Analisis Faktor Utama Penyebab Depresiasi Nilai Tukar Kurs Rupiah

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Rabu, 05 Agustus 2026
Analisis Faktor Utama Penyebab Depresiasi Nilai Tukar Kurs Rupiah
Depresiasi Nilai Tukar Kurs Rupiah (FOTO: NET)

JAKARTA - Mata uang domestik sepanjang tahun ini hingga akhir Juli tercatat merosot mendekati angka 8% terhadap dolar AS.

Langkah penaikan suku bunga acuan sebesar 100bps menjadi 5,75% pada periode Mei hingga Juni rupanya cuma sanggup menstabilkan posisi mata uang pada kisaran Rp18.000 per USD.

Kendati telah menyentuh Rp18.000 per USD yang merupakan titik terendah sejak krisis 1998, kondisi uang negara ini belum dapat dikategorikan krisis.

Krisis nilai mata uang umumnya ditandai oleh depresiasi yang sangat mendalam, yaitu paling sedikit 10% dalam kurun satu bulan atau 25 hingga 30% dalam jangka satu tahun.

Pihak otoritas acap kali menerangkan bahwa kemerosotan mata uang bersumber dari sentimen luar seperti ketegangan geopolitik, lonjakan harga minyak bumi, penguatan USD, naiknya imbal hasil obligasi AS, hingga faktor siklus tahunan.

Apabila pemicu utama penurunan mata uang adalah dinamika eksternal, mestinya deretan mata uang di wilayah Asia Tenggara turut tertekan dalam porsi yang setara.

Pada kenyataannya, di periode yang berjalan Indeks Dolar cuma terangkat kisaran 1,7%, jauh lebih rendah bila dibentangkan dengan koreksi nilai uang domestik yang menembus 8%.

Di kurun waktu serupa, mata uang Ringgit tercatat cuma terkikis kisaran 1%, sementara Dong terbilang cukup stabil.

Kondisi ini membuktikan bahwa pelemahan mata uang nasional tak dapat dipahami hanya dari sudut pandang sentimen global semata.

Dinamika nilai aset keuangan seperti kurs mata uang untuk rentang pendek berkarakter acak sehingga cukup sukar membedakan faktor pemicunya.

Guna menilai apakah dorongan luar atau dalam negeri yang menggerakkan pelemahan mata uang, langkah perbandingan perlu dilakukan terhadap pergerakan kurs negara tetangga dalam skala jangka panjang, misalnya kurun 10 hingga 20 tahun.

Dalam rentang 10 tahun terakhir, uang nasional terdepresiasi sebesar 37%.

Sementara itu Peso dan Dong masing-masing tergerus 30% serta 18%.

Penurunan Ringgit terbilang minim di angka 2%, sedangkan Baht justru mampu menguat sebesar 5%.

Memasuki horizon 20 tahun, mata uang nasional terdepresiasi kisaran 98%, menjadi yang paling lemah di antara kelompok mata uang kawasan.

Nilai Dong tergerus sekitar 64%, Peso kisaran 19%, serta Ringgit berada di angka 12%.

Sebaliknya, Baht kembali menunjukkan penguatan sebesar 11%.

Satu hal yang konsisten pada periode 10 maupun 20 tahun yakni mata uang nasional melemah jauh lebih dalam dibanding uang negara kawasan lainnya.

Kendati nilai mata uang Peso dan Dong juga terkoreksi, tingkat penurunannya tidak separah yang dialami Indonesia.

Amat terang bahwa faktor luar negeri maupun siklus musiman tak cukup kuat untuk menguraikan kecenderungan depresiasi jangka panjang mata uang ini.

Bahkan kurs tetap saja melemah meski sentimen luar sangat mendukung melalui masifnya aliran modal asing yang masuk serta penurunan suku bunga global pada rentang 2010 hingga 2019.

Pangkal masalah dari terus merosotnya nilai kurs ini berakar dari persoalan fondasi ekonomi, yaitu masih rendahnya daya saing nasional terutama pada industri pengolahan.

Negara ini memang unggul dalam penjualan barang mentah, namun tertinggal pada komoditas manufaktur bernilai tambah tinggi.

Defisit transaksi berjalan yang berulang menandakan bahwa kebutuhan devisa nasional acap kali melebihi kemampuan ekonomi dalam menghasilkan devisa.

Salah satu indikator daya saing adalah tingkat output per tenaga kerja.

Ukuran produktivitas per pekerja nasional pada 2023 menyentuh angka US$30.

