Nilai Tukar Rupiah Menguat Tipis Ketika IHSG Berakhir pada Zona Merah
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terangkat sedikit terhadap dolar AS pada sesi penutupan pasar Kamis (6/8), sedangkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diakhiri menipis.
Mata uang rupiah melonjak 10 poin atau 0,06% ke posisi Rp17.923 per dolar AS, sementara IHSG merosot 7,43 poin atau 0,12% ke level 6.343.
"Namun, para pedagang tetap berhati-hati karena kesepakatan tersebut belum berarti pembukaan kembali selat secara penuh; negosiasi mengenai biaya kargo, inspeksi, dan pengaturan keamanan yang lebih luas masih belum terselesaikan," kata Analis Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam risetnya.
Ibrahim menyebutkan salah satu sentimen luar negeri yang memengaruhi bursa bersumber dari berita Iran dan Oman yang dikabarkan sudah meraih kesepakatan mengenai koordinat rancangan rute pelayaran melintasi Selat Hormuz.
Perlintasan vital tersebut mengelola kisaran seperlima transaksi minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Prospek bertambahnya lalu lintas kapal tanker melintasi Selat Hormuz meredakan sebagian kekhawatiran atas hambatan suplai daya berkesinambungan yang sebelumnya memicu lonjakan harga minyak.
Merosotnya harga komoditas energi lantas memicu investor memotong ekspektasi atas pengetatan kebijakan moneter susulan oleh Federal Reserve Amerika Serikat.
Para pelaku pasar juga memperhatikan data tenaga kerja AS guna mendapatkan petunjuk atas arah kebijakan Federal Reserve.
Laporan ADP National Employment menampakkan perlambatan rekrutmen sektor swasta pada Juli, sedangkan laporan nonfarm payrolls menjadi fokus berikutnya.
Dari domestik, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 tercatat 5,29% secara tahunan, sedikit menurun dibanding 5,61% pada kuartal I, namun tetap melampaui estimasi pasar.
Lantaran hal tersebut, ekspansi ekonomi pada paruh pertama 2026 mencapai 5,45%.
Ibrahim memproyeksikan rupiah bakal bergerak naik turun pada penutupan berikutnya dan berpotensi terdepresiasi dalam kisaran Rp17.920-Rp17.970 per dolar AS.
Pada lantai bursa, sebanyak 278 saham terangkat, 354 saham terkoreksi, serta 331 saham stagnan.
Angka transaksi menyentuh Rp18,1 triliun dengan volume 53,4 miliar saham, sedangkan beberapa indeks utama ikut melemah, yakni LQ45 sebesar 0,49%, JII 0,49%, IDX30 0,46%, dan MNC36 0,39%.
Sektor yang berada di zona merah mencakup konsumer non-siklikal, keuangan, infrastruktur, properti, teknologi, dan kesehatan.
Malahan, sektor energi, konsumer siklikal, transportasi, serta industri melaju positif.
Sementara saham dengan lonjakan tertinggi di antaranya TMPO, PDES, dan FAST, sedangkan TALF, BACH, dan ROCK menjadi saham dengan penurunan paling dalam.