IHSG Berpeluang Rebound ke 6.568, Simak Rekomendasi Saham ADRO hingga MAPA
WARTAFINANSIAL.COM — Tekanan jual yang membesar membuat IHSG ditutup melemah 1,48% atau 95,98 poin ke level 6.405 pada Rabu (26/8/2026). Koreksi ini membuka peluang teknikal bagi indeks untuk berbalik arah, dengan dua sekuritas memberikan proyeksi yang sedikit berbeda mengenai rentang pergerakan hari ini.
Tim Analis MNC Sekuritas menilai posisi IHSG saat ini berada pada bagian dari wave iv dari wave (c). Area koreksi diperkirakan berada pada rentang 6.290–6.394, namun jika tekanan jual mereda, indeks berpeluang menguji area 6.666.
Level Support dan Resistance IHSG Hari Ini
MNC Sekuritas memasang level support IHSG di 6.373 dan 6.272, sedangkan resistance berada di 6.599 dan 6.705. Level ini menjadi acuan bagi trader untuk menentukan titik entry dan exit.
Sementara itu, Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda memproyeksikan IHSG bergerak mixed to positive dengan support di level 6.455 hingga 6.400 dan resistance pada level 6.568. Tren bullish dianggap masih terjaga selama indeks mampu bertahan di atas 6.455.
“MA20 di level 6.328 menjadi support berikutnya,” tulis Reza dalam risetnya, Rabu (26/8/2026).
Empat Saham Rekomendasi: ADRO, BUVA, DSNG, MAPA
MNC Sekuritas memberikan sinyal buy on weakness untuk ADRO setelah saham emiten batu bara ini terkoreksi 0,76% ke level 2.610. Posisi saham dinilai berada pada bagian dari wave iii dari wave (c) dari wave [v].
- ADRO: Buy on Weakness 2.540–2.610, target harga 2.700 dan 2.770, stoploss di bawah 2.500.
- BUVA: Buy on Weakness setelah terkoreksi 4,73% ke level 705. Target harga 820 dan 865, stoploss di bawah 595.
- DSNG: Trading Buy di rentang 1.455–1.465. Saham menguat 0,68% ke 1.470 dan berhasil menembus MA200. Target harga 1.520 dan 1.550, stoploss di bawah 1.440.
- MAPA: Buy on Weakness di area 650–675. Saham menguat 3,05% ke 675 dengan munculnya volume pembelian. Target harga 700 dan 720, stoploss di bawah 640.
Sentimen FTSE Russell dan Data Ekonomi AS
Reza menambahkan, pasar tengah mencermati hasil review FTSE Russell yang membawa sejumlah perubahan terhadap saham Indonesia dan akan efektif pada September 2026. Selain itu, investor juga menanti rilis data neraca pembayaran Indonesia (NPI) serta uang beredar periode Juli 2026.
Pelemahan IHSG pada perdagangan sebelumnya juga dipengaruhi aksi ambil untung, dengan saham PT Bayan Resources Tbk. (BYAN), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjadi pemberat utama.
Dari eksternal, pelaku pasar menantikan pidato pejabat Federal Reserve dalam agenda Jackson Hole serta rilis data Core PCE yang diproyeksikan tumbuh 0,2% secara bulanan. Data lain yang dinanti meliputi GDP kuartal II/2026 sebesar 1,5%, Personal Income 0,3%, Personal Spending 0,2%, serta Durable Goods Orders 0,7%.
Harga minyak yang turun sekitar 3% ke US$82,5 per barel imbas meredanya ketegangan Amerika Serikat dan Iran dinilai menjadi katalis positif bagi prospek inflasi global.
Investasi mengandung risiko.