Angka produktivitas pekerja Malaysia serta Thailand berada di atasnya, masing-masing menyentuh US$76 dan US$39.

Sedangkan produktivitas pekerja Filipina dan Vietnam berada di bawah nasional, yakni sebesar US$26 dan US$25.

Walaupun produktivitas pekerja Vietnam tercatat lebih rendah, laju kejarannya terhadap angka nasional terbilang amat cepat.

Pada tahun 2000, produktivitas pekerja Vietnam bernilai US$7,6 atau tidak sampai separuh dari angka produktivitas pekerja nasional.

Dalam kurun 2000 sampai 2023, produktivitas pekerja Vietnam tumbuh sebesar 5,3% tiap tahun dibanding 2,9% per tahun milik nasional, hingga produktivitas Vietnam pada 2023 telah menyentuh 83% dari tingkat produktivitas pekerja nasional.

Lonjakan produktivitas pekerja Vietnam terlihat jelas pada keunggulan produk serta pertumbuhan performa ekspornya.

Di tahun 2000, capaian ekspor nasional berada di angka USD68 miliar, alias empat kali lipat dari ekspor Vietnam yang belum genap USD17 miliar.

Pada tahun 2025, angka penjualan luar negeri Vietnam telah menyentuh USD475 miliar, atau hampir 1,7 kali lipat dibandingkan ekspor nasional sebesar USD283 miliar.

Vietnam sukses memperkuat sektor industri serta melangkah lebih dalam pada rantai pasok dunia, sedangkan ekspor nasional masih bergantung pada komoditas mentah.

Komparasi bersama Vietnam memperlihatkan bahwa penurunan mata uang Dong justru mendongkrak keunggulan ekspor, sangat berbanding terbalik dengan koreksi mata uang nasional yang dipicu oleh kekalahan bersaing di pasar global.

Kendati secara fondasi ekonomi nasional berada di bawah Malaysia, Thailand, serta Vietnam, sektor keuangan domestik amat memikat pemodal dunia.

Selama kurun 2010 hingga 2019, suntikan modal portofolio ke instrumen saham dan surat utang negara menembus angka lebih dari USD82 miliar.

Namun, mata uang nasional tetap saja merosot dari posisi kisaran Rp9.400 per USD di penghujung 2009 menjadi sekitar Rp14.100 pada akhir 2019, alias terdepresiasi sebesar 50%.

Hal tersebut menandai bahwa derasnya arus modal keuangan saja tidak sanggup mengangkat nilai kurs apabila fondasi dasar ekonominya rapuh.

Lantaran belum sanggup membenahi persoalan dasar, arah kebijakan ekonomi acap kali bertumpu pada dorongan fiskal serta moneter demi menjaga laju pertumbuhan.

Dalam jangka pendek, bantuan makro memang mampu memacu roda perekonomian, seperti yang terlihat pada lonjakan pertumbuhan PDB di kurun akhir 2025 dan awal 2026.

Akan tetapi untuk rentang panjang, dorongan makro yang tidak diiringi perbaikan kapasitas pekerja hanya bakal memicu inflasi, pembengkakan defisit neraca pembayaran, serta pelemahan nilai tukar.

Langkah injeksi makro ini contohnya tampak dari laju pertumbuhan pasokan uang nasional (M2) periode 2011 hingga 2024 yang rata-rata mencapai 10% saban tahun, berada di atas ekspansi uang Malaysia serta Thailand pada periode sama yang rata-rata di kisaran 6% per tahun.

Sementara pertumbuhan pasokan uang di Filipina dan Vietnam masing-masing menyentuh 11% dan 14% tiap tahun.

Sama halnya dengan kondisi nasional, kedua negara tersebut turut mengalami pelemahan nilai mata uang yang lebih dalam jika disandingkan dengan Malaysia dan Thailand.

Negara yang memegang ketertiban moneter serta pembenahan fondasi yang lebih memadai, layaknya Malaysia dan Thailand, cenderung memiliki nilai kurs yang jauh lebih stabil.

Kesimpulannya, penurunan mata uang nasional bukan sekadar efek dari tekanan luar, pelarian modal, atau siklus tahunan semata.

Pemicu utama dari tergerusnya nilai kurs adalah belum berhasilnya pembenahan fondasi ekonomi nasional: kapasitas kerja yang rendah, industri manufaktur yang rapuh, komoditas ekspor bernilai tambah yang terbatas, serta ketergantungan terhadap dorongan makro.

Apabila pola arah kebijakan makro serupa terus dipertahankan, nilai kurs bakal terus merosot dari tahun ke tahun.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua