Harga Emas Menguat Saat Dolar Melemah Meredam Kekhawatiran Suku Bunga Fed

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Senin, 03 Agustus 2026
Harga Emas Menguat Saat Dolar Melemah Meredam Kekhawatiran Suku Bunga Fed
Harga Emas Menguat Saat Dolar Melemah (FOTO: NET)

WASHINGTON - Nilai emas melanjutkan tren kenaikan pada hari Senin, di mana penyusutan dolar AS memberi sokongan bagi logam mulia usai nilai minyak jatuh akibat mereda tensi di kawasan Timur Tengah.

Namun demikian, para pemodal tetap bersikap waspada mendahului rangkaian data perekonomian AS yang padat pekan ini, yang berpotensi menentukan arah garis kebijakan Federal Reserve.

Pada pukul 08:43 WIB, XAU/USD terangkat 0,5% menuju $4.062,41 tiap troy ons, sedangkan Gold Futures naik 0,3% menuju $4.117,35.

XAG/USD terangkat 0,6% menuju $57,98 tiap troy ons, sementara XPT/USD naik 0,3% menuju $1.650,18.

Emas memperoleh sokongan usai Trump menyebutkan bahwa Iran beserta negara-negara Timur Tengah lainnya memohon tambahan waktu demi menyelesaikan kesepakatan yang bakal membuka kembali Selat Hormuz sekaligus menghapus ancaman nuklir Teheran.

Pernyataan ini memicu pasar guna mengurangi perkiraan bakal timbulnya eskalasi langsung di area tersebut.

Ulasan tersebut menjadikan harga minyak merosot lebih dari $5 per barel pada awal transaksi Asia, meredam kecemasan bahwa gangguan pasokan yang lama bakal mempertahankan inflasi tetap tinggi serta memperkokoh alasan bagi kebijakan moneter yang lebih ketat.

US Dollar Index pun tetap tertekan, terperosok lebih dalam di bawah tingkat 100 menuju kisaran 99,7, menjadikan emas yang dinilai dalam dolar kian memikat bagi pembeli mancanegara sekaligus memberi dorongan positif tambahan bagi nilai emas.

Walau emas terangkat pada hari Senin, para pemodal tetap bersikap waspada usai tiga pejabat Federal Reserve yang memberikan suara berbeda pada rapat kebijakan pekan lalu kembali menegaskan pada hari Jumat bahwa tingkat inflasi masih terlampau tinggi.

Pihaknya berpandangan bahwa peningkatan suku bunga dalam waktu dekat diperlukan demi menjaga tingkat kepercayaan bank sentral dalam memadamkan inflasi.

Tingkat suku bunga yang lebih tinggi secara umum menekan komoditas tanpa imbal hasil seperti halnya emas, sebab memperbesar biaya peluang dalam menyimpan logam mulia tersebut.

Tony Sycamore, analis pasar senior dari Sumbernya, menyampaikan bahwa performa emas belakangan ini belum memenuhi harapan walau dirinya mempunyai sudut pandang yang positif.

"Bias kami adalah harga emas akan bergerak lebih tinggi dalam beberapa pekan terakhir, namun pergerakan harganya sangat mengecewakan," kata Sycamore.

Sycamore menyampaikan emas mesti menembus penahanan tren penurunan di kisaran $4.110-$4.120, disusul oleh tingkat puncak awal Juli pada $4.202, demi memastikan bahwa suatu fondasi telah tercipta di atas tingkat terendah akhir Juni pada $3.942 serta pemulihan yang lebih luas tengah berjalan.

Hingga masa itu, dirinya menyampaikan risiko pengujian kembali tingkat penopang $3.942 kian meningkat.

Pasar saat ini mengarahkan perhatian pada serangkaian data AS yang padat pekan ini, mencakup data lowongan kerja JOLTS, laporan penggajian swasta ADP, klaim pengangguran mingguan, hingga laporan nonfarm payrolls hari Jumat, guna memperoleh petunjuk teranyar mengenai tindakan kebijakan Federal Reserve mendatang.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua