Kondisi Pasar Stabil Tanpa Penjualan Besar Saham Bank Usai Perry Mundur
JAKARTA - PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memandang pasar keuangan dalam negeri memperlihatkan daya tahan yang lebih solid dari dugaan usai mundurnya Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo.
Walau sempat diragukan dapat memicu tekanan berarti di pasar, respons para penanam modal pada hari perdana berjalan cukup terkendali.
Atensi pasar saat ini diprediksi bakal beralih ke proses pergantian kepemimpinan BI serta penentuan arah kebijakan yang hendak diambil ke depannya.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto menyampaikan pihak dari Sumbernya sebelumnya menduga pengunduran diri pimpinan bank sentral bakal memicu aksi pelepasan saham yang lebih masif, terutama pada emiten-emiten perbankan.
Akan tetapi, keadaan itu belum terwujud lantaran para pemodal masih memperlihatkan pendirian yang cukup positif.
"IHSG mengawali pekan dengan performa yang lebih tangguh dari dugaan kami. Kami sebelumnya memperkirakan pelepasan saham yang berarti, terutama pada saham bank, tetapi BMRI dan BBCA malah menguat, mencerminkan posisi penanam modal yang masih positif dalam jangka pendek," tutur Rully.
Berdasarkan penuturan Rully, tanggapan tersebut memperlihatkan para pelaku pasar belum bertindak secara berlebihan menghadapi pergantian pimpinan bank sentral.
Kendati demikian, situasi tersebut bukan berarti potensi risiko sudah benar-benar hilang.
Setelain respons awal yang tergolong tenang, perhatian para pemodal diprediksi akan terfokus pada tata cara pergantian kepemimpinan BI beserta kesinambungan kebijakan moneter yang bakal diterapkan guna memelihara stabilitas perekonomian serta pasar keuangan.
"Walau begitu, kami menilai potensi risiko ke depan kian tinggi, khususnya mengenai pandangan atas independensi BI yang berpeluang bergeser menuju pro-pertumbuhan. Kondisi ini dapat memicu gejolak pada aset dalam negeri," ungkap Rully.
Menurut Rully, sikap waspada penanam modal mulai terlihat dari koreksi nilai tukar Rupiah yang sempat melewati Rp18.000 per dolar AS sebelum kembali terkoreksi ke rentang Rp17.900 per dolar AS.
Di waktu yang sama, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) jangka waktu 10 tahun merangkak naik ke kisaran 7,35%, yang menggambarkan melonjaknya premi risiko di pasar.
Sementara itu, Fixed Income Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Jessica Tasijawa menyebutkan pasar obligasi dalam negeri saat ini masih memikul gejolak yang terbilang tinggi usai penyampaian pengunduran diri Gubernur BI.
Sebelum informasi tersebut disampaikan, pasar obligasi justru memperlihatkan pemulihan yang disokong aliran dana masuk penanam modal asing yang sudah menembus sekitar Rp16 triliun secara year to date (YTD), meningkatnya kebutuhan dari sektor perbankan, serta peran lembaga asuransi dan dana pensiun sebagai penyokong permintaan dalam negeri.
Namun, menurut Jessica, sentimen para pemodal berbalik usai pengumuman itu lantaran timbul keraguan atas keterbukaan, kredibilitas, dan tata kelola pada proses pergantian pimpinan BI.
Keadaan tersebut memicu kenaikan imbal hasil SBN sekitar 9 basis poin, sedangkan nilai tukar Rupiah kembali berkutat di rentang Rp18.000 per dolar AS.
"Kami percaya keterangan serta tindakan pemerintah dalam tahapan penetapan keputusan, khususnya mengenai penetapan Gubernur BI yang baru, bakal menjadi elemen yang amat menentukan arah kebijakan mendatang sekaligus memberikan kepastian bagi pasar Indonesia," kata Jessica.