Dolar AS Melemah Rupiah Punya Peluang Menguat Terbatas Senin 24 Agustus

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Senin, 24 Agustus 2026
Dolar AS Melemah Rupiah Punya Peluang Menguat Terbatas Senin 24 Agustus
Dolar AS Melemah Rupiah Punya Peluang Menguat (FOTO: NET)

JAKARTA - Mata uang rupiah berpeluang mengalami apresiasi tipis saat pembukaan perdagangan awal pekan.

Penguatan tersebut didorong oleh penurunan indeks dolar Amerika Serikat (AS) serta ditopang oleh penyaluran kebijakan stabilisasi dari Bank Indonesia.

Berdasarkan data Bloomberg pada Jumat (21/8/2026), nilai tukar rupiah menguat 0,30% atau 54 poin hingga berada di posisi Rp 17.694 per dolar AS.

Sementara itu, nilai kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia tercatat naik 0,42% dari level awal Rp 17.779 menjadi Rp 17.705 per dolar AS.

Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menjelaskan bahwa laju penguatan rupiah pada penutupan pekan lalu terutama dipicu oleh penurunan indeks DXY hingga ke level 98,73 menyusul langkah Departemen Keuangan AS memperluas program pembelian kembali obligasi jangka panjang serta tingginya ketidakpastian arah kebijakan The Fed.

Dari ranah domestik, penetapan Bank Indonesia untuk mempertahankan BI-Rate pada level 5,75% berhasil menjaga daya tarik imbal hasil aset dalam negeri, yang terlihat dari arus masuk portofolio asing sebesar US$ 1,8 miliar hingga pertengahan Agustus pada triwulan III.

Kebijakan BI dalam menyediakan insentif swap lindung nilai serta menjaga ketahanan pasar valuta asing turut menjadi penopang bagi pergerakan rupiah.

Walau begitu, tingginya imbal hasil US Treasury 10 tahun di level 4,71% serta harga minyak Brent yang melampaui US$ 93 per barel mengindikasikan bahwa kondisi pasar belum sepenuhnya stabil.

"Penutupan Rp 17.694 lebih tepat dibaca sebagai penguatan berbasis pelemahan dolar dan dukungan kebijakan domestik, bukan perubahan rezim menuju apresiasi panjang," ungkap Syafruddin dari Sumbernya, Jumat (21/8/2026).

Menjelang perdagangan Senin (24/8/2026), pergerakan rupiah diprediksi amat tergantung pada respons pasar internasional sepanjang akhir pekan terhadap pergerakan DXY, rilis data ekonomi AS, serta eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang berisiko mendorong kenaikan harga minyak mentah.

Pada sisi lain, instrumen berbasis pasar seperti SRBI dan SBN diperkirakan tetap mampu menahan potensi keluarnya modal asing.

"Indikator pembuka Senin yang paling penting ialah DXY, UST 10Y, Brent, dan arus portofolio," tambah Syafruddin.

Mengenai perdagangan Senin (24/8/2026), Syafruddin mengestimasi nilai tukar rupiah akan bergerak pada rentang dasar Rp 17.620–Rp 17.780 per dolar AS dengan area keseimbangan awal pada Rp 17.680–Rp 17.720 per dolar AS.

Apabila DXY terus merosot dan aliran dana asing mengalir deras ke SRBI, rupiah memiliki peluang masuk ke skenario menguat pada kisaran Rp 17.550–Rp 17.620, namun potensi resiko kecenderungan menghindari risiko dapat menekan mata uang nasional menuju Rp 17.800–Rp 17.900 per dolar AS.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua