Penyebab Harga Emas Terperosok Setelah Sempat Naik Tiga Hari Beruntun
JAKARTA - Banderol emas melandai sehabis melambung tinggi. Mengutip laporan Refinitiv, banderol emas pada transaksi Kamis (6/8/2026) mengakhiri sesi pada posisi US$ 4239,23 per troy ons. Banderolnya terkikis 0,15%.
Kelesuan ini mengakhiri laju positif emas yang melonjak tiga hari beruntun sebelumnya lewat laju 5,1%.
Banderol emas sedikit membaik pada hari ini. Pada Jumat (7/8/2026) pukul 06.42 WIB, banderol emas terangkat 0,18% menuju US$ 4246,89 per troy ons.
Banderol emas melandai seiring menguatnya kembali banderol minyak seusai beredar warta bahwa Iran sedang meneliti pembatasan untuk kapal-kapal yang dianggap berseberangan untuk melewati Selat Hormuz.
Situasi ini kembali mematik kecemasan inflasi maupun ekspektasi penyesuaian suku bunga.
Laju banderol minyak dipicu kabar kantor berita semi-resmi Iran, Fars, yang mengabarkan sebuah komite parlemen sedang mempelajari rancangan aturan awal yang melarang kapal Amerika Serikat, Israel, dan kapal lain yang dinilai "bermusuhan" melintasi Selat Hormuz.
Menyusul warta itu, banderol minyak naik melebihi US$3 per barel.
Analis pasar dari American Gold Exchange, Jim Wyckoff, berpendapat rancangan aturan Iran tersebut memberi efek ke pasar lantaran berpotensi memicu lonjakan harga minyak mentah yang pada akhirnya mendongkrak tekanan inflasi.
"Harga energi yang lebih tinggi dapat mendorong inflasi karena produsen akan meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen. Kondisi ini berpotensi membuat bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk menekan tekanan harga," ujar Wyckoff, dikutip dari Sumbernya.
Di sudut lain, garis kebijakan Federal Reserve (The Fed) tetap menjadi pendorong utama bagi pergerakan emas. Data statistik tenaga kerja AS yang dipublikasikan Jumat diprediksi menjadi penentu sudut pandang bank sentral mengenai suku bunga mendatang.
Menurut perhitungan CME FedWatch Tool, para pemodal saat ini memperkirakan kans kenaikan suku bunga The Fed pada September sebesar 57%, lalu meningkat ke angka 84% pada rapat Desember.
Suku bunga yang lebih tinggi umumnya menjadi angin lalu yang buruk bagi emas karena memperbesar biaya peluang (opportunity cost) menggenggam aset non-imbal hasil layaknya emas.
Walau begitu, Bob Haberkorn, Senior Market Strategist StoneX, menyampaikan arus dana mulai kembali mengalir ke pasar emas seusai sejumlah ambang teknikal penting dapat dilalui pada transaksi sebelumnya.
Walaupun sempat menguat deras, banderol emas masih berada sekitar 24% di bawah rekor tertinggi sepanjang sejarah di posisi US$5.594,82 per troy ons yang sempat tercapai di penghujung Januari.
Banderol perak turut menurun.
Merujuk data Refinitiv, banderol perak pada transaksi Kamis (6/8/2026) ditutup di tingkat US$ 61,48 per troy ons. Banderolnya merosot 0,96%.
Langkah penurunan ini menghentikan tren positif perak yang terbang tiga hari beruntun sebelumnya dengan kenaikan sebesar 7,7%.
Banderol perak masih melemah pada hari ini. Pada Jumat (7/8/2026) pukul 06.47 WIB, banderol perak terkoreksi 0,08% ke tingkat US$ 61,43 per troy ons.