Harga Emas Melemah Usai Naik Tiga Hari Berturut-turut Karena Hal Ini

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Jumat, 07 Agustus 2026
Harga Emas Melemah Usai Naik Tiga Hari Berturut-turut Karena Hal Ini
Harga Emas Melemah Usai Naik Tiga (FOTO: NET)

JAKARTA - Nilai jual logam mulia mengalami penurunan setelah sebelumnya melambung tinggi.

Berdasarkan data Refinitiv, nilai logam mulia pada penutupan pasar Kamis (6/8/2026) berada di level US$ 4239,23 per troy ons. Angka tersebut terdepresiasi 0,15%.

Penurunan ini menghentikan reli positif logam mulia yang sempat terangkat selama tiga hari beruntun dengan kenaikan mencapai 5,1%.

Nilai logam mulia sedikit merangkak naik pada hari ini. Pada Jumat (7/8/2026) jam 06.42 WIB, nilai logam mulia terangkat 0,18% menjadi US$ 4246,89 per troy ons.

Nilai logam mulia tertekan bersamaan dengan melonjaknya kembali nilai minyak bumi seusai muncul pemberitaan bahwa pihak Iran sedang mengkaji pembatasan bagi armada laut yang dinilai bermusuhan untuk melintas di kawasan Selat Hormuz.

Keadaan tersebut kembali memicu kecemasan inflasi serta ekspektasi lonjakan suku bunga acuan.

Kenaikan nilai minyak bumi terpicu oleh pemberitaan kantor berita semi-pemerintah Iran, Fars, yang menyatakan satu komite parlemen tengah mempelajari rancangan regulasi awal yang melarang pelayaran dari Amerika Serikat, Israel, serta kapal lain yang dikategorikan "bermusuhan" melewati Selat Hormuz.

Menindaklanjuti kabar tersebut, nilai minyak bumi melonjak lebih dari US$3 per barel.

Pengamat pasar dari American Gold Exchange, Jim Wyckoff, menyebutkan rancangan regulasi Iran tersebut memberikan dampak ke pasar lantaran berpeluang memicu lonjakan harga minyak mentah yang pada gilirannya mendongkrak tekanan inflasi.

"Harga energi yang lebih tinggi dapat mendorong inflasi karena produsen akan meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen. Kondisi ini berpotensi membuat bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama untuk menekan tekanan harga," ujar Wyckoff, dikutip dari Sumbernya.

Di sisi lain, arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) tetap menjadi penggerak utama bagi dinamika logam mulia. Data tenaga kerja AS yang dirilis Jumat diperkirakan menjadi penentu pandangan otoritas moneter terkait suku bunga ke depan.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, para pelaku pasar saat ini memproyeksikan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September sebesar 57%, dan merambat naik menjadi 84% pada pertemuan Desember.

Suku bunga yang lebih tinggi umumnya menjadi sentimen negatif bagi logam mulia karena meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) memegang aset tak berimbal hasil seperti logam mulia.

Meski demikian, Bob Haberkorn, Senior Market Strategist StoneX, menuturkan aliran dana mulai kembali masuk ke pasar logam mulia usai beberapa titik teknikal krusial berhasil ditembus pada perdagangan sebelumnya.

Walau sempat terangkat tajam, nilai logam mulia masih berada sekitar 24% di bawah rekor tertinggi sepanjang masa pada level US$5.594,82 per troy ons yang pernah diraih di akhir Januari.

Nilai perak turut melorot.

Berdasarkan Refinitiv, nilai perak pada perdagangan Kamis (6/8/2026) berakhir pada posisi US$ 61,48 per troy ons. Harganya terperosok 0,96%.

Langkah koreksi ini mematahkan tren positif perak yang melonjak tiga hari berturut-turut sebelumnya dengan kenaikan sebesar 7,7%.

Nilai perak masih tertahan di zona merah pada hari ini. Pada Jumat (7/8/2026) jam 06.47 WIB, nilai perak melemah 0,08% ke angka US$ 61,43 per troy ons.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua