Rupiah Bergerak Menguat ke Rp18.074 per Dolar AS Perdagangan Jumat Ini

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Jumat, 31 Juli 2026
Rupiah Bergerak Menguat ke Rp18.074 per Dolar AS Perdagangan Jumat Ini
Rupiah Bergerak Menguat ke Rp18.074 per Dolar AS (FOTO: NET)

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar mata uang rupiah berbalik arah membaik atas dolar Amerika Serikat (AS) ketika pembukaan transaksi pasar spot, Jumat (31/7/2026), usai pada hari sebelumnya ditutup tertekan.

Berdasarkan data dari Sumbernya, rupiah terangkat 37 poin atau 0,20% menuju level Rp 18.074 per dolar AS.

Pada saat yang bersamaan, indeks dolar AS terpantau menanjak 0,34% ke posisi 100,201.

Pada transaksi sebelumnya, Kamis (30/7/2026), mata uang Garuda ditutup terkoreksi 38 poin atau 0,21% ke posisi Rp 18.111 per dolar AS.

Di pasar global, yen Jepang mendulang perhatian publik setelah membukukan lonjakan signifikan atas dolar AS.

Mengutip dari Sumbernya, kenaikan tersebut merupakan yang paling tinggi sejak 2022 serta memicu dugaan adanya aksi intervensi penguasa moneter Jepang demi memperkuat nilai mata uangnya.

Mata uang yen bahkan sempat melonjak hingga mendekati 3% ke posisi 158,34 per dolar AS.

Walaupun demikian, mata uang negeri Sakura tersebut masih berada di bawah posisi tertingginya dalam empat dekade terakhir yang sempat mendekati level 164 pada awal pekan ini.

Bukan cuma terhadap dolar AS, yen turut menguat lebih dari 2% atas euro dan poundsterling Inggris, serta mendekati 2% atas dolar Australia.

Para pelaku pasar saat ini tengah menanti ketetapan suku bunga paling gres dari Bank Sentral Jepang yang dijadwalkan diumumkan pada Jumat (31/7/2026).

Di sisi lain, putusan Federal Reserve yang memilih menahan tingkat suku bunga dinilai melunakkan keperkasaan dolar AS lantaran memicu keraguan pasar atas arah kebijakan bank sentral tersebut dalam meredam inflasi.

Kepala Strategi Valuta Asing dari Sumbernya, Daisaku Ueno, menuturkan bahwa laju yen yang amat kencang sukar dijelaskan tanpa hadirnya campur tangan otoritas.

"Sulit membayangkan hal lain selain intervensi mata uang yang menyebabkan penurunan hingga 5 yen dalam waktu sesingkat itu," ujar Ueno.

Ia menambahkan, bilamana penguatan yen memang didorong oleh tindakan intervensi, momen pelaksanaannya kemungkinan sengaja dipilih seusai rapat FOMC dan Bank Sentral Jepang guna menyajikan kejutan bagi pasar.

"Jika memang penguatan itu merupakan hasil intervensi, banyak pelaku pasar memperkirakan hal itu akan terjadi setelah pertemuan FOMC dan Bank Sentral Jepang, jadi mungkin ada niat untuk mengejutkan pasar," ungkapnya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua