Potensi Limbah Uang Kertas Layak Edar Menjadi Sumber Energi Alternatif

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Senin, 24 Agustus 2026
Potensi Limbah Uang Kertas Layak Edar Menjadi Sumber Energi Alternatif
Potensi Limbah Uang Kertas Layak Edar (FOTO: NET)

PURWOKERTO - Perjalanan Rupiah tidak terhenti saat ia tak lagi pantas dipakai sebagai alat pembayaran. Terdapat lintasan kedua yang ditempuh, yakni saat Rupiah yang tak lagi pantas edar justru kembali menyumbang kemanfaatan untuk lingkungan.

Ke mana perginya Rupiah saat sudah kumal, koyak, atau tidak lagi pantas dipakai?

Guna menjawabnya, kami perlu memandang perjalanan Rupiah secara utuh.

Dalam pengelolaan uang Rupiah, terdapat enam jenjang yang kerap dinamakan sebagai 6 “P”, yaitu perencanaan, pencetakan, pengeluaran, pengedaran, pencabutan dan penarikan, serta pemusnahan.

Tiap jenjang adalah bagian dari daur hidup Rupiah hingga akhirnya Rupiah yang tak lagi memenuhi patokan edar wajib ditarik dari warga.

Sesudah tak pantas edar, uang tersebut masuk ke dalam proses pemusnahan dan menjadi Limbah Racik Uang Kertas (LRUK).

Dahulu, sisa uang ini dapat berujung di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Akan tetapi, kini hadir terobosan yang mengubah cara kami memandang sisa tersebut.

Tidak lagi sekadar dibuang, namun dimanfaatkan sebagai bahan bakar pengganti melalui teknologi co-firing.

Lewat teknologi ini, LRUK dipadukan dengan bahan bakar yang dipakai pada pembangkit listrik guna menggantikan sebagian pemakaian batu bara.

Hal yang sebelumnya waste to landfill, kini menjadi waste to energy.

Pemanfaatan LRUK ini dijalankan melalui kerja sama dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN).

Salah satunya melalui PLTU Adipala yang bekerja sama dengan Bank Indonesia Purwokerto.

Hasil uji coba co-firing memperlihatkan bahwa LRUK memiliki bobot kalor yang terbilang tinggi, yaitu sekitar 3.901 kCal/kg (ar).

Sebagai pembanding, biomassa sawdust memiliki bobot kalor sekitar 2.500 kCal/kg (ar).

Angka tersebut memperlihatkan sesuatu yang memikat: sisa uang ternyata menyimpan daya potensi energi.

Di satu sisi, sisa uang yang sebelumnya tidak memiliki nilai guna dapat difungsikan menjadi bahan bakar pengganti.

Di sisi lain, pembangkit listrik dapat memangkas sebagian pemakaian batu bara sekaligus menaikkan pemanfaatan bahan bakar pengganti.

Di sinilah kami memetik pelajaran bahwa saat fungsi sebuah benda berakhir, bukan berarti nilainya turut berakhir.

Rupiah memang tidak lagi dapat dipakai untuk membeli barang atau membayar jasa.

Namun, bahannya masih dapat memberi kemanfaatan dalam bentuk yang berbeda.

Pemanfaatan LRUK merupakan bagian dari langkah mendorong pengelolaan uang Rupiah yang lebih sirkuler.

Saat ini, sekitar 72 persen LRUK telah difungsikan dari Sumbernya.

Ke depan, Bank Indonesia menargetkan pada 2027 seluruh sisa racik uang dapat diproses secara sirkuler.

Patokan ini memperlihatkan bahwa perjalanan Rupiah tidak sungguh-sungguh berakhir saat ia ditarik dari peredaran.

Malah, ada lintasan kedua yang dimulai.

Rupiah yang sebelumnya menjadi alat transaksi lantas berubah menjadi sumber daya untuk menyokong keperluan energi.

Dari sesuatu yang dipandang sebagai sisa, menjadi sesuatu yang kembali menyumbang kemanfaatan.

Namun, pemanfaatan LRUK tidak serta-merta membuat kami dapat merawat Rupiah secara asal-asalan.

Malah, sebelum tiba pada tahap tersebut, ada peran sederhana yang dapat kami lakukan yakni menjaga Rupiah sepanjang masih berada di tangan kami.

Sebelum berbicara mengenai bagaimana memfungsikan Rupiah yang sudah rusak, kami perlu berbicara mengenai bagaimana merawat Rupiah supaya tidak cepat rusak.

Terdapat lima cara sederhana yang dapat dilakukan warga, yang dikenal sebagai prinsip 5J: jangan dilipat, jangan diremas, jangan dicoret, jangan distaples, dan jangan dibasahi.

Sepintas, kebiasaan tersebut mungkin tampak sederhana.

Namun, merawat Rupiah berarti memanjangkan usia edarnya.

Lebih dari itu, merawat Rupiah berarti menghargai Rupiah sebagai lambang kedaulatan bangsa.

Oleh sebab itu, menjaga Rupiah memerlukan peran warga dalam memastikan tiap lembar Rupiah terawat.

Rupiah yang kumal mungkin tidak lagi dapat dipakai untuk membeli secangkir kopi.

Rupiah yang telah diracik mungkin tidak lagi dapat berpindah tangan sebagai alat pembayaran.

Namun bahannya masih dapat memberi energi dan kemanfaatan.

Dari waste to landfill menjadi waste to energy.

Dari sesuatu yang sebelumnya dipandang sebagai akhir, menjadi awal dari kemanfaatan baru.

Inilah lintasan kedua Rupiah.

Sebab Rupiah boleh berhenti beredar, namun manfaatnya dapat terus mengalir.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua