Pemerintah Targetkan Pasar Modal Penuhi 91 Persen Investasi RI 2027

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Selasa, 11 Agustus 2026
Pemerintah Targetkan Pasar Modal Penuhi 91 Persen Investasi RI 2027
Pemerintah Targetkan Pasar Modal (FOTO: NET)

JAKARTA - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memacu pasar saham dan obligasi guna menyokong 91 persen dari keseluruhan keperluan investasi Indonesia pada 2027 mendatang supaya dapat mempercepat pembangunan nasional.

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung memaparkan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tak bakal mampu membiayai seluruh kebutuhan pembangunan, mulai dari infrastruktur, energi, pendidikan, sampai hilirisasi industri.

"APBN saja itu tidak pernah cukup untuk membiayai seluruh kebutuhan pembangunan kami. Kebutuhan infrastruktur, kebutuhan energi, pendidikan yang sekarang ini sedang digalakkan, kualitas SDM, hingga hilirisasi, membutuhkan skala pembiayaan yang jauh melampaui kemampuan dari fiskal kami," ujar Juda dalam Peringatan HUT ke-49 Pasar Modal Indonesia dan Peluncuran ETF Emas di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta Selatan, Senin (10/8).

Juda menuturkan dalam APBN 2027, total keperluan investasi Indonesia diproyeksikan menyentuh Rp8.705 triliun, sedangkan APBN cuma sanggup memenuhi sekitar Rp459 triliun atau kisaran 5 persen.

Selanjutnya, sejumlah Rp330 triliun bakal ditutup lewat kontribusi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) termasuk Danantara, dan porsi terbesar sisanya mesti bersumber dari pendanaan swasta.

Oleh sebab itu, dirinya menyampaikan pembiayaan swasta merupakan kunci utama dengan patokan menembus Rp7.973 triliun atau 91 persen dari keseluruhan kebutuhan investasi.

Juda menandaskan bahwa pasar modal memegang peranan vital sebagai penghubung yang menjembatani kebutuhan pendanaan korporasi dengan dana publik secara efisien, transparan, dan berkeadilan.

Maka dari itu, pihak otoritas terus mendorong supaya pasar modal Indonesia kian dalam, likuid, serta tepercaya guna memfasilitasi target laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Salah satu upaya nyata yang ditempuh yaitu memperluas cakupan investor dan melakukan keanekaragaman instrumen, seperti peluncuran Exchange Traded Fund (ETF) emas.

Berdasarkan penuturan Juda, peluncuran ETF emas bukan sekadar penambahan produk investasi semata, melainkan pijakan strategis untuk memperdalam pasar keuangan dalam negeri supaya sanggup bersaing pada level regional maupun global.

Dirinya pun menggarisbawahi krusialnya memelihara integritas pada setiap terobosan produk keuangan yang diterbitkan.

"Inovasi harus selalu berjalan bersama integritas. Karena pada akhirnya pasar hanya dapat bekerja bila ada trust. Hal ini, trust adalah faktor paling fundamental di pasar keuangan," tambahnya.

Lebih jauh, Juda mengingatkan bahwasanya pengembangan produk kreatif seperti ETF emas mesti disertai dengan penguatan tata kelola, akuntabilitas, keterbukaan, serta perlindungan investor yang kokoh.

"Pemerintah akan terus bersinergi dengan OJK, dengan BI sebagai SRO, para pelaku pasar modal dan seluruh pemangku kepentingan terkait lainnya untuk membangun pasar keuangan yang makin dalam, inklusif, inovatif, tapi tetap pruden," pungkas Juda.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua