Penduduk Jepang Terus Menyusut, Tembus Level Terendah dalam 42 Tahun

MO
Moch Febrianto

Editor: yoga susila utama

Jumat, 31 Juli 2026
Penduduk Jepang Terus Menyusut, Tembus Level Terendah dalam 42 Tahun
Penduduk Jepang Terus Menyusut (FOTO: NET)

JAKARTA - Otoritas Jepang menyampaikan bahwa populasi warga yang bermukim di wilayahnya berkurang sejumlah 917.000 jiwa sepanjang 2025 jika disandingkan dengan periode sebelumnya.

Secara keseluruhan, wilayah tersebut kini cuma mempunyai sebanyak 119.736.483 penduduk.

Data statistik yang disiarkan pihak Kementerian Dalam Negeri serta Komunikasi Jepang mengindikasikan, merosotnya jumlah penduduk secara tahunan itu menjadi yang paling masif semenjak pencatatan resmi data kependudukan dimulai pada tahun 1968.

Penyusutan ini pun mencatat sejarah untuk pertama kalinya dalam kurun waktu 42 tahun jumlah warga lokal di wilayah tersebut merosot hingga di bawah angka 120 juta jiwa.

Makin berkurangnya total populasi itu utamanya dipicu oleh penuaan demografi serta minimnya tingkat kelahiran di wilayah tersebut.

Transformasi kependudukan ini tetap menjadi salah satu hambatan jangka panjang paling besar bagi negara tersebut oleh karena memberikan pengaruh terhadap pasar tenaga kerja, fasilitas sosial, serta kemajuan ekonomi.

Penyusutan sebanyak 917.000 penduduk itu menjelma sebagai penurunan tahunan paling besar yang pernah tercatat dalam laporan resmi, menurut keterangan dari Sumbernya, Jumat (31/7/2026).

Angka resmi pemerintah memperlihatkan wilayah tersebut membukukan kira-kira 670.000 kelahiran sepanjang 2025, sementara itu kuantitas kematian mencapai sekitar 1,6 juta jiwa pada kurun waktu yang setara.

Sebaliknya, tatkala kuantitas warga lokal mengalami penurunan terus-menerus, populasi warga negara asing di wilayah tersebut justru menunjukkan kenaikan.

Kuantitas warga asing yang mengantongi izin tinggal bertambah sebanyak 354.000 jiwa jika dibandingkan masa sebelumnya sehingga menjadi 4.031.159 orang, berdasarkan catatan resmi pemerintah.

Dengan menyertakan populasi warga asing, keseluruhan penduduk di wilayah tersebut pada 2025 tercatat mencapai 123.767.642 jiwa.

Bank Sentral wilayah tersebut atau Bank of Japan (BOJ) mempertahankan tingkat suku bunga acuan di tengah peringatan jika inflasi inti di area itu berpotensi melampaui sasaran 2%.

Ketetapan bank sentral dalam mempertahankan tingkat suku bunga pada level 1% merupakan hasil dari penghitungan suara 8 berbanding 1.

Hanya, anggota dewan Hajime Takata menjadi satu-satunya pihak yang mengusulkan peningkatan suku bunga ke angka 1,25%.

Di dalam laporan mereka, sebagaimana merujuk pada Sumbernya, Jumat (31/7/2026), pihak BOJ membeberkan bahwa inflasi inti diprediksi bakal menanjak hingga berada secara nyata di atas 2% mulai paruh kedua tahun fiskal 2026, yang berjalan sejak bulan September hingga Maret.

Pihak BOJ menyatakan lonjakan upah yang berlangsung secara konsisten terhadap harga pasaran, peningkatan harga minyak mentah, serta pelemahan kurs yen sebagai elemen utama yang memicu kenaikan inflasi.

Selepas itu, inflasi diprediksi bakal kembali mendekati kisaran 2% seiring dengan penurunan harga komoditas minyak mentah.

Sementara itu, inflasi inti di wilayah tersebut pada bulan Juli dibukukan sebesar 1,6%.

Ketetapan mengenai suku bunga acuan ini diputuskan di tengah kabar bahwa pemerintah setempat melaksanakan intervensi di bursa valuta asing.

Serta bekerja sama dengan pihak berwenang Amerika Serikat dalam melaksanakan "rate check", yakni suatu prosedur yang lazimnya dilihat sebagai pertanda awal sebelum intervensi dijalankan.

Sebelum mengalami penguatan tajam, kurs yen sempat ditransaksikan pada kisaran 163 yen tiap satu dolar AS, kemudian melompat hingga mencapai level 157,96 yen tiap satu dolar AS.

"Pesan utama dari pergerakan semalam adalah bahwa Kementerian Keuangan Jepang (MOF) masih merasa tidak nyaman dengan pelemahan yen yang berlebihan. Batas toleransi kemungkinan lebih tepat dipandang sebagai kisaran 162-165 yen per dolar AS, bukan pada satu level tertentu," ujar Masahiko Loo, Senior Fixed Income Strategist di State Street Investment Management.

Ketetapan tersebut turut diambil di tengah isu yang semakin menguat bahwa Bank of Japan (BOJ) bakal mempercepat tempo kenaikan suku bunga.

Betul saja, sebelum kebijakan suku bunga tersebut diumumkan, sejumlah pejabat BOJ dilaporkan sangat terbuka terhadap potensi untuk menaikkan suku bunga lebih cepat apabila dibandingkan dengan proyeksi pasar saat ini, di mana prediksinya kenaikan tersebut dieksekusi setiap kurun waktu enam bulan sekali.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua