Rupiah Menguat Usai Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29 Persen Pada Kuartal II

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Kamis, 06 Agustus 2026
Rupiah Menguat Usai Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29 Persen Pada Kuartal II
Rupiah Menguat Usai Ekonomi Indonesia (FOTO: NET)

JAKARTA - Mata uang rupiah sukses mengakhiri perdagangan Rabu (5/8/2026) pada zona hijau usai memperoleh dorongan dari dua faktor bersamaan, yakni menurunnya indeks dolar Amerika Serikat (AS) dan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melampaui perkiraan para pelaku pasar.

Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi menyampaikan, penurunan dolar AS dipicu oleh meredanya kekhawatiran pasar mengenai perselisihan geopolitik di wilayah Timur Tengah.

Harapan investor meningkat setelah pihak Qatar menyatakan bahwa para penengah telah mencatatkan kemajuan pada usaha menghentikan peperangan, sehingga memicu penurunan harga minyak internasional.

"Harga minyak Brent bahkan ditutup di bawah USD80 per barel untuk pertama kalinya sejak 13 Juli. Kondisi ini membuat tekanan terhadap dolar AS berkurang dan mendorong investor kembali masuk ke aset negara berkembang, termasuk rupiah," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Rabu (5/8/2026).

Berdasarkan keterangan Ibrahim, sentimen positif tersebut hadir usai Presiden AS Donald Trump bersama Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani mendiskusikan langkah menyempitkan perbedaan antara Washington dan Teheran lewat sambungan telepon.

Meskipun Trump sebelumnya menyatakan negosiasi dengan pihak Iran telah dimulai, otoritas Iran kembali menegaskan belum terdapat pembicaraan resmi yang berlangsung.

Walau demikian, pasar tetap merespons positif peluang dicapainya penyelesaian konflik yang lebih langgeng.

Di sisi lain, para pelaku pasar saat ini memindahkan perhatian pada serangkaian data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dianggap bakal menjadi penentu arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed.

"Investor menunggu data ADP Employment Change dan Nonfarm Payrolls akhir pekan ini. Bila data tenaga kerja menunjukkan pelemahan, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed berpotensi semakin berkurang sehingga memberi ruang bagi dolar AS untuk kembali melemah," ujar Ibrahim.

Dia memaparkan, perkiraan konsensus pasar menilai penambahan tenaga kerja sektor swasta versi ADP pada Juli cuma mencapai 70.000 orang, merosot jika dibandingkan 98.000 pekerjaan yang tercipta pada Juni.

Laju perlambatan tersebut dinilai sanggup memperkuat perkiraan bahwa tekanan inflasi di AS mulai menyurut.

Sedangkan dari dalam negeri, sentimen positif datang dari publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2026 mencapai 5,29% secara tahunan (year on year/YoY).

Pencapaian tersebut melampaui proyeksi mayoritas ekonom yang sebelumnya memperkirakan pertumbuhan ekonomi cuma berada pada kisaran 4,8%-4,9%.

Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku tercatat sebesar Rp6.552,1 triliun, sementara PDB atas dasar harga konstan mencapai Rp3.576,2 triliun.

Selain tumbuh secara tahunan, perekonomian Indonesia turut meningkat 3,73% dibanding kuartal sebelumnya (quarter to quarter/Q-to-Q).

Sementara itu secara kumulatif semester I/2026, perekonomian tumbuh 5,45% jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Data tersebut seketika mematahkan kekhawatiran pasar yang sebelumnya memperkirakan ekonomi domestik bakal mengalami perlambatan akibat tingginya biaya produksi, ketidakpastian global, kebijakan moneter yang masih ketat, hingga tekanan pada belanja pemerintah.

"Data pertumbuhan ekonomi yang berada di atas ekspektasi memberikan sinyal bahwa fundamental ekonomi domestik masih cukup kuat. Hal ini menjadi salah satu faktor yang menopang penguatan rupiah di tengah ketidakpastian global," kata Ibrahim.

Di samping itu, tingkat inflasi yang tetap terkontrol turut menjadi faktor penyokong stabilitas pasar keuangan.

Sebelumnya, BPS melaporkan Indonesia mengalami deflasi bulanan sebesar 0,14% pada Juli 2026, sedangkan inflasi tahunan tercatat sebesar 2,88%.

Menurut Ibrahim, perpaduan pertumbuhan ekonomi yang kuat, inflasi yang masih terkendali, serta mulai meredanya tekanan dari luar menjadi modal positif bagi kestabilan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek.

Pada penutupan perdagangan Rabu (5/8/2026), mata uang rupiah ditutup menguat 93 poin menuju Rp17.934 per USD, setelah sempat menguat hingga 115 poin.

Posisi tersebut lebih baik dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada pada level Rp18.030 per USD.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua