Nilai Tukar Rupiah Tertekan Oleh Isu Timur Tengah Dan Kepemimpinan BI.

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Senin, 03 Agustus 2026
Nilai Tukar Rupiah Tertekan Oleh Isu Timur Tengah Dan Kepemimpinan BI.
Nilai Tukar Rupiah Tertekan (FOTO: NET)

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) merekam pelemahan sepanjang sepekan terakhir di tengah kian maraknya ketidakpastian mancanegara.

Kendati mampu terapresiasi pada akhir sesi transaksi harian, beban terhadap mata uang lokal masih dipengaruhi oleh perpaduan sentimen internasional maupun domestik, mulai dari memanasnya pertikaian di Timur Tengah sampai pada pergeseran kepemimpinan di Bank Indonesia (BI).

Mengutip laporan dari Sumbernya, rupiah pada pasar spot menguat sebesar 0,49% secara harian menuju level Rp 18.022 per dolar AS pada hari Jumat (31/7/2026).

Namun secara periodik mingguan, mata uang Indonesia tetap melemah 0,32% jika dibandingkan posisi Rp 17.963 per dolar AS pada Jumat (24/7/2026).

Sementara itu, mengacu pada acuan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah menguat 0,11% secara harian menuju level Rp 18.058 per dolar AS.

Meski demikian, dalam kurun waktu sepekan rupiah tertekan 0,47% dari kedudukan Rp 17.973 per dolar AS pada Jumat (24/7/2026).

Pengamat Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi mengutarakan, pelemahan rupiah sepanjang sepekan terakhir dipicu oleh perpaduan faktor internasional dan dalam negeri yang memengaruhi sentimen para pelaku pasar.

Para pelaku pasar, menurutnya, senantiasa mengamati perkembangan situasi politik global di Timur Tengah setelah pihak Iran meluncurkan sejumlah rudal balistik ke arah pasukan AS di wilayah tersebut.

Ketegangan geopolitik tekan rupiah

Ibrahim menerangkan, kendati serangan tersebut dapat dipatahkan oleh pihak militer AS, peristiwa itu kembali meningkatkan kekhawatiran para pemilik modal terhadap stabilitas di wilayah tersebut.

“Meskipun Komando Pusat AS menyatakan bahwa seluruh rudal berhasil dicegat, serangan ini menandai eskalasi baru setelah beberapa hari situasi relatif tenang, sekaligus memperkuat kekhawatiran bahwa jeda diplomatik yang sempat terjadi bisa segera buyar,” ujar Ibrahim, Jumat (31/7/2026).

Di luar faktor geopolitik, para investor juga mengamati hasil pertemuannya Federal Reserve (The Fed).

Otoritas bank sentral AS mengambil langkah mempertahankan suku bunga acuan berada pada rentang 3,50%–3,75%.

Meski demikian, penetapan tersebut diwarnai silang pendapat pada lingkup internal Federal Open Market Committee (FOMC).

Dari total anggota yang memiliki hak suara, sembilan orang mendukung penahanan suku bunga acuan, sedangkan tiga anggota lainnya menghendaki kenaikan sebesar 25 basis poin.

Tiga anggota yang memegang pandangan berbeda tersebut adalah Beth Hammack dari Cleveland Fed, Neel Kashkari dari Minneapolis Fed, serta Lorie Logan dari Dallas Fed, yang menilai peningkatan suku bunga tetap dibutuhkan guna membendung tekanan inflasi.

Di sisi lain, Ketua The Fed Kevin Warsh mengungkapkan kondisi pasar yang kian ketat telah menyokong upaya pengendalian angka inflasi.

Dirinya pun menegaskan bahwa bank sentral bersiap mengambil langkah antisipasi selanjutnya seandainya tekanan inflasi kembali melonjak.

Fokus pasar tertuju pada Bank Indonesia

Dari dalam negeri, perhatian para investor juga terfokus pada pergerakan struktur pimpinan Bank Indonesia pasca pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatannya selaku Gubernur BI.

Di tengah fase transisi ini, Bank Indonesia menyatakan ketegasan komitmennya untuk mengawal kestabilan perekonomian selaku basis pertumbuhan yang berkelanjutan.

Pihak BI juga terus memperkuat langkah stabilisasi nilai tukar rupiah demi menyokong pencapaian target inflasi serta menjaga kesinambungan kegiatan ekonomi.

“Pasar juga fokus terhadap ketidakpastian mengenai suksesi pimpinan bank sentral setelah Perry Warjito mengundurkan diri, tekanan fiskal daerah, dan hambatan ekspor mineral,” terang Ibrahim.

Dengan mempertimbangkan aneka sentimen tersebut, Ibrahim memprediksikan rupiah pada perdagangan sepekan ke depan akan bergerak pada kisaran Rp 17.920 sampai Rp 18.300 per dolar AS.

BI-Rate dan arus modal asing jadi perhatian

Selaras dengan hal tersebut, Muhammad Amru Syifa, Research and Development ICDX, berpendapat bahwa pergerakan rupiah dalam sepekan ke depan masih akan didominasi oleh faktor eksternal, khususnya naiknya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi mendorong lonjakan harga minyak dunia serta memicu permintaan atas dolar AS sebagai aset bernilai aman.

“Di sisi lain, komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi diharapkan dapat membantu meredam tekanan terhadap rupiah sehingga volatilitas tetap terkendali,” ujar Amru.

Menurut penjelasannya, dari ranah domestik, pelaku pasar bakal memperhatikan konsistensi langkah kebijakan Bank Indonesia dalam memelihara kestabilan nilai tukar serta menahan tingkat inflasi di tengah tingginya ketidakpastian global.

Pihak BI menegaskan fokus utamanya tetap ditujukan untuk stabilitas nilai tukar rupiah dengan mempertahankan BI-Rate pada kisaran 5,75%.

Selain itu, keberlanjutan masuknya aliran dana asing ke instrumen pasar keuangan dalam negeri turut menjadi indikator penting karena mampu memperkuat persediaan devisa dan menjaga ketahanan rupiah.

Dari sudut global, fokus para investor masih tertuju pada dinamika bentrokan Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi menyulut pergerakan tajam harga minyak dunia.

Pasar juga senantiasa memperhatikan arah suku bunga AS yang diperkirakan bertahan pada level tinggi lebih lama seiring masih tingginya imbal hasil obligasi negara AS.

“Kombinasi faktor-faktor tersebut berpotensi memperkuat dolar AS, mendorong aliran dana ke aset berbasis dolar, dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” jelas Amru.

Amru menaksir nilai tukar mata uang rupiah dalam sepekan mendatang akan berada pada kisaran Rp 18.000 hingga Rp 18.150 per dolar AS.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua