Rupiah Kembali Terapresiasi Usai Intervensi Pasar Valas Oleh AS Jepang

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Selasa, 04 Agustus 2026
Rupiah Kembali Terapresiasi Usai Intervensi Pasar Valas Oleh AS Jepang
Rupiah Kembali Terapresiasi (FOTO: NET)

JAKARTA - Penutupan transaksi valuta asing pada awal minggu memperlihatkan penguatan kurs rupiah yang menenangkan.

Mata uang nasional berhasil melanjutkan tren positif selama dua hari berturut-turut pada zona hijau, memanfaatkan kelesuan yang melanda mata uang Amerika Serikat (AS) pasca intervensi gabungan Washington dan Tokyo di pasar mata uang asing.

Merujuk data dari Sumbernya pada penutupan Senin (3/8/2026), nilai tukar rupiah terangkat 0,06 persen menuju level Rp17.980 per US$.

Meskipun lonjakannya terbilang menipis dibandingkan saat pembukaan pagi yang sempat melesat 0,22 persen ke angka Rp17.950, rupiah terbukti mampu membentengi diri dari gempuran mata uang AS.

Di sepanjang sesi perdagangan hari ini, pergerakan kurs rupiah berada di kisaran Rp17.950 hingga Rp17.995 per US$.

Kendati sempat merambat mendekati batas psikologis penting Rp18.000, ketahanan rupiah terbilang kuat untuk mengunci posisi di zona hijau.

Pencapaian ini meneruskan tren positif pada Jumat (31/7/2026) lalu, ketika rupiah terangkat 0,47 persen menuju level Rp17.990 per US$.

Pendorong utama keperkasaan mata uang regional hari ini bersumber dari mancanegara.

Indeks mata uang AS (DXY) --yang mengukur kekuatan greenback atas enam mata uang utama dunia-- terpantau merosot 0,12 persen ke level 99,793 pada jam 15.00 WIB.

Jatuhnya indeks greenback ke bawah ambang batas psikologis 100 tersebut bukan tanpa alasan.

Sikap pelaku pasar mendadak berbalik setelah pemegang otoritas moneter Jepang dan AS mengambil tindakan tegas melakukan intervensi bersama pada pasar valas demi menyokong kurs yen.

Langkah intervensi bersama itu membakar gairah mata uang yen sekaligus merontokkan indeks dolar AS hingga terkoreksi lebih dari 1,5 persen selama pekan lalu.

Kondisi inilah yang dimanfaatkan mata uang rupiah untuk tetap bertahan bergerak di jalur positif.

Dari dalam negeri, perhatian para pemodal saat ini tertuju pada pengumuman data makroekonomi terbaru dari Sumbernya.

dari Sumbernya mengumumkan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juli 2026 mengalami deflasi sebesar 0,14 persen secara bulanan (month-to-month).

Pencapaian ini berbalik arah dibanding periode Juni yang sempat mencatatkan inflasi 0,44 persen.

Secara tahunan (year-on-year), laju inflasi domestik makin melandai pada angka 2,88 persen di Juli, turun dibanding 3,34 persen pada bulan sebelumnya.

Hasil ini tergolong lebih rendah jika dibandingkan dengan ekspektasi proyeksi pasar yang memprediksikan inflasi bulanan sebesar 0,11 persen serta inflasi tahunan 3,2 persen.

Namun demikian, laju apresiasi mata uang rupiah tidak dapat melaju lebih cepat.

Masalahnya, tekanan datang dari ranah eksternal di mana neraca perdagangan nasional dilaporkan masih terjebak di area defisit.

Padahal, performa ekspor pada bulan Juni lalu sempat tumbuh meyakinkan 8,8 persen secara tahunan, membalikkan penurunan 5,73 persen di bulan Mei.

Peningkatan ekspor yang belum sanggup menghapus defisit neraca dagang menjadi penghambat yang membatasi ruang penguatan rupiah pada transaksi hari ini.

Perpaduan antara inflasi yang melandai dan lebar defisit neraca dagang kini menjadi pertimbangan rumit bagi Bank Indonesia (BI).

Arah kebijakan moneter BI ke depan dipastikan sangat bergantung pada sejauh mana kestabilan rupiah dapat dijaga di tengah gejolak global.

Para penentu kebijakan di bank sentral diprediksi tidak akan terburu-buru mengambil keputusan.

Bank Indonesia tetap memantau secara cermat dinamika pasokan devisa, pergerakan arus modal asing (capital flow), serta arah suku bunga global sebelum menentukan besaran suku bunga acuan (BI-Rate) mendatang.

Bagi para pelaku pasar, bertahannya rupiah di bawah level Rp18.000 per US$ menjadi sinyal positif jangka pendek, kendati kewaspadaan atas tantangan neraca perdagangan tetap harus dijaga ketat.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua