Rupiah Menguat Tipis Didukung Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Melandai

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Sabtu, 08 Agustus 2026
Rupiah Menguat Tipis Didukung Pertumbuhan Ekonomi dan Inflasi Melandai
Rupiah Menguat Tipis Didukung Pertumbuhan Ekonomi (FOTO: NET)

JAKARTA - Pakar mata uang asing dari Sumbernya, yakni Charlie Lay bersama Moses Lim, mengamati bahwasanya USD/IDR mengalami penurunan tipis namun terus berada di bawah ambang penting 18.000 lantaran merosotnya harga minyak dunia serta menguatnya PDB Triwulan II Indonesia yang menopang nilai tukar rupiah.

Para pakar menekankan bahwa kepemimpinan Bank Indonesia yang makin terang beserta keyakinan terhadap independensi lembaga tersebut bakal menopang rupiah selama beberapa minggu ke depan, walau terdapat berbagai tantangan struktural dan geopolitik yang dapat menahan penguatan lebih jauh.

"PDB Kuartal II naik lebih tinggi dari yang diprakirakan sebesar 5,3% yoy (konsensus Bloomberg: 5,1%) versus 5,6% di Kuartal I. Pertumbuhan didukung oleh ketahanan permintaan domestik, khususnya aktivitas investasi yang lebih kuat, sementara konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah tetap solid. Pada H1, ekonomi tumbuh 5,5%, sedikit di bawah kisaran target setahun penuh pemerintah sebesar 5,6-6,0%."

"Dari sisi inflasi, IHK Juli mengejutkan ke sisi bawah, naik 2,9% yoy (konsensus Bloomberg: 3,2%) versus 3,3% di bulan Juni. Ini merupakan pembacaan paling lemah dalam tiga bulan dan bergerak lebih dekat ke titik tengah kisaran target BI 1,5-3,5%."

Di samping itu, pemberitaan setempat mengabarkan bahwasanya Kepala Negara Prabowo tengah bersiap menyodorkan deretan nama calon pengganti Perry Warjiyo selaku Nahkoda BI.

Pelaksana Tugas Gubernur Destry Damayanti secara umum diyakini sebagai calon terkuat.

Figur tersebut turut dinilai oleh para pelaku pasar sebagai sosok yang paling berpotensi menjaga keberlanjutan arah kebijakan.

Dewan Perwakilan Rakyat diperkirakan bakal mengevaluasi nama usulan itu usai rampung dari masa reses pada 14 Agustus.

Tahapan konfirmasi diprediksi menghabiskan rentang waktu satu sampai dua pekan.

"Di pasar Valas, USD/IDR turun 0,1% ke 17.918 kemarin tetapi tetap berada di bawah level psikologis kunci 18.000. Pasangan mata uang ini ditutup di level terendah sejak 23 Juli, didukung oleh harga minyak mentah global yang lebih lemah dan sentimen yang membaik setelah rilis PDB Kuartal II yang kuat."

Kepastian yang makin jelas mengenai calon pimpinan BI berikutnya, bersanding dengan kembalinya kepercayaan atas independensi BI, semestinya sanggup menyokong nilai rupiah pada pekan-pekan mendatang.

Kendati demikian, tren kenaikan mungkin tertahan oleh beberapa kendala, mencakup ancaman pemangkasan kelas oleh MSCI menjadi pasar frontier, kekhawatiran melebarnya defisit anggaran hingga melampaui ambang batas regulasi 3% dari PDB, serta gejolak geopolitik yang belum mereda.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua