Rupiah Naik 0,69% Sepekan Ketegangan Timur Tengah Jadi Sorotan Pasar

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Sabtu, 08 Agustus 2026
Rupiah Naik 0,69% Sepekan Ketegangan Timur Tengah Jadi Sorotan Pasar
Rupiah Naik 0,69% Sepekan (FOTO: NET)

JAKARTA - Nilai tukar rupiah di pasar spot kembali melonjak pada sesi transaksi Jumat (7/8/2026).

Rupiah spot diselesaikan naik 0,15% menuju Rp 17.897 per dolar Amerika Serikat (AS).

Dalam rentang seminggu, rupiah spot tercatat terangkat 0,69% bila dibandingkan posisi Rp 18.022 per dolar AS pada Jumat (31/7/2026).

Di lain sisi, patokan rupiah Jisdor pada Jumat (7/8/2026) mendatar pada angka Rp 17.913 per dolar AS.

Meskipun begitu, secara mingguan, rupiah Jisdor tetap terapresiasi 0,80% ketimbang angka Rp 18.058 per dolar AS pada Jumat pekan lalu.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebutkan lonjakan rupiah sepanjang satu minggu belakangan ditopang oleh merosotnya harga minyak mentah internasional di tengah ekspektasi terwujudnya perdamaian dan peluang dibukanya lagi Selat Hormuz.

Di samping pendorong luar, indikator ekonomi dalam negeri yang kokoh pun ikut menyokong laju rupiah.

"Rupiah sepekan ini menguat terhadap dolar AS didukung oleh menurunnya harga minyak dunia di tengah harapan perdamaian dan dibukanya Selat Hormuz. Data-data ekonomi domestik yang solid juga mendukung rupiah," ujar Lukman, Jumat (7/8/2026).

Isu luar negeri tetap membayangi rupiah

Di kesempatan terpisah, Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menganggap dinamika rupiah masih disetir oleh isu dari luar, khususnya eskalasi perselisihan di Timur Tengah serta laju dolar AS.

Berdasarkan penuturan Ibrahim, makin panasnya suhu politik di daerah Timur Tengah berikut harapan pelaku pasar atas proyeksi acuan bunga Amerika Serikat tetap menjadi acuan para pemodal.

Pada bagian internal, besaran cadangan devisa Tanah Air yang terhitung kokoh dipandang ikut mengawal ketahanan nilai tukar rupiah di tengah himpitan luar.

Arah rupiah ke depannya pun bakal dipengaruhi oleh dinamika geopolitik dunia beserta beberapa laporan ekonomi Amerika Serikat, utamanya laju inflasi.

Lukman menaksir rupiah masih berpeluang meneruskan tren positif apabila tak ada pembesaran bentrokan di Timur Tengah dan angka inflasi AS memperlihatkan penurunan searah perkiraan pasar.

Dirinya memproyeksikan mata uang Garuda pada minggu depan berayun di rentang Rp 17.750-Rp 18.150 per dolar AS.

Sedangkan Ibrahim menakar rupiah pada minggu mendatang akan berdinamika penuh variasi dengan kisaran Rp 17.780-Rp 18.020 per dolar AS.

Oleh sebab itu, walaupun rupiah mencatat tren naik dalam satu pekan belakangan, para pemodal tetap wajib memperhatikan dinamika perselisihan di Timur Tengah, arah pergerakan dolar AS, tarif minyak dunia, serta angka inflasi AS yang berpotensi berdampak pada kondisi pasar uang asing.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua