Awal Perdagangan Tertekan, Rupiah Melemah Ke Rp17.875 Per Dolar AS

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Jumat, 14 Agustus 2026
Awal Perdagangan Tertekan, Rupiah Melemah Ke Rp17.875 Per Dolar AS
Rupiah Melemah Ke Rp17.875 Per Dolar AS (FOTO: NET)

JAKARTA - Kurs nasional memulai sesi penutupan pekan ini pada posisi merah. Mata uang Garuda mengalami penurunan nilai terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan angka statistik Refinitiv, di saat pembukaan perdagangan Jumat (14/8/2026), kurs rupiah melemah 0,08% ke angka Rp17.875/US$.

Kondisi tersebut memutarbalikkan tren penguatan kecil pada sesi sebelumnya.

Pada Kamis (13/8/2026), kurs rupiah ditutup naik 0,03% pada posisi Rp17.860/US$ setelah sebelumnya terkoreksi saat pembukaan.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang memantau kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, di jam 09.00 WIB terlihat melemah 0,08% ke angka 99,887.

Dinamika rupiah pada hari ini masih bakal dipengaruhi pergerakan dolar AS beserta penantian terkait arah kebijakan belanja negara yang bakalan dipaparkan dalam Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.

Sisi luar negeri, mata uang Indonesia sebenarnya sedang memperoleh ruang guna naik usai angka inflasi tingkat produsen AS kembali menurunkan potensi kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed), pada September.

Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) AS tidak mencatatkan perubahan bulanan pada Juli.

Capaian tersebut lebih rendah dari proyeksi pakar ekonomi yang memprediksi kenaikan 0,2% serta menyusul penurunan 0,1% pada Juni.

Catatan ini melengkapi rilis inflasi konsumen yang dipublikasikan sehari sebelumnya.

Harga kebutuhan konsumen AS cuma bertambah tipis pada Juli, sementara laju inflasi tahunan dan inflasi inti sama-sama melambat.

Rentetan data tersebut membuat pelaku pasar kembali memotong perkiraan kenaikan suku bunga The Fed.

Kesempatan kenaikan suku bunga pada September saat ini ada di angka 35%, melorot dari 40% pada Rabu dan 55% satu minggu sebelumnya.

Memudarnya potensi kenaikan suku bunga dapat menekan daya pikat dolar AS dan memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk kurs rupiah, guna menguat.

Namun, ruang penguatan mata uang Indonesia masih dapat ditahan oleh kondisi harga minyak.

Ketiadaan pasokan akibat pertikaian Iran dan penutupan jalur laut Hormuz berisiko mempertahankan harga energi di level tinggi serta menghambat penurunan inflasi AS.

Harga minyak sempat mengurangi penurunannya usai faksi Houthi di Yaman dikabarkan menyasar sarana pengolahan minyak milik Saudi Aramco menggunakan drone.

Situasi tersebut kembali memicu kecemasan mengenai pasokan di pasar internasional.

Para pelaku pasar juga menanti laporan penjualan ritel AS yang bakalan diumumkan pada Jumat waktu setempat.

Informasi tersebut bakal menyajikan gambaran terbaru terkait tingkat konsumsi dan kondisi perekonomian AS.

Selain faktor luar, perhatian para pelaku pasar juga tertuju pada Sidang Tahunan MPR serta Sidang Bersama DPR dan DPD dalam agenda peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat, pada hari ini.

Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan membawakan Pidato Kenegaraan dalam agenda tersebut.

Selesai itu, susunan acara bakalan dilanjutkan melalui Rapat Paripurna DPR untuk penyampaian RUU APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangannya.

Pelaku pasar bakal memperhatikan patokan nilai tukar rupiah, pertumbuhan ekonomi, inflasi, suku bunga, defisit anggaran, dan taktik pembiayaan pemerintah untuk 2027.

Haluan kebijakan kas negara yang kredibel dan sanggup menahan defisit tetap aman berpeluang memperkuat rasa percaya pemodal serta menopang kurs rupiah.

Di tengah beragam sentimen tersebut, dari Sumbernya memperkirakan laju kurs rupiah bakal cenderung bertahan pada perdagangan hari ini.

"Kami memprediksi pergerakan rupiah stabil di rentang Rp17.850-Rp17.950/US$ hari ini," tulis dari Sumbernya dalam Macro & Fixed Income Daily Morning Notes, Jumat (14/8/2026).

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua