Harga Emas Mengalami Penurunan Jelang Rilis Data Ekonomi Utama AS Ini
JAKARTA - Harga emas dan perak stagnan di tengah sikap para pelaku pasar yang menanti data inflasi penting Amerika Serikat (AS) yang sanggup memengaruhi proyeksi arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan data Refinitiv, nilai emas pada penutupan perdagangan Selasa (11/8/2026) berada di level US$ 4366,84 per troy ons.
Angka tersebut tercatat merosot 0,49%.
Penurunan ini menghentikan reli kenaikan harga emas yang sempat berlangsung selama dua hari berturut-turut sebelumnya.
Pada hari ini, nilai jual emas bergerak amat tipis.
Pada Rabu (12/8/2026) pukul 06.46 WIB, harga emas terangkat tipis 0,06% menuju posisi US$ 4369,78 per troy ons.
"Pasar menantikan data inflasi pekan ini untuk mendapatkan konfirmasi bahwa inflasi masih terkendali," kata Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist di Zaner Metals, dikutip dari Sumbernya.
Berdasarkan pandangannya, melambatnya laju inflasi tahunan bakal terus menopang pergerakan harga emas.
Rilisan data indeks harga konsumen (CPI) AS pada Rabu serta indeks harga produsen (PPI) pada Kamis diprediksi menjadi acuan utama bagi ekspektasi arah kebijakan moneter.
Sebelumnya, torehan data tenaga kerja AS yang meredup pada Juli memicu pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed pada bulan mendatang.
Kondisi tersebut berhasil melambungkan harga emas sebesar 2,4% dalam kurun satu hari.
"Emas masih cukup diminati setelah kekecewaan terhadap data tenaga kerja pekan lalu yang mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga pada September," ujar Grant.
Kendati demikian, para pelaku pasar masih memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga pada September sebesar 50%, sedangkan estimasi kenaikan pada Desember berada di angka 79%, menurut CME FedWatch Tool.
Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack pada Senin menyampaikan bahwa saat ini adalah momen yang pas guna mengawali peningkatan suku bunga secara berkala demi mencegah lonjakan yang lebih drastis di kemudian hari.
Tingkat suku bunga yang lebih tinggi umumnya membuat aset emas menjadi kurang atraktif lantaran emas tidak menghasilkan imbal hasil (yield).
Menilik dari ranah geopolitik, Presiden AS Donald Trump menanggapi tuntutan Iran mengenai kesepakatan damai dengan menyodorkan persyaratannya sendiri.
Trump mendesak Iran menyerahkan ganti rugi atas korban jiwa dalam pertempuran, serangan, serta gelombang aksi protes.
Di saat bersamaan, harga komoditas minyak mampu bertahan di rentang tertinggi dalam jangka sepekan.
Kondisi harga perak pun turut terseret melemah.
Berdasarkan laporan Refinitiv, harga perak pada perdagangan Selasa (11/8/2026) mengakhiri sesi di posisi US$ 64,68 per troy ons.
Nilai tersebut terperosok 1,61%.
Kelemahan ini memutus tren penguatan harga perak yang sebelumnya terjadi dua hari berturut-turut.
Pada hari ini, pergerakan perak hampir tak berubah.
Pada Rabu (12/8/2026) pukul 06.53 WIB, nilainya bergerak naik tipis 0,07% menjadi US$ 64,73 per troy ons.