
Moch Febrianto

Editor: yoga susila utama

Selasa, 15 September 2026
Reshuffle Kabinet Picu Pergerakan Fluktuatif IHSG dan Tekan Rupiah
Reshuffle Kabinet Picu Pergerakan Fluktuatif IHSG (FOTO: NET)

MEDAN - Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menuturkan IHSG bertindak fluktuatif pada sesi perdagangan hari ini usai para pelaku pasar memperoleh kejelasan mengenai isu perombakan kabinet.

IHSG sempat anjlok hingga mencapai titik 6.371, lalu berbalik melonjak ke area hijau pada posisi 6.550, sebelum pada akhirnya ditutup tergerus tipis 0,1 persen pada level 6.534,693.

Gunawan menuturkan, isu seputar reshuffle sempat menguncang bursa saham nasional sampai IHSG merasakan kemerosotan melebihi 2 persen.

Keraguan mengenai reshuffle menyebabkan para investor memilih bersikap waspada dengan melangkah keluar lebih awal dari bursa saham.

“Isu reshuffle ini sempat menekan pasar dalam angka yang signifikan. Pasar dibayangi ketidakpastian yang membuat mereka lebih bermain aman dengan keluar terlebih dahulu dari pasar saham,” ujar Gunawan.

Menurut pandangannya, usai kejelasan mengenai deretan pihak yang terkena reshuffle dipublikasikan, bursa keuangan langsung berbalik arah.

IHSG bahkan sempat berbalik memasuki area hijau meskipun pada penghujung sesi tetap ditutup tertekun.

Beban pada bursa keuangan nasional secara cepat mereda usai keraguan terkait reshuffle berkurang.

Akan tetapi, situasi tersebut belum memadai guna menyelamatkan IHSG dari penurunan di penutupan perdagangan.

Di lain sisi, nilai mata uang Rupiah ikut merasakan tekanan dan diperdagangkan merosot ke posisi 17.640 per dolar AS.

Di samping sentimen reshuffle, penurunan Rupiah juga terdorong oleh kian memburuknya ketegangan geopolitik yang memicu harga minyak mentah internasional terangkat hingga mencapai posisi 107 dolar AS per barel.

Gunawan menambahkan, gelombang penjualan pada obligasi Amerika Serikat di satu sisi memperlihatkan tersedianya kesempatan investasi alternatif yang dinilai lebih menguntungkan oleh pelaku pasar ketimbang surat berharga AS.

Kendati demikian, lonjakan imbal hasil US Treasury turut dapat menjadi daya pikat bagi pemodal untuk kembali menempatkan modalnya pada instrumen tersebut.

“Yield US Treasury yang terus naik justru menjadi pemanis bagi investor lain, yang tetap potensial membuat US Dolar menguat terhadap sejumlah mata uang negara berkembang termasuk Indonesia,” katanya.

Di samping itu, harga komoditas emas dunia ditransaksikan menurun ke posisi 4.290 dolar AS per ons troy.

Apabila dikonversikan ke dalam rupiah, harga emas berada pada estimasi 2,45 juta rupiah per gram.

Gunawan menilai beban terhadap nilai emas dunia memperlihatkan bahwa lonjakan harga minyak mentah masih menjadi salah satu pemicu utama yang menekan koreksi harga emas akhir-akhir ini.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua