Harga Emas Mengalami Konsolidasi Akibat Berita AS Iran Serta Prospek Fed

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Selasa, 04 Agustus 2026
Harga Emas Mengalami Konsolidasi Akibat Berita AS Iran Serta Prospek Fed
Harga Emas Mengalami Konsolidasi (FOTO: NET)

WASHINGTON - Emas mengalami kesulitan dalam mempertahankan peningkatan awalnya pada hari Senin saat para pelaku pasar mempertimbangkan kabar AS–Iran yang saling bertolak belakang.

Ekspektasi Bank Sentral AS yang cenderung ketat terus menekan potensi kenaikan menjelang rilis agenda ekonomi AS yang sangat padat.

Indikator momentum memperlihatkan tanda konsolidasi, dengan nilai RSI mendekati zona netral dan ADX memperlihatkan berkurangnya kekuatan dari tren.

Emas (XAU/USD) memangkas penguatannya usai mengawali pekan dengan celah penguatan lantaran para pembeli kurang mempunyai keyakinan di tengah kabar AS–Iran yang saling bertolak belakang dan sikap waspada menjelang data tenaga kerja penting AS.

Saat laporan ini disusun, XAU/USD diperdagangkan pada kisaran US$4.036, turun dari titik tertinggi harian pada posisi US$4.084.

Pemimpin AS Donald Trump menyampaikan sepanjang akhir pekan bahwa dia telah membatalkan rencana serangan ke Iran, dengan diskusi diperkirakan bakal dimulai pada hari Senin.

Pengumuman itu mendongkrak harapan munculnya kesepakatan damai serta membuat nilai Minyak merosot tajam, dengan West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi lebih dari 8% saat laporan ini disusun.

Penurunan pada nilai Minyak meredakan kecemasan inflasi jangka pendek dan menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi lebih rendah, sehingga memberi dorongan bagi Emas.

Akan tetapi, hambatan pasokan di Selat Hormuz mempertahankan nilai Minyak tetap di atas posisi sebelum bentrokan.

Perwakilan Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei juga menyampaikan bahwa "Teheran saat ini tidak sedang melakukan pembicaraan dengan Washington," membuat para pelaku pasar tetap ragu akan peluang tercapainya kesepakatan dan pembukaan kembali secara penuh Selat tersebut.

Dampaknya, kecemasan pada inflasi secara luas tetap bertahan, dan para pelaku pasar masih melihat peluang tinggi bahwa Bank Sentral AS bakal menaikkan tingkat suku bunga pada tahun ini.

Kepala Fed New York John Williams menyampaikan pada hari Senin bahwa "kebijakan suku bunga masih berada pada posisi yang tepat untuk mencapai inflasi 2%," sembari menambahkan bahwa "jika inflasi tidak berada di jalur menuju 2%, The Fed akan turun tangan untuk memulihkan stabilitas harga."

CME FedWatch Tool memperlihatkan bahwa para pelaku pasar memperhitungkan probabilitas 65% untuk kenaikan tingkat suku bunga pada bulan September.

Prospek ketat ini terus membatasi penguatan Emas walaupun Dolar AS (USD) melemah secara umum, yang dipicu oleh tindakan otoritas Jepang demi menopang Yen.

Pada kalender ekonomi AS, Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) Manufaktur ISM dijadwalkan terbit pada hari Senin, berlanjut dengan data Lowongan Kerja JOLTS pada hari Selasa, Perubahan Ketenagakerjaan ADP pada hari Rabu serta Nonfarm Payrolls (NFP) pada hari Jumat.

Data tersebut dapat menyajikan petunjuk anyar terkait arah kebijakan moneter Bank Sentral AS.

Pemeriksaan teknis: RSI Netral Menandakan Konsolidasi di Atas US$4.000

Dalam grafik harian, XAU/USD menjaga tren yang terbatas sebab diperdagangkan di bawah Simple Moving Average (SMA) 21 hari serta jauh di bawah SMA 50 hari dan 100 hari.

Formasi ini menandakan tren besar masih berada dalam tekanan, walau Relative Strength Index (RSI) di angka 46 sudah merangkak naik menuju netral dan Average Directional Index (ADX) di angka 27 mengindikasikan melemahnya kekuatan tren usai penurunan terkini.

Pada sisi atas, batas hambatan terdekat berada di SMA 21 hari pada kisaran US$4.065, disusul oleh batas yang lebih penting di SMA 50 hari sekitar US$4.174, dengan SMA 100 hari di US$4.416 yang memperkuat batas penurunan secara umum.

Pada sisi bawah, batas penopang awal sejajar dengan level mendatar di US$4.000, sebelum landasan struktur yang lebih dalam pada US$3.850, dan penutupan harian di bawah US$4.000 berpotensi membuka kembali jalur menuju batas bawah wilayah tersebut.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua