Intip Proyeksi Kurs Rupiah Hari Ini Setelah Melemah Lima Hari Berturut
JAKARTA - Kurs nilai tukar rupiah masih terimpit beban setelah pengunduran diri Perry Warjiyo dari tampuk posisi Gubernur Bank Indonesia (BI).
Kelesuan ini memperpanjang rentetan tren negatif rupiah hingga mencapai lima hari perdagangan secara beruntun.
Mengutip data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup terkoreksi 0,41% ke kisaran Rp 18.083 per dolar AS pada Selasa (28/7/2026).
Sejalan dengan kondisi itu, acuan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pun terdepresiasi menuju angka Rp 18.088 per dolar AS, tergerus 0,52% dibanding angka sebelumnya di posisi Rp 17.995 per dolar AS.
Dengan pelemahan ini, rupiah kian mendekati level terendah sepanjang masa di angka Rp 18.190 per dolar AS yang pernah tercatat pada 8 Juni 2026.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyatakan, pasar sempat bereaksi negatif atas mundurnya Perry Warjiyo lantaran memperbesar ketidakpastian di tengah tertekannya rupiah, maraknya outflow dana asing, serta potensi kenaikan suku bunga global.
"Ketidakpastian ekonomi dalam negeri usai pengunduran diri Perry Warjiyo secara mendadak meningkatkan ketidakpastian pasar akibat transisi kepemimpinan yang baru di tengah depresiasi rupiah, derasnya outflow dana asing serta potensi tren kenaikan suku bunga global," ujar Ibrahim, Selasa (28/7/2026).
Akan tetapi, menurut Ibrahim, penetapan Destry Damayanti sebagai Pjs Gubernur BI menghadirkan angin segar optimisme bahwa bank sentral tetap berkomitmen memelihara stabilitas kurs rupiah, mengendalikan inflasi, serta menopang stabilitas sistem keuangan.
Ke depannya, fokus perhatian para pemodal akan terarah pada proses penetapan Gubernur BI definitif.
Ibrahim menuturkan, proses transisi yang tuntas tanpa hambatan serta terpilihnya tokoh yang bereputasi kredibel bakal menjadi faktor kunci demi menjaga tingkat kepercayaan pasar terhadap independensi Bank Indonesia.
Lalu, Ibrahim juga mencermati lembaga pemeringkat S&P Global Ratings yang turut bereaksi atas berita mundurnya Perry Warjiyo dari tampuk Gubernur Bank Indonesia.
Ibrahim mencatat, Sovereign Analyst di S&P Global Ratings, Rain Yin, mengungkapkan kepada media Bloomberg bahwa dirinya menilai pengunduran diri Perry Warjiyo tidak memiliki dampak langsung bagi sovereign rating Indonesia, walaupun hal tersebut dapat berdampak pada naiknya risiko terkait arah kebijakan negara.
Untuk sesi perdagangan hari ini (29/7/2026), Ibrahim memperkirakan sorotan pasar dunia akan tertuju pada hasil pengumuman rapat Federal Reserve.
Bank sentral AS diperkirakan memilih menahan suku bunga acuannya, walaupun arah panduan kebijakan mendatang masih dibayangi dinamika geopolitik dan laju inflasi.
Bukan cuma keputusan suku bunga, para investor pun menantikan keterangan Ketua The Fed yang anyar, Kevin Warsh, setelah sebelumnya memperoleh sinyal yang cenderung hawkish darinya sejak keputusan suku bunga bank sentral terakhir pada bulan Juni.
Warsh telah menegaskan komitmen Federal Open Market Committee (FOMC) dalam menjaga stabilitas harga.
“Kalender ekonomi minggu ini juga akan memberikan petunjuk mengenai kebijakan moneter, karena para pelaku pasar akan menerima data PDB AS kuartal kedua serta indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) bulan Juni yang merupakan indikator inflasi acuan bagi Fed,” lanjut Ibrahim.
Berdasarkan penuturan Ibrahim, penggabungan sentimen domestik maupun global tersebut akan menjadi penentu arah dinamika rupiah dalam rentang jangka pendek.
Ia memproyeksikan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini (29/7/2026) akan bergulir di kisaran Rp 17.960-Rp 18.020 per dolar AS.