Proyeksi Nilai Kurs Rupiah Tertekan Atas Dolar AS Dalam Pekan Mendatang

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Sabtu, 08 Agustus 2026
Proyeksi Nilai Kurs Rupiah Tertekan Atas Dolar AS Dalam Pekan Mendatang
Proyeksi Nilai Kurs Rupiah (FOTO: NET)

JAKARTA - Pergerakan kurs rupiah diproyeksikan kembali merosot terhadap dolar Amerika Serikat saat perdagangan minggu mendatang di tengah ketidakpastian geopolitik serta dorongan inflasi, dikutip dari Sumbernya.

Pada penutupan perdagangan Jumat (7/8/2026), mata uang rupiah terkoreksi 34 poin ke tingkat Rp 17.897 per dolar AS dari titik sebelumnya Rp 17.923 per dolar AS.

Untuk sesi perdagangan Senin mendatang, rupiah diperkirakan bakal bergerak dinamis dan melemah pada rentang Rp 17.890 hingga Rp 17.940 per dolar AS.

Sementara rentang kurun waktu seminggu ke depan, rupiah diprediksi bergerak di angka Rp 17.780 hingga Rp 18.020 per dolar AS.

Petinggi PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menerangkan bahwa faktor eksternal menjadi sebab dominan depresiasi rupiah, khususnya perselisihan yang kian tinggi antara Amerika Serikat dan Iran di wilayah Selat Hormuz.

"Kembali meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz memunculkan kekhawatiran terkait potensi kenaikan harga minyak mentah, yang pada akhirnya membuat pasar mengantisipasi tekanan inflasi untuk mendorong Federal Reserve menaikkan suku bunga," ujar Ibrahim.

Menurut penilaian Ibrahim, dinamika yang berlangsung selama pekan ini memperlihatkan bahwasanya konfrontasi Iran dan AS masih belum mereda.

Ia menambahkan bahwasanya pengambil kebijakan bank sentral AS tidak mungkin membiarkan laju inflasi tinggi secara terus-menerus dengan mengandalkan kenaikan produktivitas untuk meredam tekanan harga.

Dari ranah domestik, mata uang rupiah terus terdorong melemah meski cadangan devisa Indonesia hingga akhir Juli 2026 tetap terjaga pada jumlah US$ 145,3 miliar, relatif setara dibanding nilai akhir Juni 2026 yakni US$ 145,6 miliar.

"Ke depan, Bank Indonesia meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik," kata Ibrahim.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua