Stabilitas Domestik Menopang Nilai Rupiah dari Ketidakpastian Global
JAKARTA - Pengamat mata uang asing dari Sumbernya, termasuk Charlie Lay dan Moses Lim, mencermati bahwa USD/IDR terdepresiasi tipis tetapi bertahan di bawah patokan krusial 18.000 berkat menyusutnya harga minyak internasional dan menguatnya PDB Kuartal II Indonesia yang menyokong rupiah.
Mereka memberi garis bawah bahwa arah kepemimpinan Bank Indonesia yang lebih pasti dan kepercayaan publik pada independensi BI hendaknya mampu membantu performa IDR beberapa kurun waktu ke depan, meski terdapat hambatan struktural dan geopolitik yang berpotensi membatasi penguatan lanjutan.
"PDB Kuartal II naik lebih tinggi dari yang diprakirakan sebesar 5,3% yoy (konsensus Bloomberg: 5,1%) versus 5,6% di Kuartal I. Pertumbuhan didukung oleh ketahanan permintaan domestik, khususnya aktivitas investasi yang lebih kuat, sementara konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah tetap solid. Pada H1, ekonomi tumbuh 5,5%, sedikit di bawah kisaran target setahun penuh pemerintah sebesar 5,6-6,0%."
"Dari sisi inflasi, IHK Juli mengejutkan ke sisi bawah, naik 2,9% yoy (konsensus Bloomberg: 3,2%) versus 3,3% di bulan Juni. Ini merupakan pembacaan paling lemah dalam tiga bulan dan bergerak lebih dekat ke titik tengah kisaran target BI 1,5-3,5%."
Secara terpisah, pers domestik membeberkan bahwa Presiden Prabowo sedang merancang penyerahan daftar nama calon pengganti Perry Warjiyo untuk kursi Gubernur BI.
Pelaksana Tugas Gubernur Destry Damayanti secara luas dianggap sebagai kandidat urutan teratas.
Dirinya juga dipandang oleh pasar sebagai sosok paling berpeluang mempertahankan konsistensi kebijakan.
Parlemen diprediksi akan mempelajari pencalonan tersebut seusai kembali dari kurun reses pada 14 Agustus.
Prosedur persetujuan diperkirakan memerlukan durasi satu hingga dua minggu.
"Di pasar Valas, USD/IDR turun 0,1% ke 17.918 kemarin tetapi tetap berada di bawah level psikologis kunci 18.000. Pasangan mata uang ini ditutup di level terendah sejak 23 Juli, didukung oleh harga minyak mentah global yang lebih lemah dan sentimen yang membaik setelah rilis PDB Kuartal II yang kuat."
Kejelasan yang makin mantap atas penunjukan Pemimpin BI selanjutnya, bertambah dengan pulihnya rasa percaya terhadap independensi BI, seyogianya dapat mengokohkan IDR dalam kurun beberapa minggu ke depan.
Walaupun begitu, laju penguatan mungkin terhalang oleh rentetan persoalan, seperti ancaman penurunan status MSCI ke pasar frontier, kekhawatiran bahwasanya defisit fiskal dapat melebih batas legal 3% PDB, serta ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung.