Proyeksi Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Usai Tertekan Lima Hari Beruntun!

MO
Moch Febrianto

Editor: Yoga Susyla Utama

Rabu, 29 Juli 2026
Proyeksi Nilai Tukar Rupiah Hari Ini Usai Tertekan Lima Hari Beruntun!
Proyeksi Nilai Tukar Rupiah Hari Ini (FOTO: NET)

JAKARTA - Nilai tukar mata uang garuda masih berada dalam tekanan usai mundurnya Perry Warjiyo dari posisi Gubernur Bank Indonesia (BI).

Pelemahan tersebut memperpanjang tren negatif mata uang rupiah menjadi lima hari sesi perdagangan secara berturut-turut.

Merujuk data Bloomberg, rupiah pada pasar spot ditutup melemah 0,41% menuju level Rp 18.083 per dolar AS pada Selasa (28/7/2026).

Berjalan seirama, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga mengalami penurunan ke posisi Rp 18.088 per dolar AS, terkoreksi 0,52% bila dibandingkan posisi sebelumnya pada angka Rp 17.995 per dolar AS.

Melalui kemerosotan tersebut, posisi rupiah semakin mendekati rekor terendah sepanjang sejarah pada level Rp 18.190 per dolar AS yang sempat terukir pada 8 Juni 2026.

Pengamat mata uang serta komoditas Ibrahim Assuaibi menyampaikan, pasar sempat merespons negatif mundurnya Perry Warjiyo lantaran memicu peningkatan ketidakpastian di tengah melemahnya rupiah, maraknya aliran dana asing yang keluar, serta potensi kenaikan suku bunga global.

"Ketidakpastian ekonomi dalam negeri usai pengunduran diri Perry Warjiyo secara mendadak meningkatkan ketidakpastian pasar akibat transisi kepemimpinan yang baru di tengah depresiasi rupiah, derasnya outflow dana asing serta potensi tren kenaikan suku bunga global," ujar Ibrahim, Selasa (28/7/2026).

Namun demikian, menurut Ibrahim, ditunjuknya Destry Damayanti selaku Pjs Gubernur BI menghadirkan optimisme bahwasanya bank sentral tetap memiliki komitmen menjaga stabilitas kurs rupiah, mengendalikan laju inflasi, serta mempertahankan stabilitas sistem keuangan.

Untuk waktu mendatang, perhatian dari para investor bakal berfokus pada proses penunjukan Gubernur BI definitif.

Ibrahim menyampaikan, proses transisi yang dapat berjalan mulus serta terpilihnya sosok yang kredibel akan menjadi elemen krusial dalam merawat kepercayaan pasar atas independensi Bank Indonesia.

Selanjutnya, Ibrahim turut menyoroti lembaga pemeringkat S&P Global Ratings yang ikut memberikan respons atas kabar mundurnya Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia.

Ibrahim mencatat, Sovereign Analyst pada S&P Global Ratings, Rain Yin, mengutarakannya kepada media Bloomberg bahwa ia menilai mundurnya Perry Warjiyo tidak memberikan dampak secara langsung terhadap sovereign rating Indonesia, kendati hal tersebut dapat memicu peningkatan risiko terkait prospek kebijakan negara.

Mengenai perdagangan hari ini (29/7/2026), Ibrahim memproyeksikan perhatian pasar global bakal tertuju pada hasil pertemuan rapat Federal Reserve.

Bank sentral AS diproyeksikan tetap mempertahankan tingkat suku bunga acuannya, meskipun arah kebijakan ke depan masih diwarnai perkembangan dinamika geopolitik dan tekanan inflasi.

Selain penentuan suku bunga, para pemodal juga menantikan narasi dari Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, setelah sebelumnya memperoleh pandangan yang cenderung hawkish darinya semenjak keputusan suku bunga bank sentral terakhir pada bulan Juni.

Warsh telah menegaskan komitmen Federal Open Market Committee (FOMC) demi memelihara stabilitas harga.

“Kalender ekonomi minggu ini juga akan memberikan petunjuk mengenai kebijakan moneter, karena para pelaku pasar akan menerima data PDB AS kuartal kedua serta indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) bulan Juni yang merupakan indikator inflasi acuan bagi Fed,” lanjut Ibrahim.

Menurut Ibrahim, perpaduan sentimen dari dalam negeri maupun global tersebut bakal menjadi penentu arah dinamika pergerakan rupiah dalam jangka pendek.

Ia meramal nilai tukar rupiah pada sesi perdagangan hari ini (29/7/2026) bergerak pada rentang Rp 17.960-Rp 18.020 per dolar AS.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua